
Tubuh Cici terjatuh dilantai, ini kedua kalinya dirinya dipecat padahal baru bekerja 2 minggu. Sudah kedua kalinya dan dengan kesalahan yang sama, kelalaian dirinya dalam menjaga anak asuhnya.
Bahkan setelah ini Cici mungkin sudah tak memiliki muka untuk kembali ke agen dan berharap ada yang memperkerjakan dirinya lagi.
Cici menyeret kakinya, bersungkur dikaki Dion berharap belas kasihan dari Dion agar mengurungkan niat untuk memecatnya.
"Tuan saya mohon, jangan pecat saya."
Dion yang merasa tak nyaman dengan sikap Cici pun memberi kode pada Reno agar membantunya melepaskan tangan Cici yang memeluk kakinya.
"Sudahlah, terima keputusan Tuan Dion, ayo ku antar pulang." ajak Reno yang langsung ditolak mentah mentah oleh Cici.
"Saya tidak mau dipecat Tuan, ampuni saya." kata Cici lagi masih memeluk kaki Dion.
"Tapi maaf saya sudah tidak bisa memperkerjakan kamu lagi." kata Dion yang akhirnya melepaskan tangan Cici dari kakinya.
Laras yang melihat hanya diam tak mengomentari apapun bahkan sama sekali tak ada niat untuk membantu Cici.
"Sudahlah, yang penting kamu bulan ini digaji penuh. ayo kita pergi." kata Reno masih berusaha membujuk Cici yang masih tersungkur dilantai.
Cici menggelengkan kepalanya, masih tak menyangka dengan apa yang baru saja terjadi.
Cici akhirnya bangkit dan menatap ke arah Dion penuh kebencian, "Kalian orang kaya yang angkuh, memecat orang seenaknya.
"Kupastikan akan membalas kalian." kecam Cici lalu pergi dari sana meninggalkan Dion Laras dan Reno.
Reno hendak mengejar namun dicegah oleh Dion.
"Biarkan saja, dasar tak tahu diri. sudah beruntung aku hanya memecatnya tidak sampai menjebloskan ke penjara." gerutu Dion dengan nada kesal.
Laraa pun segera mengelus lengan suaminya agar lebih sabar.
"Ingat Reno, besok jika ku suruh apapun jangan hanya melihat fisiknya tapi juga kinerja nya. saya tak ingin kejadian seperti ini terulang lagi!"
Reno mengangguk paham, "Baik Tuan, maafkan saya."
Setelah Reno pergi, Dion menatap ke arah Laras heran.
__ADS_1
"Kenapa sih mas?"
"Tumben kamu nggak protes sama keputusan ku memecat Cici, biasanya jiwa baik kamu meronta ronta langsung protes sama aku."
Laras terkekeh mendengar ucapan suaminya, "Dia salah mas, mana mungkin aku protes."
Dion mendekat ke arah istrinya lalu mencium keningnya lama.
"Maaf tadi udah marah sama kamu." kata Dion dengan penuh penyesalan.
"Ck, udah biasa."
Dion terkekeh, merasa dirinya akhir akhir ini memang sedikit pemarah.
"Tinggal satu masalahnya." kata Dion langsung mengajak Laras kembali memasuki ruang inap Zahra.
Dion melihat Caca dan Bik inah yang duduk disofa sementara Radit duduk di kursi sebelah ranjang Zahra. Disana Radit sedang memandangi wajah dan mengenggam tangan Zahra yang sudah terlelap.
"Sudah cukup, sebaiknya kalian pergi." pinta Dion yang langsung membuat semua orang terkejut.
Radit bangkit lalu mengajak Caca bangkit juga, "Terimakasih untuk waktunya." kata Radit sambil mengandeng tangan Caca dan mengajaknya keluar.
Radit memaksakan senyum, "aku cukup tahu diri, setelah ini aku tak akan menemui Zahra tanpa seijinmu." kata Radit lalu keluar dari ruang Zahra.
Dion nampak menghela nafas panjang lalu duduk ditempat Radit tadi duduk.
"Aku pesenin makan siang ya mas, kamu pasti belum makan kan?" tawar Laras pada Dion.
