
Dion melajukan mobilnya keluar dari kebun binatang. Zahra sangat puas mengelilingi kebun binatang hingga Ia kelelahan dan tertidur dipangkuan Laras.
"Seneng deh mas liat Zahra bahagia banget tadi." kata Laras membuat Dion tersenyum lalu mengacak rambut Laras.
"Ck, usil." gerutu Laras.
"Makasih ya sayang." kata Dion tiba tiba.
"Makasih kenapa?" Laras mengerutkan keningnya heran.
"Makasih sudah nerima Zahra, sudah sayang sama Zahra."
Laras malah terkekeh, "Kamu apaan sih mas, jelas aku sayang sama Zahra, Zahra peninggalan mbak Naya yang harus aku jaga dan sayangi."
"Oo gitu, jadi kalau bukan anak Naya nggak bakal kamu sayangi?"
Laras memukul lengan suaminya, "Ih nggak gitu juga mas, tetep sayang lah."
"Bener nih? jadi kalau aku nanti punya anak dari wanita lain kamu tetep sayang sama dia?" goda Dion.
Bukan nya menjawab, mata Laras langsung memerah dan seketika menangis.
"Eh sayang, kok malah nangis. ya ampun aku cuma bercanda." Dion menepikan mobilnya dan berhenti dipinggir jalan, Ia langsung mengelus rambut Laras penuh kasih sayang.
"Sayang, maafin aku. aku cuma bercanda, nggak beneran." kata Dion namun Laras masih saja menangis.
"Maaf, maafin aku."
"Apa ini gara gara aku belum bisa hamil jadi mas berpikiran seperti itu?" tanya Laras disela isakan nya.
"Ya ampun sayang, enggak sama sekali nggak ada niat mencari wanita lain. aku hanya bercanda. maaf." jelas Dion mulai frustasi. tak menyangka jika candaan nya akan berakhir seperti ini.
"Tapi ucapan itu doa mas." kata Laras masih menangis.
"Iya udah iya, aku salah sudah ngomong sembarangan. aku minta maaf sayang." kata Dion lalu mengecup kening Laras membuat Zahra terbangun.
"Mama kok nangis?" tanya Zahra menatap mata Laras yang memerah penuh air mata.
"Papa kamu nakal." adu Laras membuat Zahra lantas bangun dan memukuli Dion.
"Papa nggak boleh nakalin Mama." kata Zahra terus memukuli Dion membuat Dion mengaduh meskipun tak kesakitan sementara Laras malah tertawa.
"Iya iya sayang, nggak lagi Papa nakal sama Mama." kata Dion "Sekarang Mama ada bodyguard ciliknya mana mungkin Papa berani." gerutu Dion.
Laras menyeka air matanya, mendengar ucapan Dion yang nyatanya hanya bercanda saja sedikit mengores hatinya, bagaimana jika semua benar terjadi? entahlah Laras tak ingin memikirkan sesuatu yang buruk.
__ADS_1
"Yaya laper."
"Habis mukulin papa langsung laper nih?"
Zahra memanyunkan bibirnya, "Mau makan."
"Kita cari makan daerah sini aja mas, tadi aku udah terlanjur bilang sama Bik Inah nggak usah masak soalnya."
"Oke siap permaisuriku, kita cari makan diluar." kata Dion kembali melajukan mobilnya.
"Per per mai su mai, apa Pa?" tanya Zahra dengan polosnya ingin menirukan ucapan sang Papa namun masih belum bisa.
"Permaisuri sayang." Dion terkekeh "Itu ya istrinya Papa." jawab Dion.
"Istri itu apa Pa?" Zahra terlihat masih bingung dan penasaran.
"Aduh kok aku malah pusing sendiri sih, coba kamu yang jelasin sayang." pinta Dion pada Laras.
"Ck, makanya jangan suka ngomong aneh aneh didepan Yaya mas." kata Laras membuat Dion tersenyum malu.
