
Pagi ini Rama ke kantor dengan mood yang sedikit buruk. mengingat semalam Ia menyantap masakan Sella yang rasanya mirip dengan masakan Laras membuat Rama kembali merindukan Laras. Padahal Rama saat ini sedang berusaha move on dari Laras. namun hanya karena masalah sepele saja Ia jadi kembali mengingat Laras.
Baru saja Rama duduk, Sinta sudah memasuki ruangan, membawa satu map dan tersenyum centil ke arah Rama membuat Rama muak.
"Kamu terlihat lelah, apa ada masalah?" tanya Sinta menyodorkan map nya yang langsung dibuka oleh Rama.
Kertas kosong, Rama langsung tersenyum sinis tersenyum sinis.
"Jam 10 nanti akan ada meeting bersama pihak Cargil dan aku belum menyelesaikan data nya jadi aku meminta tanda tangan mu lebih dulu." jelas Sinta saat Rama tak kunjung memberikan tanda tangan dikertas kosong itu.
"Benarkah?" tanya Rama pura pura bodoh.
Sinta mengangguk, terlihat ada sesuatu yang Sinta sembunyikan dari Rama.
Rama kembali menutup berkas itu, membuat Sinta terkejut.
"Batalkan pertemuan kita nanti,"
"Ta-tapi itu pertemuan penting dan-" Sinta terdengar shock.
"Dan aku ingin kau membatalkan nya." balas Rama memotong ucapan Sinta.
"Karena aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Rama bangkit dari duduknya dan mendekati Sinta.
"Ada yang ingin kuberikan untukmu baby." bisik Rama membuat Sinta tersenyum senang.
"Dia ingin memberiku apa? apartemen mewah lagi atau mobil?" batin Sinta terlihat sangat senang.
Tanpa menunggu persetujuan dari Rama, Sinta langsung saja memeluk Rama, "Ya sudah ayo kita pergi sekarang." ajak Sinta membuat Rama mengangguk.
"Aku akan memberimu hadiah spesial dan tak akan pernah kau lupakan."
Sinta benar benar tak sabar dengan apa yang akan Rama berikan padanya.
Hingga mobil Rama berhenti disebuah rumah ditengah hutan,
"Kenapa di sini?" tanya Sinta heran.
"Kita masuk dulu baby, apa kau tidak merindukanku?" Rama mengelus pipi Sinta membuat Sinta tersenyum nakal.
"Tentu saja merindukan mu, sangat." Sinta meraba dada bidang Rama namun seketika Rama menyingkirkan tangan Sinta.
Keduanya keluar dari mobil, Sinta yang tak sabar berjalan lebih dulu memasuki rumah itu hingga mereka memasuki sebuah kamar yang ada dirumah itu.
Tak menunggu lama, Sinta langsung saja merangkul leher Rama hendak mencium Rama namun seketika Rama memalingkan wajahnya membuat Sinta mengerutkan alisnya heran.
"Aku ingin sesuatu yang berbeda." bisik Rama.
__ADS_1
Rama membawa tubuh Sinta dan membaringkan tubuh Sinta di ranjang, lalu Ia mengikat tangan Sinta di penyangga Ranjang tak lupa kaki Sinta juga di ikat.
"Apa kamu ingin bermain keras hari ini hingga mengikatku seperti ini?" tanya Sinta yang hanya diam saat Rama mengikatnya.
Rama tersenyum sinis,
"Pelacur seperti mu tak pantas menyentuhku lagi." ucap Rama membuat Sinta terkejut sangat terkejut.
"Apa maksudmu?" tanya Sinta bingung.
Rama mengeluarkan ponselnya lalu memberikan rekaman percintaan Sinta dengan Bima membuat wajah Sinta pucat seketika.
"Ak-aku bisa jelasin semua ke kamu." kata Sinta dengan nada memohon namun Rama hanya tersenyum sinis.
"Semua tidak seperti apa yang kamu pikirkan." Sinta masih mencoba menjelaskan.
Rama mengambil gunting di meja, Sinta pikir Rama akan membunuhnya namun nyatanya tidak, Rama menggunakan gunting itu untuk menyobek pakaian Sinta hingga Sinta polos tanpa sehelai benang apapun.
