
Laras cukup kecewa setelah acara tadi Ia menunggu seseorang datang namun kenyataannya orang itu tidak datang meskipun orang yang Ia tunggu sudah mengirimkan pesan dan memberikan ucapan selamat namun rasanya masih ada yang kurang.
Rama... Seseorang yang Laras tunggu namun hanya kedua orangtua nya saja yang datang tanpa Rama.
"Perasaan tadi Rama ikut kok, tapi kok nggak keliatan ya." kata Mama Rama saat menyalaminya tadi untuk memberikan ucapan selamat.
Dan setelah acara usai, Ia melihat ponselnya, benar saja Rama mengiriminya pesan. Pesan permintaan maaf karena tidak bisa menemui akibat bajunya yang kotor terkena minuman orang.
Helaan nafas terdengar usai melihat pesan Rama. cukup lega sebenarnya untuk Laras karena Rama ternyata datang dan memang ada alasan lain Rama tak bisa menghampirinya.
"Pesan dari siapa?" tanya Dion yang tiba tiba berada disampingnya mengejutkan Laras. Keduanya sama sama memakai jubah mandi karena memang Laras yang lebih dulu mandi disusul Dion dan sekarang Dion telah selesai mandi.
Seusai acara, Mereka tidak langsung pulang. menyempatkan diri tidur dihotel tempat diadakan nya resepsi serta mengajak Zahra dan Bik Inah menginap dihotel dengan kamar yang berbeda.
"Zah-zahra gimana mas?" tanya Laras gugup saat Dion tiba tiba memeluknya dari belakang.
"Tenang, udah sama Bik Inah." bisik Dion ditelinga Laras membuat Laras merasa sedikit geli.
Tak cukup sampai disitu, Dion menciumi rambut Laras dan turun dileher membuat Laras merasakan geli kenikmatan.
Laras hanya bisa pasrah dengan setiap setuhan bibir Dion, karena memang ini sudah kewajibanya. melayani Dion apalagi mereka juga sudah sah menikah.
Tak menunggu waktu lama, Dion menidurkan Laras diranjang, mencium kening Laras kemudian turun dibibir, ******* bibir Laras penuh kelembutan membuat Laras terbuai dengan ciuman Dion.
Laras akui Ia berciuman hanya sewaktu bersama Rama, itu saja hanya sebentar dan sekarang Ia bisa merasakan nikmatnya berciuman apalagi dengan pria yang Ia cintai.
Mata Dion yang sudah dipenuhi hasrat tak menunggu waktu lama, Ia membuka tali jubah mandi milik Laras dan menikmati keindahan tubuh Laras yang sangat seksi hanya mengenakan dalaman saja. Mungkin jika Dion membandingkan antara tubuh Laras dan Naya, jika Naya cenderung kurus sementara Laras sedikit berisi menambahkan gairah Dion.
Namun baru ingin menjatuhkan diri ditubuh Laras, suara ketukan pintu kamar menganggu hasrat keduanya.
"Argh, sial." Desis Dion yang sebenarnya ingin mengabaikan suara ketukan pintu namun Laras meminta untuk menghentikan aktifitasnya.
"Buka dulu mas, kali aja penting."
__ADS_1
Dengan tatapan kesal, Dion beranjak dari tubuh seksi Laras, tak lupa memakai kembali jubah mandinya yang setengah terlepas karena aktifitas panas yang baru saja terjadi.
"Maaf Tuan, menganggu." kata Bik Inah menunduk takut sambil mengandeng tangan Zahra yang sedang memegang boneka Teddy bear nya dan sepertinya Zahra baru saja menangis jika dilihat dari mata Zahra yang sembab.
"Yaya takut Pa, mau bobok sama Papa Mama aja." kata Zahra langsung saja memeluk kaki Dion membuat Dion tak bisa berkutik.
Gagal sudah acara malam pertamanya dengan Laras.
