Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
25


__ADS_3

Dion sedikit terkejut dengan ucapan Rennata yang begitu santainya, apalagi saat melihat wajah Laras yang berubah kesal, rasanya semakin menyesal telah mengajak Laras kesini.


"Apa sih Re, udah lama juga." kata Dion dengan nada tak suka.


Rennata terkekeh, "Kali aja mau ngajakin balikan, denger denger kamu duda sekarang."


"Enggak, kata siapa! Ini Laras istri aku." kata Dion membuat Rennata sedikit terkejut.


"Kamu yakin? nggak salah pilih?" tanya Rennata dengan nada mengejek.


"Duh kayaknya aku salah ngajak kamu kesini, udah kita cari tempat lain aja." Dion mengendong Zahra dan menarik tangan Laras untuk keluar dari salon ini.


Sementara Rennata terlihat mengejar Dion "Sorry, gue nggak maksud nyinggung Lo." Rennata menahan tangan Dion.


"Udahlah Re, kita itu udah selesai lama jadi please jangan ngerusak pertemanan kita dengan sikap kamu yang kayak gini!"


"Oke oke sorry."


"Dahlah, gue dah nggak mood." Dion terlihat sangat marah.


"Dion, sorry." kata Rennata yang diabaikan Dion yang sudah keluar dari salon milik Rennata.


Didalam mobil, semua terlihat diam, bahkan Zahra yang kini ada dipangkuan Laras pun ikut diam, meski Zahra masih kecil, ia cukup tau jika Papa dan Mamanya ini sedang marah, apalagi Zahra juga melihat papanya membentak Rennata tadi, membuat Zahra takut dan memilih diam.


"Sorry buat yang barusan, aku ngajak kamu kesalon tadi karena disana ada arena permainan buat anak anak, aku nggak nyangka aja sikap Rennata malah kayak gitu." kata Dion merasa sangat bersalah.


"Nggak apa apa!"


"Aku tau kamu marah, tapi kamu juga harus percaya aku sekarang nggak ada hubungan apa apa sama dia." kata Dion menjelaskann takut Laras salah paham.


Laras hanya diam, Ia benar benar sedang malas menanggapi Dion. rasanya hari ini Ia ingin pergi sejauh mungkin dari Dion.


"Mas, aku turun disini aja ya? aku mau perawatan disalon langganan aku aja." kata Laras.


"Aku anter ya?" pinta Dion yang langsung digelengi oleh Laras.


"Nggak usah mas, aku sendiri aja! mas quality time sama Yaya aja." kata Laras.


"Tapi mas mau nganter kamu." Dion terlihat kecewa, Dion cukup mengerti jika memang Laras sedang kesal dengannya namun Dion juga tak ingin Laras pergi sendiri.


"Aku mohon mas, kali ini saja biarkan aku pergi sendiri, mas jalan jalan sama Yaya aja ya." pinta Laras.


Dion menghela nafas "Ya sudah."


Laras tersenyum lega mendengar Dion menuruti permintaannya.


"Sayang, Yaya sama Papa dulu ya, Mama mau pergi sebentar." Pamit Laras pada Zahra.


"Mama sama Papa lagi marahan ya?" tanya Zahra polos.

__ADS_1


"Enggak kok, Mama nggak marah sama Papa, tapi Mama harus pergi dulu, nanti kita ketemu dirumah ya." bujuk Laras.


''Yahh, kenapa sih Yaya nggak ikut Mama aja." Zahra terlihat sedih membuat Laras tak tega.


"Sayang, mama cuma sebentar kok! gimana kalau Yaya ikut Papa ke mall kita timezone disana?" ajak Dion membujuk Zahra.


"Naik kuda?"


"Iya kita nanti naik kuda poni warna pink, Yaya mau nggak?" bujuk Dion yang langsung membuat mata Zahra berbinar.


"Yaya mau pa, Yaya mau! ayo pa kita kesana sekarang!" Ajak Zahra tak sabar.


"Jadi nggak apa apa kan Mama pergi dulu?" kata Laras yang kini memindahkan Zahra duduk dibangku sendiri.


"Enggak apa apa Ma, tapi Mama jangan lama lama ya perginya?" kata Zahra sebelum Laras keluar.


"Siap sayangnya Mama," Laras mencium pipi Zahra sebelum keluar dari mobil.


