Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
79


__ADS_3

Radit melajukan mobilnya menuju kantor namun entah apa yang Ia pikirkan mobil yang Ia kendarai malah berbelok ke kiri jalan menuju perumahan Dion. Padahal jika ke kantor harusnya Radit berbelok ke kanan.


"Mikir apa sih gue." omel Radit pada dirinya sendiri. Radit berhenti sejenak didepan pos satpam perumahan Dion.


Ia keluar dari mobil dan bersandar didepan mobilnya. Radit mengeluarkan sebatang rokok di saku celananya, lalu menyalakan rokok itu dan menghisapnya sambil memandangi arah sekitar. Padahal pagi ini ada meeting dengan klien nya namun dengan santainya Radit mengabaikan nya begitu saja.


Entah apa yang menganggu pikiran Radit saat ini, Ia sama sekali tak mengerti kenapa bisa sampai disini.


"Eh mas Radit." pria bertubuh gemuk dan kumis tebal dengan seragam satpam menghampiri Radit yang masih bersandar disamping mobilnya.


Radit tersenyum ke arah pria itu lalu menawari pria itu rokok yang kini sudah bergeletak diatas kap mobilnya.


"Kok tumben didepan mas? nggak langsung masuk?"


"Aman kok, mas Dion nya baru saja keluar." kata Tono nama satpam yang sering diberi uang oleh Radit agar Dirinya bebas keluar masuk area perumahan.


Radit menggeleng pelan, "Bingung mau masuk apa enggak."


"Takut ketauan sama mas Dion ya mas?" kepo Tono yang hanya membuat Radit tersenyum.


"Ton... gimana, aman nggak?" tanya seorang satpam lagi yang datang mendekati Radit dan Tono.


"Aman boss!"


"Semalem ada bocah mencurigakan mau masuk, kirain nekat mau masuk lagi." kata pria itu.


"Aman bos, kayaknya nggak ada orang asing yang masuk hari ini." kata Tono yang langsung diangguki pria itu.


"Oke, gue balik lagi kalau gitu." pria itu bergegas pergi meninggalkan Tono dan Radit.


Radit yang sudah menghabiskan sebatang rokok pun melemparkan bekas putung rokok yang sudah mati ke tempat sampah.


"Gue masuk dulu." kata Radit pada Tono.


"Siap bos."


Radit melajukan mobilnya memasuki area perumahan dan mobilnya berhenti tepat didepan rumah Dion.


Radit masih berdiam diri didalam mobil sebelum akhirnya Ia memutuskan untuk keluar dan mendekati pagar rumah milik Dion.


Radit berdiri cukup lama didepan gerbang, rasanya Ia enggan memasuki rumah Dion mengingat janjinya pada Dion kalau dirinya tak akan mengusik Zahra lagi sebelum Dion memberikan izin padanya namun kakinya merasakan ingin melangkah masuk, seperti memaksa dirinya agar segera memasuki rumah Dion.


Dan baru sampai didepan, Dari jendela Radit melihat ada bayangan orang berpakaian serba hitam dan topeng tampak berjalan. Radit mengabaikan nya, Ia pikir itu hanya halusinasinya.


Tangan Radit terangkat ingin memencet bel namun seketika tangan nya terhenti kala mendengar teriakan Zahra memanggil Mama nya.


"Mama... mama.... mamaa..." terdengar histeris dan membuat Radit tersenyum.

__ADS_1


"Mereka sedang bermain apa hingga membuat putriku histeris seperti itu." gumam Radit sambil tersenyum.


Dan teriakan histeris Zahra kembali terdengar yang langsung membuat Radit curiga,


"Nggak mau... tolong!"


Deg... jantung Radit serasa berhenti berdetak mendengar teriakan histeris Zahra apalagi dari teriakan Zahra seperti sedang ketakutan.


"Anjing, gila Lo ya."


Dan suara seorang pria membuat Dion semakin curiga telah terjadi sesuatu di dalam rumah.