Dion menggeleng pelan "Aku belum laper, kamu sudah laper?"
"Enggak mas, aku juga belum laper."
Dion tersenyum lalu kembali menatap ke arah Zahra pilu, "Baru juga berapa hari kamu pulang sekarang udah masuk lagi ya sayang.
"Maafin Papa yang nggak becus jadi orangtua buat kamu." kata Dion sambil mengelusi pipi Zahra.
Tangan Laras mengelus bahu Dion, "kita sama sama masih belajar jadi orangtua yang baik buat Zahra dan calon adiknya mas. jadi jangan langsung terpuruk dan merasa buruk hanya karena satu kejadian seperti ini." ucap Laras.
__ADS_1
"Kadang aku berpikir, apa sebaiknya aku memaafkan Radit dan memberikan Zahra padanya agar Zahra aman dan bahagia saat melihat Zahra seperti ini rasanya aku tak bisa menjaga amanah dari Naya." kata Dion dengan mata memerah.
"Jangan memaksa diri jika memang belum bisa mas, perlahan tapi pasti agar kamu juga bisa merasakan ketenangan
"Aku memang tak tahu seberapa besar benci kamu sama Radit tapi aku yakin someday kamu pasti bakal maafin Radit. kamu orang baik aku percaya itu." kata Laras dan Dion tersenyum.
"Kita lihat seberapa keras dia memperjuangkan Zahra." kata Radit yang langsung membuat Laras tersenyum lega.
Akhirnya doa Laras terkabulkan, sedikit demi sedikit hati keras milik Dion perlahan melunak.
Laras memang tak bisa merasakan bagaimana sakitnya hati Naya dulu saat memperjuangkan dan meminta pertanggung jawaban pada Radit. dan melihat penyesalan yang amat dalam dari Radit, Laras yakin jika Naya masih ada pasti dirinya bahagia melihat Radit menyesal dan ingin memperbaiki semuanya termasuk dengan Zahra. Laras yakin itu.
"Kok mendadak aku laper ya." kata Dion membuat Laras terkekeh. Suasana yang tadinya sempat tegang kini berubah menjadi santai. Bahkan Bik Inah yang sedari tadi duduk di kursi dengan jantung berlompatan saat melihat nada marah dari Dion kini ikut tersenyum.
"Oke kita pesen makan siang." kata Laras mengambil ponselnya untuk memesan makan online.
Berbeda dengan Dion, raut wajah Radit masih nampak khawatir. Hingga saat makan malam, Ia sama sekali tak menyentuh makanan nya. pikiran nya melayang memikirkan keadaan Zahra.
"Aku bikinin kamu roti bakar sama teh hangat biar ada makanan yang masuk. seharian ini kamu belum makan Bee." kata Caca yang kini duduk disampingnya.
"Aku masih khawatir dengan Zahra." ungkap Radit.
"Yang bisa kita lakukan sekarang hanya mendoakan Bee, jangan terus terusan terpuruk seperti ini." kata Caca yang ikut prihatin dengan apa yang dirasakan oleh suaminya.
"Kamu benar tapi rasanya masih menyakitkan sekali untuk ku... bayang bayang masa lalu, gimana kejam nya aku dulu..." Radit tak sanggup meneruskan ucapan nya.
"Yang penting sekarang kamu berusaha berubah dan memperbaiki semuanya kan?"
"Penyesalan, kenapa rasanya menyakitkan seperti ini... menyiksa sekali." Radit meraup wajahnya dengan kedua tangan nya. tanpa Ia sadari sudah menangis dan Caca hanya bisa memeluk Radit, memberi ketenangan untuk suaminya.
"Aku yakin kita bisa melewati semuanya, aku yakin Dion akan memaafkan mu. jangan menyerah untuk memperjuangkan Zahra Bee." kata Caca yang membuat Radit menatap ke arah Caca yang memeluknya penuh cinta.
"Makasih sayang, kamu selalu ada dan tak pernah meninggalkan ku disaat seperti ini."
Caca tersenyum dan semakin erat memeluk Radit.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komen