
Seminggu sudah berlalu, keadaan Laras sudah membaik, Bik Inah membaik namun izin pulang kampung untuk istirahat dan Zahra masih belum membaik namun sudah bisa rawat jalan dirumah.
Saat ini Dion dan Radit sedang menemui pengacara Dion yang nernama Hendra yang sudah mengurus kasus pencurian dirumah Dion.
"Keempat tersangka dijatuhi hukuman 20 tahun penjara karena pencurian dan penganiayaan anak dibawah umur." jelas Hendra pengacara Dion yang mengurusi kasus pencurian dirumah Dion.
"Hanya 20 tahun? kenapa tidak seumur hidup saja!" kata Dion masih tak terima.
"Benar harusnya mereka bisa disana seumur hidup!" Radit ikut menimpali.
"Maaf Tuan, tapi hakim memutuskan seperti itu.
"Jika memang kurang, kita bisa melanjutkan menghukum mereka setelah mereka keluar penjara." saran Hendra sambil tersenyum licik.
"Rasanya aku masih belum puas dengan keputusan hakim itu." kesal Dion.
Selesai berbicara dengan Hendra, kini tinggal Radit dan juga Dion yang masih disana.
"Nanti sore pukul 5 Zahra sudah boleh pulang. jika boleh izinkan Zahra berada dirumah Mama ku karena disana ada Mamaku dan juga Caca yang akan menjaganya." kata Radit pada Dion yang masih terdiam.
"Aku hanya memikirkan istrimu yang sedang hamil, agar bisa fokus menjaga kandungan nya. karena pembantumu juga harus pulang kampung, pengalaman kemarin kau mencari baby sitter dan malah berakhir-"
"Kenapa kau memikirkan istriku?" tanya Dion seolah tak terima.
"Bukan-bukan itu maksudku." Radit terlihat bingung bagaimana harus menjelaskan pada Dion.
__ADS_1
"Lalu apa, tadi kau bilang memikirkan istriku! apa kau menyukainya?"
"Tidak, tentu saja tidak. sudahlah jangan katakan hal seperti itu. aku hanya ingin diberi waktu merawat Zahra." kata Radit tak ingin memperpanjang masalah dengan Dion. apalagi melihat Dion begitu mencintai istrinya, bisa menambah kesalahpahaman diantara mereka.
"Ya, memang sepertinya harus seperti itu." balas Dion membuat Radit tersenyum senang.
"Bukan berarti aku sudah memaafkan mu. hanya saja aku tak ada pilihan lain selain menitipkan Zahra padamu.''
"Aku sangat berterimakasih apapun alasannya. aku janji akan menjaga Zahra dengan baik."
"Ya kau memang harus melakukan itu." kata Dion bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan Radit yang masih duduk.
Saat Radit hendak bangkit dan pergi tiba tiba seorang pelayan kafe, "Bill nya Tuan..." membuat Radit seketika terkekeh sudah dikerjai oleh Dion.
Dion memasuki rumah, melihat keadaan rumah begitu sepi apalagi sudah tak ada Bik Inah dan Zahra. hanya dirinya dan laras saja membuat setiap ruangan terasa hampa.
"Kenapa? nggak suka kalau aku pulang sore?" tanya Dion mendekati istrinya lalu mengecup kening istrinya.
"Suka banget lah, tumben aja padahal aku belum masak." Laras langsung bangkit, merapikan rambutnya dan hendak keluar.
Dengan sekali cekalan, Dion menarik tangan laras dan membuat Laras kembali jatuh ke ranjang, Dion langsung memeluk Laras dari belakang.
"Mas..."
"Mau kemana hmm?" Dion menciumi bau harum ditubuh Laras dari belakang.
__ADS_1
"Mau masak mas, memang kamu nggak makan?" tanya Laras sedikit kesal.
Sejak keluar dari rumah sakit, memang Laras yang mengurus dapur serta rumah karena Bik Inah yang memutuskan pulang kampung dan entah akan kembali lagi atau tidak.
"Nanti kita makan malam diluar sambil jemput Yaya."
"Yaya udah boleh pulang?" Laras terlihat senang.
Dion mengangguk, "Tapi untuk sementara dia sama Radit dulu, banyak yang jagain Yaya, ada mama nya juga istrinya Radit."
"Bukan aku yang minta, Radit yang minta karena mikirin kamu yang lagi hamil." jelas Dion membuat Laras tersenyum.
Ya meskipun sebenarnya Laras juga merasa kesepian jika tidak ada Zahra, namun untuk saat ini baiknya memang Zahra berada ditangan Radit lebih dulu karena Laras juga belum bisa sepenuhnya menjaga Zahra.
"Aku heran kenapa Radit bisa begitu memikirkanmu. apa jangan jangan dia menyukaimu." kata Dion membuat Laras terkejut karena pemikiran suaminya bisa sejauh itu. padahal apa yang Radit lakukan itu semata mata hanya ingin bisa bersama dengan Zahra.
"Ck, nggak mungkin lah mas, apa yang Radit lakuin itu buat Zahra." jelas Laras tak ingin Dion salah paham.
"Tetap saja dia tidak bisa dipercaya." kata Dion yang hanya bisa membuat Laras menghembuskan nafas panjang.
Jika saja Dion tahu sewaktu dirumah sakit, Radit pernah mengendongnya mungkin akan terjadi perang dunia kedua diantara Dion dan Radit melihat sifat Dion yang begitu posesif padanya.
Posesif namun Laras juga sangat menyukainya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komen... dan jangan luap mampir di BUKAN RAHIM BAYARAN