
Dion melajukan mobilnya kencang, setelah menelepon Reno dan meminta mobilnya. Kini dirinya tak tahu kemana harus pergi. yang jelas Dion ingin melepaskan segala amarahnya karena Laras yang kini sudah mulai berani padanya.
Dan sekarang Dion lagi lagi berhenti didepan gedung kantornya. Entah apa yang membuat Dion kesini namun inilah tempat teraman saat ini.
Dion ingin pergi ke club, melepaskan semua masalah dan penatnya dengan sedikit minuman namun dirinya sadar tak ingin membuat kesalahan apapun hanya karena emosi sesaat jadi Dion memutuskan untuk kembali ke kantornya saja.
Dion memasuki ruang pribadi yang ada diruangan nya, Ia berbaring disana. Hari ini sangat melelahkan untuknya.
Ia mencoba memejamkan mata namun tak kunjung terpejam yang ada hanya suara Zahra yang masih teringat. Suara kecil yang seolah protes merasa tak diperhatikan olehnya.
Dion sadar, sangat sadar jika kesibukannya benar benar membuatnya tak bisa setiap saat bersama Zahra namun apa yang Ia lakukan semua untuk mencukupi kebutuhan Zahra.
Dan bagaimana bisa Zahra anak sekecil itu membandingkan dirinya dengan Radit yang baru beberapa kali menemuinya.
Rasanya sungguh menyakitkan untuk Dion.
....
3hari berlalu,
Kini tiba waktunya Zahra untuk dibawa pulang karena sudah dinyatakan sembuh oleh dokter. Dan kali ini Dion menyempatkan untuk libur hanya untuk mendampingi Zahra. Selama 3 hari ini setelah pertengkaran Dion dan Laras memang masih saling mendiamkan. keduanya tak ada yang berbicara sama sekali hanya saat sesuatu yang penting mereka bicara selebihnya hanya diam.
Sesampainya dirumah, Zahra langsung dibawa ke kamarnya oleh Dion sementara Laras memasuki kamar untuk istirahat. Hampir seminggu berada dirumah sakit menemani Zahra, Laras sama sekali tak pulang hanya untuk sekedar tidur.
"Yaya sayang, istirahat ya biar nggak sakit lagi." kata Dion sambil mengelus kepala putrinya.
Dan Zahra hanya mengangguk saja, setelah kejadian itu Zahra memang tak banyak bicara. lebih sering diam saat bersama Dion.
Dion mengecup pipi gembul Zahra lalu menyelimuti Zahra.
Pintu terbuka dan keduanya menengok ke arah pintu melihat Cici yang memasuki kamar Zahra.
"Biar saya temani Tuan jika Tuan ingin istirahat." kata Cici yang langsung diangguki oleh Dion.
Tanpa membalas ucapan Cici, Dion bangkit dan berjalan keluar dari kamar Zahra.
Dion memasuki kamarnya, melihat Laras sudah terlelap membuatnya mendekat ke ranjang.
__ADS_1
Ia sempatkan untuk mengelus perut buncit Laras dan mengecupnya lalu keluar. Ia masih kesal dengan sikap arogan Laras apalagi Laras belum minta maaf padanya setelah itu jadi Ia memutuskan untuk lanjut.mendiamkan Laras.
Dion memasuki ruangan kerjanya, disana ada sofa untuk dirinya berbaring melepaskan penat.
Sementara, Laras terbangun tengah malam, merasakan perutnya sangat lapar.
Laras melihat disampingnya tak ada Dion, Ia menghela nafas panjang mengingat suaminya itu masih marah padanya.
"Tidur dimana?" gumam Laras. Ia pikir setelah pulang dari rumah sakit keduanya bisa berdamai namun nyatanya mereka masih saling mendiamkan.
Laras sadar dirinya sudah salah, sudah berani membantah ucapan suaminya. Laras merasa sangat menyesal. namun dirinya masih ragu untuk mengajak Dion berbicara lebih dulu. Takut respon Dion yang tidak baik dan akhirnya membuat Laras sakit hati.
