Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
61


__ADS_3

Dion baru keluar dari hotel tempat dirinya meeting. Pagi ini memang Dion berangkat lebih awal untuk meeting bersama klien dari luar negeri. Itulah sebabnya Dion tak sempat sarapan dirumah karena dia sangat buru buru.


"Kita ke kantor Tuan?" tanya Reno saat Dion memasuki mobil.


Dion menggeleng, "Pulang dulu kerumah, aku bahkan belum sempat mencicipi sarapan buatan istriku."


Reno hanya tersenyum lalu mengangguk,


Mobil melaju menuju rumah Dion, melihat ada mobil yang terparkir didepan rumahnya membuat Dion mengerutkan keningnya heran.


"Siapa? sepertinya mobil itu tak asing." batin Dion segera keluar mobil dan memasuki gerbang rumah.


Baru sampai didepan pintu Dion sudah mendengar suara ramai, bahkan cekikikan Zahra membuat Dion semakin penasaran dengan siapa yang datang.


"Tumben rame ..."


Seketika ucapan Dion menggantung saat mengetahui siapa yang datang. Mata Dion menatap tajam ke arah pria dan wanita yang duduk didepan Laras, sementara Laras nampak sangat terkejut melihat dirinya datang.


Melihat Zahra bahkan dipangkuan Radit membuat darah Dion seketika mendidih, dengan cepat Dion mengambil paksa Zahra hingga membuat Zahra menangis dan berteriak memanggil Bik Inah.


"Ada Apa Den?" tanya Bik Inah lari tergopoh gopoh dari dapur.


"Bawa Zahra masuk kamar!" kata Dion dengan nada marah.


Laras yang masih duduk seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, Dion pulang dan marah.


"Pergi kalian!" usir Dion pada Radit dan Caca.


"Gu-gue cuma... please jangan salah paham sama istri Lo gue kesini cuma..."


"PERGIII!"


"Dan jangan pernah datang kesini lagi kalau Lo punya malu!" kata Dion lagi membuat Radit hanya diam pasrah lalu mengandeng Caca keluar rumah Dion.


"Rass, sorry." ucap Caca sebelum keluar dari rumah.


Laras hanya mengangguk, namun wajahnya sudah memucat. apalagi melihat Dion yang menatapnya dengan tatapan kecewa dan marah.


Dion mengendurkan dasinya lalu berjalan memasuki kamar, diikuti Laras dengan jantung berdegup dan perasaan takut, sangat takut.

__ADS_1


"K-kamu tumben pulang jam segini mas? ada yang ketinggalan?" tanya Laras seolah tak terjadi apapun.


Dion tersenyum sinis, "Kalau aku nggak pulang, aku bahkan nggak tau kalau bajingan itu datang kesini menemui Yaya!" jawab Dion dengan nada ketus.


"Bahkan sampai begitu akrab dengan Yaya, apa ini berarti dia sudah sering kesini?" tanya Dion dengan raut wajah kecewa membuat Laras hanya bisa menunduk.


"Iya? dia sering kesini kan?" tanya Dion lagi yang tak mendapatkan jawaban dari Laras.


"Kenapa kamu hanya diam? apa kamu merasa bangga sudah berhasil mengelabui ku, sudah bisa membodohiku?"


Laras sontak mendongak dan menggelengkan kepalanya, tak setuju dengan ucapan Dion.


"Tidak, bukan seperti itu mas.." lirih Laras.


"Lalu seperti apa?"


"Maaf mas." dua kata yang mampu Laras ucapkan membuat Dion menjambak rambutnya sendiri.


"Kamu bahkan sudah mengetahui semuanya, kenapa? kenapa kamu bisa melakukan semua ini? jawab aku kenapa!" suara Dion terdengar membentak membuat Laras semakin takut hingga akhirnya menangis.


"Aku sebenarnya tak ingin menceritakan semuanya padamu, bagaimana masa lalu Naya tapi aku merasa ikut membohongimu yang membuatku merasa bersalah dan akhirnya menceritakan semuanya padamu."


"Maafkan aku mas, aku pikir kita bisa memberikan kesempatan kedua pada Radit yang ingin memperbaiki-" Laras mencoba menjelaskan namun seketika ucapan nya terpotong.


"Kesempatan kedua kamu bilang?" potong Radit dengan sinis.


"Kamu bahkan tak tahu bagaimana Naya dulu berjuang, mengemis dan mendatangi pria itu agar mau bertanggung jawab, namun dengan mudahnya pria itu mengatakan jika Yaya bukan anaknya."


Deg, seketika Laras merasa sesak didada nya mendengar ucapan Dion, Naya sampai mengemis pada Radit?


"Pria brengsek itu malah bersenang senang dengan wanita lain. aku yang mengetahui itu semua Laras, aku..."


"Dan kamu... tidak mengetahui apapun tentang perjuangan Naya dulu."


"Itulah sebabnya aku tidak mengijinkan pria itu menemui Zahra, karena Zahra itu anak ku bukan pria itu!"


"Tega kamu melakukan semua ini!" ucap Dion dengan nada kecewa lalu berbalik hendak pergi dan dengan cepat Laras menahan tangan Dion.


"Mas, maaf... maafin aku." ucap Laras sambil menangis namun tak digubris oleh Dion.

__ADS_1


Dengan sekali hentakan Dion melepaskan genggaman tangan Laras dilengan nya.


Tak menyerah begitu saja, Laras kembali mengapai tangan Dion dan sekarang lebih erat.


Dion yang masih kecewa dengan Laras pun menghentakkan tangan Laras lebih keras agar bisa lepas dan yang terjadi Laras sampai tersungkur dilantai.


"Ahhh..." jerit Laras sambil memeganggi perutnya membuat Dion terkejut.


Dion melihat Laras yang meringgis kesakita, dirinya ingin berbalik dan mengacuhkan Laras namun Ia melihat ada darah yang keluar dari rok yang dipakai Laras membuat Dion panik dan langsung mengendong Laras.


Dion berlari keluar rumah sambil mengendong Laras hingga memasuki mobil.


"Kita kerumah sakit." kata Dion pada Reno.


"Baik Tuan."


"Maaf mas, maafin aku." Laras masih mengucapkan itu berulang ulang dengan wajah pucat membuat Dion merasa sangat bersalah.


Ia benar benar tak sengaja membuat Laras jatuh apalagi sampai berdarah. Dan darah apa itu padahal Laras tidak membentur benda apapun, kenapa bisa keluar Darah batin Dion masih merasa heran juga panik.


"Cepat sedikit." ucap Dion yang membuat Reno juga ikut panik.


Sesampainya di klinik terdekat, Laras langsung ditangani oleh beberapa perawat dan seorang dokter wanita.


Dion dan Reno menunggu didepan UGD dengan perasaan cemas.


20 menit barulah dokter yang menangani Laras keluar.


"Hanya pendarahan sedikit, janin nya baik baik saja." kata dokter wanita bernama Leni itu.


"Pendarahan? janin?" Dion nampak bingung dengan ucapan dokter Leni.


"Ya istri anda sedang hamil dan mengalami pendarahan ringan. Apa anda tidak tahu?" heran Dokter Leni.


Dion yang masih shock pun akhirnya memaksa masuk ke ruang UGD tanpa menjawab pertanyaan dokter Leni.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2