Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
56


__ADS_3

Karena jenuh didalam apartemen tanpa melakukan apapun akhirnya Radit keluar apartemen. Saat ini pikiran nya sudah tertuju pada satu tempat yaitu perumahan Dion. meski didaerah perumahan Dion kawasan elite namun satpam disana tidak terlalu ketat menjaga. Nyatanya Radit bisa bebas keluar masuk tanpa dicurigai.


Radit melajukan mobilnya pelan, matanya memandangi area taman yang ada dikawasan itu. Banyak anak kecil bermain disana. Radit menghentikan mobilnya dan melihat dari dalam apakah dari beberapa anak kecil yang bermain itu ada seseorang yang sedang Ia cari.


Cukup lama Radit melihat ke arah taman namun tak menemukan anak kecil yang Ia cari yang tak lain adalah Zahra. Radit akhirnya kembali melajukan mobilnya dan berhenti didepan rumah Dion.


Kosong dan sepi, seperti tak ada tanda ada seseorang dirumah. Radit mencoba keluar dari mobilnya dan mendekati pagar rumah Dion. Melihat sepeda Zahra tampak rapi berada di halaman rumah seperti belum terpakai hari ini. Radit pikir mungkin Zahra sedang diajak pergi keluar dan akhirnya Radit memilih kembali ke mobil. baru satu langkah berbalik, Radit mendengar pagar rumah terbuka.


"Masnya cari siapa?" tanya wanita paruh baya yang Radit yakini itu asisten rumah tangga di rumah Dion.


"Egh, sepi ya bu saya pikir nggak ada orang." kata Radit mengaruk kepalanya yang tak gatal, bingung karena merasa ketahuan.


"Temen nya neng Laras apa Den Dion?" tanya Bik Inah yang membuat Radit terdiam cukup lama.


"Masuk dulu atuh Den, biar Bibik panggilkan Neng Laras nya." kata Bik Inah membuka pintu dan mempersilahkan masuk.


Radit yang sebenarnya hanya ingin memandangi dari jauh terpaksa masuk dan menemui Zahra dari pada dirinya mendapat masalah nantinya lebih baik Ia menemui Zahra secara terang terangan.


Radit duduk di sofa ruang tamu milik Dion, Ia meraup wajahnya karena merasa frustasi dan gugup.


Tak berapa lama seorang wanita muda keluar sambil mengendong Zahra, menatap ke arahnya heran.


Radit mencoba tersenyum meskipun bibirnya terasa berat.


"Cari siapa ya mas?" pertanyaan Laras istri Dion membuyarkan padangan Radit pada Zahra.


"Zahra..." tanpa disadari Radit menyebut nama putrinya itu yang langsung membuat istri Dion nampak terkejut dan berjalan mundur.


"BIKK INAAAHHHH..." Teriak Laras yang langsung mengejutkan Zahra dan juga Radit.


"Eh iya Non?" Bik Inah berlari ke arah Laras dalam keadaan panik, karena ini kali pertamanya Laras memanggilnya dengan suara sangat keras.


"Tolong bawa Zahra ke atas Bik, kalau perlu kunci pintu kamarnya." kata Laras dengan nada takut yang tentu juga membuat Bik Inah ikut takut.


Dengan cepat Bik Inah mengendong Zahra dan membawanya ke atas.


"Mama..." suara lirih Zahra memanggil Laras membuat jantung Radit terasa berdenyut, ia tau apa yang Laras takutkan sampai melakukan seperti ini.

__ADS_1


"Tenang, saya bukan orang jahat." kata Radit mencoba menenangkan Laras yang menatapnya dengan penuh benci.


"Jadi Anda, pria brengsek yang sudah menghamili kakak saya dan tak mau bertanggung jawab itu?" tanya Laras dengan suara sinis.


"Kakak?" Radit masih bingung dengan ucapan Laras.


"Ya, Naya wanita yang telah kamu nodai dan hamili itu kakak saya!"


