
Radit duduk disamping ranjang Zahra sambil memandangi wajah putrinya yang masih terlelap.
"Kamu ngantor aja bee, biar aku jagain Zahra." kata Caca yang baru saja datang membawa dua bungkusan berisi makanan.
Radit menggeleng pelan, "Kerjaan kantor bisa ku handle di sini."
"Ya udah, kita sarapan dulu yukk." ajak Caca lanjut menyiapkan bungkusan yang tadi Ia beli.
"Rasanya nggak nafsu makan."
"Dikit dikit dulu mas, kamu dari kemarin juga nggak makan lho," kata Caca dengan sabar mengingat seharian kemarin Radit memang sama sekali tidak makan, hanya minum air mineral saja seharian.
"Nanti Zahra sembuh ee malah bapaknya yang sakit." goda Caca membuat Radit tersenyum lalu mengangguk.
Mereka berdua pun sarapan bersama,
"Kalau semua di sini trus siapa yang ngurusin masalah pencurian itu?" tanya Caca.
"Mungkin Dion sudah meminta anak buahnya untuk mengurus."
"Rasanya aku ingin membunuh mereka berempat." kata Radit menghentikan kunyahan makan nya.
"Aku heran, perumahan seketat itu maling masih bisa masuk."
"Karena wanita sialan itu." kesal Radit mengingat dirinya kemarin sempat memukul seorang bertopeng yang ternyata seorang wanita yang tak lain adalah Cici mantan pengasuh Zahra.
"Wanita?"
"Apa kamu ingat pengasuhnya Zahra yang kemarin itu?"
Caca mengangguk paham "Yang teledor itu?"
"Ya, dia salah satu dari pencuri itu."
"Astaga..." Caca nampak shock "Kenapa bisa dia melakukan itu?"
"Aku juga tak mengerti, harusnya dia kita laporkan saja ke polisi sejak awal karena tak becus menjaga Zahra." kesal Radit.
"Sudahlah bee, jangan pikirkan lagi yang penting sekarang kita pikirkan kesembuhan Zahra lebih dulu."
Radit mengangguk setuju.
Selesai sarapan, Caca meminta izin pada Radit untuk mengunjungi kamar Laras karena dirinya juga sudah membelikan sarapan untuk Laras dan Dion.
"Apa aku menganggu?" tanya Caca membuka pintu kamar rawat Laras, melihat Dion sibuk dengan laptopnya dan Laras yang sedang berbaring sambil menonton televisi.
__ADS_1
"Tidak menganggu, masuklah." Laras terlihat senang dengan kedatangan Caca sementara Dion hanya melirik sebentar lalu kembali fokus dengan laptopnya.
"Bagaimana keadaanmu? aku membawakan sarapan untuk kalian." kata Caca memperlihatkan bungkusan plastik yang Ia bawa.
"Kami baru saja selesai sarapan, bawa kembali saja." kata Dion acuh membuat Caca hanya tersenyum lalu mengangguk.
"Mas..." laras mendelik ke arah Dion yang sama sekali tak menatapnya.
"Maafkan dia Ca, kadang memang suka semenyebalkan itu." kata Laras merasa tak enak dengan Caca.
"Sudahlah santai saja."
Caca duduk disamping ranjang Laras, "Bagaimana keadaanmu?"
"Aku sudah lebih baik, hanya saja jika mengingat tentang apa yang terjadi kemarin..."
"Sudah, tak perlu diceritakan lagi. Sekarang fokus saja dengan kesehatan janinmu."
"Sudah berapa bulan? apa aku boleh mengelusnya?" tanya Caca menatap ke perut Laras.
"berjalan 4 bulan." kata Laras mengijinkan Caca mengelus perutnya.
"Aku juga ingin memilikinya."
"Kau juga akan memilikinya nanti."
"Ekhemm... jika masih lama aku akan keluar sebentar." kata Dion yang langsung bangkit dan berjalan keluar.
"Mau kemana mas?"
"Merokok sebentar." balas Dion yang langsung diangguki Laras.
Laras mengerti sejak kemarin memang Dion sama sekali tak merokok karena menunggunya seharian.
"Mungkin dia keluar karena terganggu dengan kedatanganku." kata Caca merasa tak enak.
"Tidak, memang dia seharian kemarin belum merokok. sudah jangan di pikirkan dia memang seperti itu." balas Laras.
"Apa dirumahmu ada Cctv?"
Laras mengangguk, "Kenapa?"
"Aku hanya ingin melihat rekaman kejadian."
"Tak perlu, jangan melihat." kata Laras dengan mata berkaca kaca.
__ADS_1
"Maaf, aku tak bermaksud." Caca merasa tak enak sudah membuat Laras kembali mengingat kejadian itu.
"Kita lupakan saja oke." kata Caca yang langsung diangguki Laras.
"Bagaimana Yaya? apa dia rewel?"
"Tidak, dia anak yang baik sama sekali tidak rewel malah lelap sekali tidurnya semalaman." kata Caca sambil tersenyum membuat Laras sedikit lega.
"Sebenarnya aku sedikit bersyukur dengan kejadian ini." ungkap Caca membuat Laras heran.
"Ya, karena kejadian ini setidaknya aku dan Radit di percaya untuk menjaga Zahra."
"Karena kadang aku merasa sedih melihat Radit yang tersiksa karena kesalahan nya dimasa lalu." ungkap Caca lagi.
"Ya aku paham itu, hanya saja Mas Dion memang masih belum bisa memaafkan Radit."
"Kesalahan Radit di masa lalu mungkin hanya mas Dion dan Mbak Naya yang merasakan, itulah yang membuat Mas Dion membenci Radit."
"Ya memang kesalahan di masa lalu Radit tak termaafkan." kata Caca nampak mennyadari.
"Lupakan semuanya, yang terpenting sekarang kita saling membantu merawat Zahra karena sekarang Zahra itu putri kita."
"Setuju." kata Caca sambil tersenyum senang.
"Apa kalian sedang membicarakan ku?" suara berat terdengar dari balik pintu dengan wajah sedikit masam.
"Tidak! ya sudah aku balik ke kamar Zahra." kata Caca langsung berhambur pergi meninggalkan kamar Laras.
"Hanya Radit yang salah kenapa kamu juga ikut membenci Caca mas?" tanya Laras heran.
"Aku tidak membencinya."
"Dan kenapa bersikap seperti itu jika tidak membencinya?"
"Aku hanya kurang menyukainya saja."
Seketika Laras terkekeh, entah lah suaminya itu memang terkadang bersikap menyebalkan seperti itu.
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komen..
Halo semuanya... karena ini udah mau end.. aku bkin cerita baru jduulnya BUKAN RAHIM BAYARAN.
mampir yukk... semoga kalian suka
__ADS_1