Brakkk... Dengan sekali hentakan Radit membuka pintu yang tak dikunci itu.


Betapa terkejut dan hancurnya hati Radit melihat Zahra yang tergeletak di lantai juga ada beberapa pria bertopeng yang sepertinya sedang mencuri dirumah Dion.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN!" Teriak Radit lalu berlari ke arah mereka.


Bugh.... Bugh.... Bugh...


3 kali pukulan Radit membuat pria yang membanting Zahra langsung tersungkur.


Tak sampai di situ, Radit juga memukul pria bertopeng yang lain nya secara brutal hingga membuat mereka semua jatuh tersungkur.


Yang terakhir, Radit pikir seorang pria namun nyatanya seorang wanita yang bertopeng ikut tersungkur bersama ketiga pria yang sudah lebih dulu babak belur.


"Tolong tahan mereka dulu pak, saya harus membawa Zahra kerumah sakit." Radit segera memgendong Zahra dan membawanya keluar memasuki mobilnya.


Sementara tetangga Dion langsung tanggap, melepaskan ikatan Laras dan menghubungi satpam komplek untuk menahan para pencuri yang masih muda itu.


Laras berlari keluar mendekati mobil Radit yang masih disana, "Saya ikut." kata Laras pada Radit dengan wajah pucat.


Radit mengangguk dan membiarkan Laras duduk sambil memangku Zahra.


Dengan kecepatan tinggi, Radit melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


"Suster tolong anak saya!" teriak Radit pada perawat yang berjaga di UGD.


"Tolong tunggu diluar." kata Suster itu lalu menutup pintu UGD.


Laras dan Radit duduk dikursi panjang, keduanya sama sama menangis mengkhawatirkan keadaan Zahra.


"Kamu juga harus periksa." kata Radit melihat tangan Laras berdarah akibat di ikat terlalu kencang.


"Aku baik baik saja." balas Laras dengan pandangan kosong.


Radit menghela nafas panjang,

__ADS_1


"Maafkan aku." Dengan satu gerakan tangan cepat, Radit mengendong Laras membuat Laras terkejut dan memberontak.


"Tolong bantu dia juga sus." kata Radit pada suster yang berjaga diluar.


Karena tubuhnya merasa lemas, akhirnya Laras hanya pasrah dan tak melawan.


Radit kembali duduk setelah mengantarkan Laras ke ruang periksa, mulutnya tak henti henti memgucapkan semua doa yang Ia bisa agar putrinya diberikan keselamatan.


"Bos..." satpam komplek perumahan Dion mendatangi Radit.


"Ngapain di sini? urusan yang dirumah gimana?"


"Aman bos, barusan nganter pembantunya Mas Dion yang pingsan juga."


"Dan para berandal itu sekarang sudah di kantor polisi." jelas Tono.


Radit mengepalkan tangan nya, mengingat para manusia bertopeng yang menyebabkan putrinya terluka.


"Mereka orang suruhan?" tanya Radit curiga jika mereka adalah orang suruhan musuh bisnis Dion.


"Bukan bos, mereka maling."


"Brengsek! bakal gue habisin mereka."


"Sabar bos, mereka sudah diproses hukum."


"Nggak cukup! harusnya dihabisin juga!"


Tono hanya menghela nafas panjang,


"Lo kerja juga nggak becus bisa kemasukan maling!" kata Radit sambil menatap Tono kesal.


"Bos tau kan saya dapet shift pagi dan aman aja nggak ada yang masuk. heran juga sih mereka masuk lewat mana." jelas Tono.


"Dan balik aja sana, nambah bikin masalah aja ntar."


"Siap bos."


Dan benar saja, baru saja Tono pergi Dion terlihat berlari ke arahnya dengan nafas tersenggal.


"Gimana keadaan Zahra?"


"Orangtua Zahra?" suara dokter membuat Dion dan Radit langsung berlari mendekat.


"Saya Papa nya." ucap kedua nya membuat Dokter yang memanggil tadi melonggo menatap ke arah Radit dan Dion.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2