
Makan malam dirumah Rama berlangsung cukup menyenangkan, karena memang Laras sudah akrab dengan keluarga Rama.
Terdengar sesekali Papa menyindir agar Laras dan Rama segera meresmikan hubungan mereka.
Sedangkan Rama sesekali melirik Laras berharap Laras memberikan respon yang baik namun nyatanya Laras masih menanggapi biasa saja.
Seusai makan malam Rama mengantar Laras pulang karena memang sudah malam.
Kini keduanya tengah berada didalam mobil,
"Aku senang kamu tiba tiba datang kerumah." kata Rama masih tak menyangka Laras datang.
"Aku bosan dirumah jadi aku kerumahmu, kan aku juga udah janji mau masakin kamu." Laras tersenyum kearah Rama membuat Rama berdesir.
"Maaf ya kalau kamu nggak suka sama candaan keluargaku yang selalu ngode kita buat nikah."
"Iya nggak apa apa kali, santai aja lagian aku tau mereka cuma bercanda." kekeh Laras.
"Mereka serius kok." batin Rama lesu, lagi lagi Laras hanya menganggap ini semua candaan.
"Kamu yakin aku anter kerumah? nggak kerumah kakak kamu?" tanya Rama.
"Iya aku udah balik kok."
"Trus Zahra sama siapa?" tanya Rama.
"Katanya mau dicariin babysitter."
Rama hanya ber ohh ria saja karena tau mungkin Laras masih belum siap untuk bercerita dengan nya.
Mereka sudah sampai didepan rumah Laras.
"Thanks ya, malah dianterin padahal gue naik taksi aja nggak apa apa." kata Laras melepas seatbeltnya.
"Mana mungkin aku biarin kamu naik taksi malam malam gini."
"Ya ampun perhatian banget sih, oh ya sorry kalau aku nggak ngajak mampir, udah malem banget takut digrebek sama warga." kata Laras sambil terkekeh.
"Iya udah sana buruan masuk."
Laras membuka pintu mobilnya "Ras.." panggil Rama membuat Laras kembali menatap Rama.
"Kenapa?" tanya Laras.
"Nggak apa apa." kekeh Rama membuat Laras menggelengkan kepalanya heran.
Laras segera memasuki gerbang rumah setelah keluar dari mobil Rama.
__ADS_1
"Aku takut kamu nolak aku lagi Ras kalau seandainya aku nglamar kamu sekarang, dilihat dari respon kamu yang masih biasa aja." batin Rama yang kemudian melajukan mobilnya meninggalkan rumah Laras.
Laras terkejut saat membuka gerbang rumah dan ada mobil Dion disana.
Lebih terkejut lagi saat Laras akan memasuki rumah melihat Dion duduk dikursi depan rumah, terlihat pucat dan khawatir.
"Aku hubungi nomer kamu tapi nggak aktif." Dion terlihat senang melihat Laras pulang.
Laras ingat jika ponselnya mati karena baterainya habis.
"Ada apa mas? ponsel ku mati maaf." kata Laras.
"Zahra sakit dan dia nyebut nama kamu terus." ungkap Dion dengan raut wajah khawatir.
Seketika Laras juga ikut panik "Ya ampun mas, ayo kita kesana." kata Laras.
Keduanya pun memasuki mobil, Dion melajukan mobilnya cukup kencang hingga membuat Laras takut, namun juga Laras bisa mengerti Dion sangat mengkhawatirkan Zahra.
40 menit mereka sampai dirumah Dion, beruntung malam hari jadi jalanan sepi tidak macet.
Laras segera naik keatas menuju kamar Zahra, disana Laras cukup terkejut melihat Zahra berbaring lemas, dahinya diberi plester penurun demam terdengar sesekali merintih menyebut namanya.
"Zahra.." panggil Laras.
"Ante Ayas..." seketika Zahra membuka matanya, senang sekali Laras berada didepan nya.
"Ante Ayas lagi ada kerjaan sayang, maaf ya ninggalin Yaya." kata Laras.
"Ante jangan pergi lagi ya? biar Papa yang kerja yang cari uang buat kita." mohon Zahra.