Radit kini paham, ternyata istri baru Dion adalah adik ipar nya sendiri. Radit memang tak mengetahui tentang kelurga Naya dan juga tak tahu jika Naya memiliki adik secantik Laras.


Pantas saja Zahra bisa dengan mudah menerima Laras sebagai Mama penggantinya pikir Radit.


"Maafkan saya." suara lirih Radit terdengar.


"Maaf? apakah semudah itu?" sinis Laras.


"Bahkan kakak saya sudah meninggal dan kamu... kamu pria brengsek yang sudah membuatnya menderita." ungkap Laras dan tak terasa air matanya ikut menetes.


"Saya, saya bukan pria pertama."


"Bukan saya orang yang pertama menodai Naya, sebelum dengan saya, Naya memang sudah ternodai." jelas Radit membuat Laras menggeleng tak percaya.


"Nggak... nggak mungkin mbak Naya seperti itu."


"Tapi memang itulah kenyataan nya, saya bukan pria pertama yang menodai Naya. itu menjadi salah satu alasan saya tidak bertanggung jawab waktu itu." jelas Radit lagi penuh penyesalan.


"Jadi Anda menganggap Kakak saya pelacur?"


"Tidak, bukan seperti itu. waktu itu saya memang tau bukan orang pertama yang menodai Naya, tak pernah sedikitpun saya berniat menghamilinya namun dia menjebak saya. sulit untuk dipercaya jika dia memang mengandung anak saya."


"Dan sekarang saya benar benar menyesali semuanya." Radit menunduk, Ia juga ikut meneteskan air matanya membuat Laras sedikit iba.


"Beri saya kesempatan untuk memperbaiki semuanya. saya benar benar menyesal." kata Radit lagi sambil menangis.


"Kenapa kamu setega itu dengan mbak Naya, seharusnya kamu tanggung jawab waktu itu!" Laras masih geram meski sebenarnya dirinya juga iba.


"Saya belum memiliki masa depan dan saya tidak berani melangkah lebih jauh sebelum saya sukses seperti sekarang. Andai semua itu terjadi sekarang mungkin saya akan bertanggung jawab."

__ADS_1


"Dan semua terlambat, bahkan Mbak Naya sudah pergi!"


"Ya saya tahu itu. saya sudah berusaha menemui Dion namun sepertinya tidak ada jalan damai dengan Dion."


"Tentu saja, Mas Dion sangat membenci pria brengsek sepertimu."


Radit hanya menunduk sambil sesekali menyeka air matanya. Dalam hati Radit ingin menertawai dirinya yang begitu cengeng.


"Jika dulu anda menganggap mbak Naya tidak hamil dengan anda, kenapa sekarang anda yakin jika Zahra adalah putri Anda?" tanya Laras setelah keduanya diam cukup lama.


Radit masih saja diam tak menjawab,


"Dari mana anda tahu jika Zahra putri Anda?" tanya Laras sekali lagi.


"Maafkan karena kelancangan saya." kata Radit seolah ragu ingin mengatakan semuanya.


"Saya menyewa orang untuk menyelidiki semuanya." jelas Radit.


"Itu semua saya lakukan karena ingin mengetahui kebenaran dan tak ingin menyimpan semua ini terlalu lama."


"Sudah lama saya ingin melakukan semua ini dan akhirnya sekarang saya melakukan nya."


"Saya tahu semuanya memang sudah terlambat tapi saya hanya ingin diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan saya."


Kini giliran Laras yang terdiam cukup lama,


"Semua butuh waktu dan tidak semudah itu." kata Laras lirih.


"Saya paham, dan saya akan menunggu sampai kapanpun."


"Jika sudah tak ada yang ingin dibicarakan baiknya Anda pergi sekarang." Laras mengusir Radit karena dirinya juga shock dan butuh waktu memikirkan semuanya sebelum mengambil keputusan.


"Apa saya tidak boleh bertemu Zahra walaupun hanya sebentar?"


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen...

__ADS_1


__ADS_2