"Dek,." panggil Dion membuat Laras mengurungkan niatnya untuk keluar.


"Kenapa mas?" tanya Laras yang langsung diuluri tangan oleh Dion.


Dengan menunduk malu Laras mengambil tangan Dion lalu mencium punggung tangan Dion.


"Nanti kalau butuh dijemput telepon aja." kata Dion yang diangguki oleh Laras.


Laras pun keluar dari mobil Dion, setelah mobil Dion melaju meninggalkan Laras berdiri segera Laras menghentikan sebuah taksi.


"Baik mbak."


Laras menatap kearah luar mobil, Ia masih merasa sangat kesal dengan ucapan Rennata yang memang menganggu pikirannya sedari tadi.


Laras akui Ia kalah cantik dengan Rennata tapi bukankah seharusnya Rennata tidak berbicara seperti tadi didepan Laras.


Sungguh membuat mood Laras buruk saja, belum selesai pikirannya mengenai Sella sekarang sudah ada wanita lain yang membuatnya kesal, Rennata.


"Mbak udah sampai." kata Sopir taksi itu membuyarkan lamunan Laras.


"Oh, maaf pak, ini uangnya." kata Laras memberikan lembaran warna merah pada sopir taksi.


"Yang kecil aja mbak, belum ada kembaliannya."


"Udah kembaliannya buat bapak saja." kata Laras segera keluar dari taksi membuat sopir taksi tersenyum sumringah.


"Makasih mbak," kata Sopir taksi yang sudah tak didengar oleh Laras karena Laras sudah berjalan memasuki salon.


"Aduhh..." Laras tak sengaja menabrak seorang wanita yang tengah menelepon seseorang.


"Maaf mbak, saya buru buru." kata Wanita itu bangkit dan langsung meninggalkan Laras yang masuh terjatuh dilantai.

__ADS_1


Laras hanya menahan kesal, sepertinya hari ini adalah hari sialnya karena sedari tadi ada saja yang membuatnya kesal.


"Ehh mbak Laras, udah lama nggak kesini?" sapa Rini salah satu pegawai salon.


"Iya nih, akhir akhir ini agak sibuk soalnya." kata Laras.


"Mau diapain nih? potong rambut, lurusin rambut, warnain rambut apa perawatan badan?" tanya Rini.


"Perawatan badan aja rin."


"Mbak Laras mau nikah ya?" tebak Rini.


"Ehh."


"Bener kan? duh selamat ya mbak." kata Rini yang hanya dibalasi senyum oleh Laras.


"Kok tau sih Rin?" Laras penasaranan.


"Tuh cincin nya." kata Rini yang membuat Laras sadar memang ada cincin yang melingkar dijari manisnya.


"Hmm, kirain." kekeh Laras.


"Ya udah yokk mbak, masuk biar aku manjain." Ajak Rini melangkah masuk diikuti oleh Laras.


Sementara itu wanita yang tadi menabrak Laras terlihat memasuki sebuah mobil yang menjemputnya didepan salon.


"Nggak sabaran banget sih, aku kan jadi nabrak orang gara gara kamu telponin terus." kata Shinta kesal.


"Kok jadi kamu yang kesel sih, lagian aku kan tadi udah bilang nggak usah ke salon dulu ribet." kata Rama malas.


"Kita kan mau ketemu klien penting, jadi ya harus tampil maksimal."


"Iya lah terserah kamu aja." Rama malas menanggapi shinta sekretarisnya itu.


"Tapi gimana penampilan aku? cantik nggak?" tanya Shinta.


"Hmm, sama kayak biasa." balas Rama santai membuat Shinta cemberut.


"Selalu aja gitu jawabannya." kesal Shinta.


"Trus aku harus jawab gimana?" tanya Rama.


"Nggak usah jawab!"


"Galak mode on." kekeh Rama.


"Ck, nyebelin!"


Rama hanya diam saja, mendebat Shinta sama sekali tak akan ada habisnya jadi lebih baik diam.

__ADS_1


Sementara Shinta nampak kesal sekali, Ia menyempatkan untuk merias diri disalon agar mendapatkan pujian dari Rama namun malah mendapatkan respon yang biasa saja, membuatnya kecewa.


TBC.


__ADS_2