"Iya Ante nggak akan pergi lagi, tapi Yaya juga harus janji harus sembuh yaa." kata Laras yang langsung diangguki oleh Zahra.
Setelah Zahra tidur kembali, Laras keluar dari kamar Zahra untuk menemui Dion, menanyakan apa yang harus dia lakukan sekarang karena Laras juga bingung. disatu sisi Ia tak bisa meninggalkan Zahra, disisi lain Ia tak bisa tinggal disini.
Laras mendekati Dion yang terlihat galau, duduk didepan televisi.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu, duduklah." kata Dion saat melihat Laras.
"Iya Mas," Laras duduk disamping Dion.
"Aku bener bener bingung sama apa yang harus aku lakuin karena posisinya memang menyulitkan sekali." kata Dion dan Laras hanya mengangguk.
"Kamu mau nggak nikah sama aku?" tanya Dion yang membuat Laras terkejut tak percaya.
"Ap-apa maksudnya Mas?" tanya Laras masih binggung.
"Hanya pernikahan sementara sampai Naya sadar, agar kamu bisa tinggal disini." jelas Dion.
__ADS_1
Laras terlihat sangat ragu, "Aku janji tidak akan melakukan apapun padamu, jika kamu tidak percaya kita bisa membuat perjanjian." kata Dion.
"Demi Zahra." satu lagi ucapan Dion yang benar benar membuat Laras runtuh.
"Ya semua memang demi Zahra." batin Laras.
"Ta-tapi aku nggak bisa jawab sekarang Mas." kata Laras.
"Baiklah, pikirkan malam ini aku akan menunggu jawaban mu besok pagi." kata Dion yang langsung diangguki Laras.
Keduanya pun memasuki kamar masing masing. Malam ini Laras tidak bisa tidur memikirkan ucapan Dion kakak iparnya.
Laras ingin menikah sekali seumur hidup dengan orang yang Ia cintai dan mencintainya , dan bersama Dion, Laras memang menyukai pria itu namun Laras juga sadar jika Dion itu hanya milik Naya Kakaknya dan dia tak mungkin bisa memiliki Dion seutuhnya.
Laras sadar itu, Dion meminta nya menikah karena memang mengkhawatirkan keadaan Zahra tidak lebih.
Laras mendesah pelan, Ia benar benar bingung dengan apa yang harus Ia lakukan.
Disatu sisi Laras ingin terus bersama Zahra tapi disisi lain Laras tak ingin jika suatu hari menjadi janda.
...
Paginya, Laras pergi kekamar Zahra dan melihat gadis kecil itu sudah terlihat ceria, Zahra sembuh. hanya karena Laras pulang Zahra sudah sembuh.
"Ante Ayas jangan pelgi lagi yaa? Zahra nggak akan nakal kok" kata Zahra.
"Iya, ante nggak akan pergi lagi, Yaya udah sembuh yaa." kata Laras.
"Udah dong Ante, kan Ante udah pulang." kata Zahra dengan sumringah.
Kini posisi Laras benar benar dilema sekali, apa ia menerima lamaran Dion saja, tak pedulu jika nantinya Laras akan menjadi janda asal Zahra baik baik saja.
Entahlah rasanya Laras masih belum siap bertemu dengan Dion dan memberikan jawaban.
Laras yakin pasti kini Dion tengah menunggu jawabannya, Laras akan sedikit mengulur waktu, membiarkan Dion berangkat kerja dan akan menjawabnya nanti sore saja saat Dion sudah pulang kerja.
Namun kenyataannya semua tak sesuai keinginan Laras karena tiba tiba Dion memasuki kamar Zahra dan masih mengenakan pakaian santai.
"Apa dia tak kerja?" batin Laras.
"Haloo kesayangan Papa yang udah sembuh." kata Dion senang melihat putrinya sudah ceria lagi.
"Ante Ayas udah pulang jadi Yaya sembuh." celoteh Zahra dengan ceria.
"Karena Zahra sembuh, papa bakal ngajak jalan jalan hari ini." kata Dion yang langsung membuat Zahra bersorak gembira.
Duh kenapa jadi gini sih batin Laras.
__ADS_1
TBC.