Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
81


__ADS_3

Laras akhirnya terlelap setelah dokter menyuntikan obat bius padanya. dikarenakan semakin lama Laras semakin histeris membuat Dokter tak memiliki pilihan lain selain membuat Laras tertidur.


Setelah puas memandangi wajah istrinya, Dion bangkit karena dirinya juga ingin tahu keadaan Bik Inah yang kini sudah masuk kamar perawatan.


Dion masuk dan melihat Bik Inah sudah sadarkan diri, Tak berbeda dari Laras, Bik Inah juga sedang melamun, menerawang ke atas langit langit.


"Bik..." sapa Dion yang membuat Bik Inah terkejut dan menatap ke arah Dion.


"Aden..." seketika air mata Bik Inah langsung menetes.


"Apanya yang sakit Bik?"


"Maafin Bik inah ya Den, nggak bisa jagain Non Laras sama Yaya." kata Bik Inah seolah sangat terpukul dengan kejadian ini.


Setelah sadar dari pingsan, Tono satpam komplek sempat menunggu Bik Inah sampai sadar. Bik inah yang masih bingung dengan apa yang terjadi pun akhirnya menanyakan pada Tono.


Dengan jujur Tono mengatakan semuanya membuat Bik Inah akhirnya ikut shock.


"Nggak usah mikir apapun lagi Bik, yang sekarang harus dipikirin Bibik cuma sembuh, sembuh dan sembuh."


"Tapi kalau saja, Bibik bisa..."


"Apapun yang terjadi sekarang sudah takdir Bik, Dion masih bersyukur meskipun harus mengalami hal berat seperti ini tapi Dion masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi dengan Bik Inah, Laras dan Zahra." kata Dion membuat Bik Inah semakin terisak.


"Tadi Bibik kaget, pas mau nyuci piring ada orang masuk lewat pintu belakang, baru mau Bibik tanya malah udah dipukul duluan, setelah itu Bibik nggak inget apapun lagi." jelas Bik Inah.


"Apanya yang sakit Bik?"


"Perut Bibi Den, rasanya masih sakit banget."


"Dion pastikan Bibik dapet perawatan terbaik biar bisa cepat pulih." kata Dion.


"Makasih Den, makasih banyak."


Dion keluar dari ruang rawat Bik Inah setelah cukup lama berada disana.


"Kesini Ren..." kata Dion lalu mematikan panggilan.


Tak berapa lama Reno berlari mendekati Dion,

__ADS_1


"Kamu bawa pengacara kita ke kantor polisi dan pastikan para pencuri itu dapat hukuman seberat beratnya. kalau perlu seumur hidup biar mereka membusuk dipenjara!" perintah Dion penuh kebencian.


"Baiklah Tuan, saya pergi sekarang."


Reno segera keluar dari rumah sakit untuk menjalankan perintah dari Dion.


Sementara Dion kini berjalan menuju ruang rawat Zahra.


Dion membuka pintu dan langsung disuguhkan pemandangan dimana Radit duduk disamping ranjang Zahra sambil mengenggam erat tangan Zahra.


Dion menutup pintu sedikit keras hingga bersuara agar Radit tahu jika Dion datang.


"Masih belum sadar." kata Radit berdiri dari duduknya dan membiarkan Dion mendekat.


Dion menatapi Zahra, kepala Zahra yang kini dikelilingi oleh perban serta beberapa luka lebam yang ada di pipi.


Entah separah apa yang dilakukan para penjahat itu hingga membuat putrinya seperti ini.


"Aku harus menjaga Laras, dia membutuhkan ku saat ini." kata Dion.


"Dan aku titip Zahra." tambah Dion lagi menbuat Radit bernafas lega.


"Terima kasih." kata Radit tersenyum ke arah Dion.


"Aku belum memaafkan mu, jangan terlalu percaya diri!" kata Dion membuat senyum Radit memudar.


"Karena tak ada orang lain yang bisa menjaga Zahra jadi aku menitipkan padamu!"


Radit tersenyum, "Apapun itu tidak masalah!"


"Panggil aku jika Zahra sudah sadar." kata Dion yang langsung diangguki oleh Radit.


Dion berjalan hendak keluar dari kamar Zahra, "Dan terimakasih, kamu selalu ada dan menolong Zahra disaat Zahra sedang butuh seseorang." kata Dion sebelum akhirnya Ia membuka pintu dan langsung keluar tanpa menunggu balasan dari Radit.


Melihat Dion sudah tak terlihat lagi, Radit hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mendengar ucapan gengsi Dion.


Disatu sisi Radit sedih melihat keadaan Zahra, disisi lain karena peristiwa ini mungkin jalan agar Dion bisa memaafkan nya nanti.


Radit mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.

__ADS_1


...


Caca berlari melewati koridor rumah sakit hingga kini Ia berada didepan kamar Vip dan melihat nomor kamar memastikan jika nomor itu benar.


Klik, Caca membuka pintu,


"Bee.." suara Caca terdengar sedikit keras.


"Ssshhtttt..." Radit menempelkan jari ke bibirnya.


"Ups, sorry."


Caca menutup pintu sepelan mungkin lalu mendekati Radit.


"Ya ampun Zahra..." Caca terkejut melihat kondisi Zahra yang sangat parah.


"Laras gimana mas?" tanya Caca.


20 menit yang lalu Radit memang menghubungi Caca dan menjelaskan apa yang sedang terjadi membuat Caca segera bergegas datang.


"Dia kayaknya shock berat "


"padahal Laras lagi hamil." kata Caca dengan raut wajah sedih.


"Kalau saja aku tadi nggak buru buru bawa Zahra kesini, mungkin udah ku bunuh para penjahat tadi." cerita Radit dengan geram.


"Lagian kok bisa sih Bee ada maling masuk komplek sepagi itu." heran Caca.


"Karena kalau pagi memang penjagaan nya nggak terlalu aman jadi kesempatan buat malingnya masuk."


"Tapi kenapa harus rumahnya Laras? padahal masih banyak rumah lain yang lebih kaya."


"Mungkin mereka udah ngincar lama." balas Radit.


Caca memeluk suaminya, "Kamu sabar ya Bee... kita rawat Zahra bareng bareng."


"Makasih sayang." Radit mengacak rambut Caca gemas.


Bersambung...

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2