Dengan menggunakan kemoceng, Rama menjelajahi tubuh Sinta membuat Sinta merasa geli dan menginginkan lebih.
"Masuki aku Ram, masuki aku." mohon Sinta.
"Tentu saja Baby, aku akan melakukan nya." kata Rama membuat Sinta tersenyum senang.
Namun seketika senyum Sinta pudar, saat dua pria memasuki kamar itu dengan wajah lapar. Dua pria yang bekerja diperusahaan Rama sebagai office boy. mereka berdua terkenal perjaka tua yang tak laku dan selalu dipandang jijik oleh Sinta.
Sinta takut dan jijik melihat Joko dan Aryo nama dua pria itu.
"Seksi sekali Pak, dan menggairahkan." balas Aryo dengan tatapan nakal.
"Brengsek! apa maksudmu melakukan semua ini?" teriak Sinta pada Rama.
"Aku kasian dengan mereka berdua yang belum pernah merasakan tubuh pelacur cantik sepertimu. makanya aku akan memberikan tubuhmu gratis untuk mereka nikmati." kata Rama.
"Ram, kumohon jangan." Sinta terdengar histeris.
Rama mulai meletakan kamera tak jauh dari sana untuk merekam aktifitas panas mereka, tak memperdulikan teriakan Sinta yang memohon padanya.
"Nikmatilah, buatlah pelacur ini mendesah dan jangan berhenti sebelum kalian lelah." kata Rama lalu meninggalkan ruangan kamar itu.
"Ram please, maafin aku." teriak Sinta yang masih bisa didengar oleh Rama.
Dari luar Rama menghisap rokoknya sambil mendengarkan teriakan Sinta yang lalu berganti dengan *******.
"Memang benar benar ******." Rama tersenyum sinis.
....
__ADS_1
"Mama mau kemana?" tanya Zahra kala melihat Laras berpakaian rapi.
"Mama mau nganter makanan buat Papa sayang."
"Yaya mau ikut, Yaya mau ikut." Zahra terlihat senang.
"Eh, Yaya dirumah aja sayang. Mama cuma sebentar kok." seketika wajah Zahra berubah cemberut.
Laras mengendong Zahra, "Mama cuma sebentar sayang, lagian kalau yaya ikut nanti yang jagain rumah barbie nya siapa? kasian kan barbienya kalau ditinggal Yaya pergi." rayu Laras.
"Tapi Yaya pengen ikut." ucap Zahra menunduk sedih.
"Besok kalau Papa libur, kita ajak Papa jalan jalan gimana?" dan langsung saja Zahra mengangguk setuju.
"Mama jangan lama lama ya?" ucap Zahra yang langsung diangguki Laras.
Laras pergi setelah Zahra terlelap, tidur siang.
Sesampainya dikantor Dion, Laras masih harus menunggu karena Dion sedang ada meeting.
Hingga 30 menit barulah Dion kembali ke ruangan nya dan terkejut melihat Laras yang sudah berada disana.
"Aku pikir nggak jadi kesini." ucap Dion mendekati Laras dan langsung memberikan ciuman bertubi tubi.
"Makan siang dulu mas, kamu keliatan sibuk banget." kata Laras ingin membuka rantang yang Ia bawa namun tangan Dion menarik tubuhnya hingga Ia berada didada bidang Dion.
"Mau makan kamu dulu gimana?" bisik Dion.
"Mas... ini dikantor."
"Nggak ada yang berani masuk." Dion langsung saja menjelajahi leher Laras dengan bibirnya. Tangan nya pun mulai membuka kancing baju Laras.
"Maaaf pak menganggu, astaga." seorang wanita yang memasuki ruangan Dion terkejut begitu pula dengan Dion dan Laras yang tak kalah terkejut.
"Kalau mau masuk ketuk pintu dulu!" Dion terlihat marah.
"Maaf pak, maafkan saya." buru buru wanita itu keluar.
Laras langsung saja memukul lengan Dion, "Kenapa nggak dikunci sih mas pintunya."
"Maaf sayang lupa," balas Dion tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ngeliat kamu memang jadi lupa segalanya."
Bersambung....
Jangan lupa like vote dan komen...
__ADS_1
Maaf kalau Rama nyempil mulu hehe...
hanya beberapa part saja sebelum masuk konflik... biar nggak bosan aja sama Laras dan Dion 😁