Laras bangun, pertama Ia mencari keberadaan Dion yang ternyata tidur disofa ruang kerja tanpa selimut bahkan tanpa bantal membuat Laras kembali ke kamarnya untuk mengambil selimut lalu menyelimuti Dion.
Setelah itu Ia turun ke dapur untuk mengganjal perutnya yang sangat lapar karena semalam Ia tak sempat makan malam.
Laras mengoleskan selai ke roti tawar, mendengar suara kulkas terbuka membuatnya berbalik dan ternyata Dion disana sedang mengambil air minum dingin.
"Nggak tidur?" tanya Dion setelah menghabiskan satu botol air minum.
Laras menggeleng pelan, "Lapar mas."
"Jam segini mana ada yang buka mas." balas Laras heran dengan tawaran suaminya.
"Masih ada kalau pesen di online."
"Aku ambil ponsel dulu." Dion hendak pergi namun langkahnya terhenti saat tangan nya digapai oleh Laras.
"Eng-enggak usah mas, makan ini aja." Laras memperlihatkan roti yang sudah Ia beri selai.
"Mana kenyang."
"Kenyang kok, kamu mau mas?" tawar Laras yang langsung di gelengi oleh Dion.
Dion memilih duduk dikursi samping Laras, menemani Laras yang begitu lahap menghabiskan 3 potong roti tawar.
Tanpa mereka sadari mereka memandang satu sama lain, hanya diam dan memandang beberapa saat sebelum akhirnya Laras yang memutuskan pandangan dan menunduk.
__ADS_1
"Ma-maafin aku ya mas..." lirih Laras yang langsung membuat tangan Dion terulur untuk mengelus puncak kepala Laras.
"Maaf kenapa?" tanya Dion pura pura tak mengerti.
"Maaf sudah berani sama kamu." kata Laras yang benar sadar jika dirinya salah. Seharusnya sekesal apapun dirinya pada Dion, Laras tak boleh sampai membentak suaminya. Laras akui dirinya salah dan merasa tak nyaman saat Dion mendiamkan nya.
Dion menarik tangan Laras membawa Laras ke dalam pangkuan nya, Ia juga merasakan rindu yang teramat pada istrinya itu.
"Mulai sekarang aku nggak mau dibantah dalam hal apapun termasuk tentang Radit." jelas Dion.
"Aku cuma kasihan mas melihat Laras kayaknya kangen sama Radit." balas Laras yang membuat Dion langsung menghembuskan nafas panjang.
"Nanti ada saatnya Radit ketemu sama Yaya, bukan sekarang. jadi tolong ngertiin posisi aku juga." pinta Dion.
Laras menatap wajah Dion sebentar lalu dirinya menyadarkan kepalanya di dada bidang milik Radit.
"Maafin aku mas." lirih Laras lagi yang langsung membuat Dion benar benar lega karena sejak kemarin Ia menunggu Laras mengucapkan ini padanya.
Dion mengecup puncak kepala Laras lama, lalu Ia mengangkat dagu Laras, menatap Laras dan mencium bibir Laras.
Mereka akhirnya berciuman disana, pelan dan semakin lama semakin mengebu. Bahkan tangan Dion yang tadinya memeluk Laras kini sudah berjalan menjelajahi tubuh Laras. Tangan Dion mulai melepaskan kancing piyama yang Laras pakai. Dan saat kancing piyama sudah terlepas semua barulah Laras sadar.
"Dikamar aja mas." kata Laras disela sela ciuman panas mereka. Ingin melepaskan ciuman namun Dion masih menahannya.
"Kayaknya di sini lebih asik." canda Dion lalu melepaskan ciuman keduanya.
Laras memukul bahu Dion,
"Nanti ada yang lihat." protes Laras membuat Dion terkekeh. Dion kembali mencium bibir Laras dan kali ini hanya sebentar lalu memandangi wajah laras yang sepertinya juga sudah dilanda gairah minta dituntaskan.
Tak menunggu lama Dion pun segera mengendong Laras dan membawanya ke kamar mereka.
Tanpa mereka sadari dibalik dapur ada yang berdiri disana dan sedari tadi melihat apa yang terjadi.
"Gila, nonton bokep live streaming gue."
BERSAMBUNG ...
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komen...