"Apa Ma, istri itu apa?" tanya Zahra masih penasaran.
"Istri itu yang nemenin Papa sama Yaya."
"Iya sayang." kata Laras lalu mencium pipi Zahra gemas.
Mereka sampai disebuah restoran masakan jawa,
"Makan di sini aja ya, aku lagi pengen makan yang berat." kata Dion yang langsung diangguki Laras.
Dion memesan nasi rames dengan telur balado dan ayam goreng, Laras memesan Nasi mie dan ayam sementara Zahra sayur bayam dan ikan goreng.
Sambil menunggu pesanan datang, Zahra tak henti hentinya mengoceh menceritakan hewan yang tadi Ia lihat dikebun binatang.
"Mas kita malah lupa nggak ke makam mbak Naya." kata Laras yang ingat jika seharusnya pagi tadi sebelum ke kebun binatang harusnya mereka mampir lebih dulu ke makam mbak Naya.
Dion melihat jam dipergelangan tangan nya, sudah hampir pukul 5 sore, sepertinya akan kemalaman jika tetap pergi ke makam.
"Besok pagi aja gimana? ini udah kesorean sayang." kata Dion.
"Mas kan besok kerja?"
"Kesana sebentar sebelum aku kerja nggak apa apa." kata Dion yang langsung diangguki setuju oleh Laras.
Sedikit kesal dengan dirinya sendiri karena bisa bisa nya Laras lupa dengan hari penting sang Kakak itu.
__ADS_1
Makanan datang, mereka mulai menyantap makanannya. Laras menyuapi Zahra sambil sesekali Ia makan miliknya sendiri. Dion yang gemas akhirnya Ia menyuapi Laras karena dirinya juga sudah selesai makan.
"Mas malu." kata Laras melirik ke kanan dan kiri takut banyak orang yang melihat dan menganggapnya aneh.
Dion terkekeh, "Ngapain sih malu, udah ayo makan lagi aaa..."
Laras akhirnya menurut saja disuapi oleh Dion, tak peduli dengan orang sekitar yang sepertinya memandangnya sambil berbisik bisik.
Usai makan, Mereka bertiga segera keluar dari restoran dan saat sampai ditempat Dion memarkirkan mobilnya Zahra mendadak memghentikan langkahnya karena melihat seseorang yang Ia kenali.
"Omaa..."
Baik Dion maupun Laras pun menoleh ke arah orang yang dimaksud Zahra.
"Siapa?" bisik Dion pada Laras melihat Zahra mengenal wanita paruh baya yang tak Ia kenali itu.
Laras tersenyum mengetahui siapa yang dipanggil Zahra, "Aku belum cerita ya mas, tadi pas keluar dari kamar mandi Yaya nabrak ibu itu."
"Nggak nyangka aja masih inget." kata Laras yang langsung diangguki Dion.
"Eh ketemu sama Yaya cantik." sapa wanita itu langsung mendekat dan mencium pipi gembul Zahra.
"Habis makan ya? wah sayang banget padahal Oma baru mau makan. nggak bisa bareng kan." keluh wanita itu membuat Zahra tersenyum.
"Kapan kapan jika ada waktu kita bisa makan bersama." kata Dion.
"Wah benar sekali." seru wanita itu.
"Mama ayo." seorang pria yang baru saja turun dari mobil berteriak membuat Dion dan Laras menatap ke arah pria itu.
Dion sangat terkejut melihat siapa pria itu, begitu juga dengan pria itu yang sama terkejutnya melihat Dion.
"Ayo kita pulang sekarang!"
"Ta-tapi mas..."
Tak menunggu bantahan dari Laras, Dion segera mengendong Zahra dan membawanya masuk ke mobil.
Laras terkejut dengan sikap tak sopan suaminya itu,
"Maafkan suami saya." kata Laras sebelum akhirnya Ia juga ikut menyusul memasuki mobil.
BERSAMBUNG
jangan lupa like vote dan komen...
__ADS_1