"Mungkin Non Yaya nggak biasa tidur dihotel Den, jadi takut padahal udah Bibi temenin." jelas Bik Inah dengan raut wajah bersalahnya.
Rama mengangguk paham lalu mengendong Zahra, "Biar sama Dion, Bibi istirahat aja."
"Sekali lagi maafkan Bibi Den." ucap Bik Inah sekali lagi yang langsung saja membuat Dion terkekeh.
"Sudah Bi, nggak apa. Aku sama Laras bisa kapanpun." Dion mengedipkan sebelah matanya membuat Bik Inah tersenyum lalu segera pergi dari sana.
"Lho Yaya, kenapa sayang?" Laras terkejut melihat Dion yang menghampirinya sambil mengendong Zahra.
"Takut Ma." kata Zahra langsung menghambur ke pelukan Laras dan untungnya Laras sudah memakai kembali jubah mandinya.
"Y udah, bobok sama Mama dan Papa Nih?" tawar Laras dengan senyum mengembang berbeda dengan Dion yang terlihat datar saja karena lagi lagi Ia harus menahan diri.
Zahra mengangguk senang.
"Ck, puasa lagi." gerutu Dion disamping Laras.
"Sabar mas." kata Laras dengan senyuman mengejek membuat Dion gemas dan mencubit pipi Laras.
....
Pagi ini Sella berjalan memasuki sebuah ruangan dihotel yang dipesan klien nya untuk bertemu dengan calon klien nya.
"Pagi Nona, sudah ditunggu didalam." ucap Pelayan hotel yang baru saja keluar dari ruangan hotel yang akan digunakan.
__ADS_1
Dan betapa terkejutnya Sella melihat siapa calon kliennya yang tengah duduk menunggunya. Tak berbeda jauh dengan pria yang sedang duduk juga terkejut melihat Sella yang datang namun sedetik kemudian Ia malah menyerigai.
"Kita bertemu lagi Nona." kata Pria itu berdiri mendekati Sella yang berangsur mundur.
"Kau pria cabul yang semalam!" desis Sella tak percaya.
Rama terkekeh, "Aku tak menyangka kita akan bertemu lagi."
"Meskipun sedikit kecewa karena pakaian mu sekarang lebih tertutup tidak seseksi semalam." kata Rama dengan tatapan mengoda.
"Dasar pria brengsek!"
"Aku akan membatalkan perjanjian kita dan kita tak akan memiliki urusan lagi." kata Sella hendak berbalik.
"Apa kau lupa aku bahkan sudah mengirimkan separuh bayaran mu."
"Dan kau juga sudah menandatangi perjanjian kita. jadi bagaimana bisa kau lari dari tanggung jawabmu Nona? kau ingin merusak reputasimu." kata Rama sambil terkekeh membuat Sella menggepalkan tangannya.
Sial, benar benar sial. Sella tak menyangka jika calon klien nya adalah pria brengsek ini. karena sebelum bertemu mereka berkomunikasi melalui email dan Sella menjaga privasi profil dari calon kliennya. Yang Sella tahu, Calon Kliennya hanya seorang Ceo diperusahaan ternama. Lagipula Calon Klien nya sudah memesan jasanya seminggu sebelum pertemuan mereka jadi tentu saja Sella tak menyadari jika yang memesan adalah pria mesum ini dan mungkin pria itu juga tak menyangka jika Sella lah yang akan menyelidiki kasus korupsi diperusahaan Rama.
Dan sekarang mau tak mau Sella harus tetap bekerja pada pria ini karena mau bagaimanapun juga Pria ini sudah membayar jasanya separuh.
"Jadi bagaimana Nona? apa kau berubah pikiran?" tanya Rama sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Baiklah, tapi aku punya syarat."
"Kita harus profesional dan kau berhenti bersikap cabul padaku!" kata Sella dengan tatapan tajam penuh ancaman.
"Di sini aku bosnya, dan kau tak bisa mengaturku Nona."
"Sial."
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen
.