Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
69


__ADS_3

Zahra membuka matanya, tangan nya masih terasa nyeri karena jarum infus yang masih menempel di tangan nya. Ingin rasanya Zahra menangis dan melepas infusnya tapi Ia tak ingin membuat Mama Laras khawatir apalagi Mama laras sedang ada adik bayi diperut membuat Zahra hanya diam sambil sesekali meringgis.


"Mama..." Suara serak Zahra terdengar membuat semua orang yang ada di ruangan langsung mendekat ke arahnya.


Kening Zahra mengkerut kala melihat ada sosok wanita muda yang tak Ia kenali.


"Sayang sudah bangun? belum makan siang. kita makan siang ya." kata Laras sambil mengelusi dahi Zahra.


"Itu siapa?" Zahra menunjuk ke arah Cici yang ada disamping Mbok Inah.


"Oh iya hampir lupa. Ini mbak Cici yang bakal nemenin Yaya mulai hari ini." jelas Laras.


"Haloo Zahra, cepat sembuh ya biar kita bisa main bareng." sapa Cici dengan ramah namun raut wajah Zahra terlihat tak begitu ramah.


"Yaya maunya sama Mama aja, nggak mau sama yang lain!" ucap Zahra yang membuat Laras terkejut.


"Iya, Mama juga nggak kemana mana kok. nemenin Yaya juga."


"Trus kenapa ada mbak Cici?" tanya Zahra dengan nada tak suka.


"Ya biar rame trus juga banyak yang jagain Yaya." kata Laras yang langsung membuat Zahra mengangguk angguk.


"Yaya mau maem." pinta Zahra membuat semua orang terlihat lega.


"Maem trus minum obat ya sayang."


"Ya tapi sama Mama aja." pinta Zahra.


"Siap tuan putri." dengan cepat Laras segera mengambil piring isi makan siang dan langsung menyuapi Zahra.


Sementara dibelakang Bik Inah, terlihat raut wajah Cici yang berubah kesal.


"Kayaknya bakal susah nih bocah." batin Caca.


..


Dion yang baru saja selesai meeting, Ia memasuki ruangan nya dan menyandarkan kepala di kursi kebesarannya.


Ia mengambil ponsel yang bergeletak di meja untuk menghubungi Laras.


Satu kali panggilan tak dijawab, dua panggilan tak dijawab hingga ketiga panggilan tak terjawab membuat Dion heran kemana kah istrinya pergi?


Bukankah seharusnya Laras berada dirumah karena dirumah sakit sudah ada Cici.

__ADS_1


Dengan helaan nafas kasar, Dion mengembalikan ponselnya dimeja. Baru sedetik Ia letakan ponsel Dion kembali berdering.


Ternyata Laras menelepon Dion balik membuat Dion buru buru menjawab panggilan nya.


"Ada apa mas?" tanya Laras dari telepon.


"Kamu dari mana? kok angkat telepon nya lama?" Dion malah balik bertanya.


"Habis nyuapin Yaya mas, maaf."


"Kamu masih dirumah sakit?" Dion nampak terkejut.


"Iya mas, Yaya rewel nggak mau diting-"


"Trus apa gunanya ada Cici kalau kamu masih disana?" tanya Dion memotong ucapan Laras.


"Bukan nya tadi aku udah bilang sama Reno kalau Cici udah disana kamu pulang istirahat, kok bisa kamu masih di situ apa Reno nggak bilang sama kamu?" tanya Dion terdengar emosi.


"Eng-enggak bukan gitu mas, tadi Reno udah bilang sama aku cuma-"


"Kamunya yang bandel?" sengit Dion "Terserah kamu lah maunya gimana!" Dion langsung menutup panggilan dan melempar ponselnya dimeja.


Dan Laras hanya bisa menghela nafas panjang melihat Dion yang lagi lagi kesal padanya tanpa mendengar penjelasan nya lebih dulu.


"Mama lama." keluh Zahra.


"Iya maaf, sekarang Yaya tidur lagi biar cepet pulang."


"Ma, kok Om Radit sama Oma nggak kesini ya? apa nggak tahu kalau Yaya sakit?"


"Eh..." Laras terkejut dengan ucapan Zahra yang terus menerus menanyakan Radit.


Mungkinkah ini yang dinamakan ikatan batin seorang anak dan Papa nya?


"Mungkin Om Radit sibuk." kata Laras yang bingung harus menjawab apa "Yaya kangen sama Om Radit?"


Zahra hanya mengangguk pelan,


"Biar nanti Mama ngomong sama Papa jadi Papa biar hubungi om Radit." kata Laras membuat Zahra tersenyum senang.


"Bener kan Ma?"


Laras mengangguk, "Tapi Yaya nggak usah ngomongin om Radit lagi didepan Papa ya." kata Laras yang langsung diangguki Zahra.

__ADS_1


Zahra mengoceh kesana kemari hingga akhirnya tertidur.


Baru saja Zahra tertidur, pintu kamar kembali terbuka dan ternyata Dion yang ada disana.


"Mas.." Laras melihat raut wajah Dion yang nampak kesal padanya.


"Percuma ya, bener bener percuma." ucap Dion dengan kesal membuat Laras akhirnya bangkit dan menghampiri Dion.


"Ngomong diluar aja ya." ajak Laras melihat Cici dan Bik Inah nampak tegang melihat raut wajah kesal Dion.


"Sebenarnya mas kenapa sih marah marah terus?" tanya Laras setelah keduanya sampai agak jauh dari ruangan Zahra.


"Kamu masih tanya?" balas Dion masih dengan nada kesal.


"Aku tahu mas, aku lagi hamil butuh istirahat banyak tapi mas juga harus tahu Zahra aja nggak mau aku tinggal, mana aku tega." jelas Laras mengeluarkan unek uneknya, Ia hanya tak ingin Dion salah paham terus menerus.


"Udah ada Cici sama Bik inah.' Dion masih tak mau mengalah.


"Cici baru sehari kerja, nggak mungkin bisa langsung deket sama Zahra. nggak mungkin Zahra menerima Cici dengan cepat."


"Jadi aku mohon sama mas, ngertiin aku mas. jangan marah marah lagi, jangan salah paham lagi. aku bisa jaga diri aku mas." kata Laras sambil mengenggam tangan Dion yang mengalihkan pandangan.


"Sekarang Yaya lagi sakit, lagi butuh kita. jadi aku mohon Mas jangan kayak gini. Kita rawat Zahra bareng bareng ya." kata Laras dengan nada lembut membuat amarah Dion mencair dan akhirnya memeluk Laras.


"Maafin aku sayang." lirih Dion merasa malu karena selalu saja mengedepankan emosinya.


"Aku nggak mau maafin mas kalau mas masih marah terus." balas Laras membuat Dion tersenyum malu.


"Dan lagi, aku mau ngomong tapi coba mas pikirin lagi jangan emosi dulu."


"Ngomong apa?"


"Aku ngerasa Yaya sakit karena kangen sama Papa nya."


"Aku maksudnya?"


"Bu-Bukan..." balas Laras membuat kening Dion mengkerut heran.


"Radit maksud aku mas." kata Laras dengan raut wajah yang takut.


BERSAMBUNG...


jangan lupa like vote dan komen...

__ADS_1


__ADS_2