Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
85


__ADS_3

Meski sedih melihat keadaan cucunya yang mendapatkan banyak luka perban namun Nita sangat bahagia karena apa yang terjadi ini bisa membuat dirinya berkumpul dengan cucunya.


Setelah mengantar Zahra kerumah Nita, memang Laras dan Dion segera pamit pulang karena memang sudah larut malam.


Dan kini tinggalah Nita, Zahra, Caca juga Radit.


"Ayo kita ke kamar Zahra, Oma sudah buatkan kamar khusus buat Zahra." kata Nita membuat Zahra bersorak gembira.


"Yeee... jadi Yaya bakal nginep dirumah oma ya?" Tanya Zahra dengan raut senang.


"Iya sayang, mulai sekarang Zahra tinggal disini bareng Oma, seneng nggak nih Zahra?"


"Seneng oma tapi kasian Mama pasti kesepian dirumah sendirian apalagi kalau nanti orang jahat nya kembali trus Mama-"


"Sstttt, Yaya sayang. orang jahatnya sudah ditangkap pak polisi jadi Yaya jangan khawatir lagi ya. ada papa, eh om disini juga tante caca sama Oma." kata Radit yang kini membawa Zahra ke dalam pangkuan nya.


"Ta tapi Mama dirumah..."


"Mama juga aman kok, kan disana sudah banyak orang orang besar yang jagain mama." Caca ikut menimpali.


"Yaya tinggal di sini aja ya temenin oma." kata Nita sambil mengelus kepala Yaya.


Yaya mengangguk saja, seolah ada hal lain yang Ia rasakan.


Yaya pun diajak ke kamar nya, kamar yang cukup luas dengan dekorasi princes membuat Yaya melonggo tak percaya.


"Bagus sekali oma."


"Iya dong buat kesayangan oma, spesial ini."


Yaya tersenyum senang lalu memasuki kamar baru nya itu. meskipun hampir mirip dengan kamarnya dirumah Papa Dion tapi entah mengapa Yaya menyukai kamar ini.


"Makasih Oma, om sama tante." ungkap Yaya dengan polos membuat Radit tak bisa menahan haru.


Sementara itu dirumah Dion, Tampak Dion duduk di balkon rumah nya sambil menatap langit langit. Laras tampak ikut keluar sambil membawa secangkir teh hangat.


"Mas kangen sama Yaya?" tanya Laras sambil menyodorkan teh membuat Dion terkejut.


"Tidak sayang, aku hanya..."


"Khawatir jika Radit tidak bisa menjaga nya dengan baik?" tebak Laras.


Dion menghela nafas panjang, "Aku hanya masih belum bisa mempercayai pria itu." ungkap Dion.


Laras tersenyum, "Kita tunggu seminggu dan lihat, apa Yaya bahagia atau malah meminta pulang saat kita datang."

__ADS_1


Dion diam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Kau benar sayang, awas saja jika sampai Radit tak becus menjaga Yaya!"


"Kan mulai, dah lah minum teh aja dari pada marah marah." Laras mengulurkan secangkir teh pada suaminya.


Dion tersenyum sebelum menyeruput habis teh buatan istrinya itu.


Seminggu berlalu, Dion dan Laras datang ke rumah Nita untuk mengunjungi Yaya.


"Yaya seneng banget Papa sama Mama datang juga." kata Yaya terlihat ceria dan sudah pulih.


"Yaya mau ikut pulang sama kami?" tanya Dion.


Yaya menggelengkan kepalanya, "Yaya masih ingin di sini sama oma, tante Caca sama Om Radit. Nggak apa apa kan Pa?" pinta Yaya terlihat takut.


Laras mengenggam tangan Dion, memberikan kode pada Dion yang akhirnya membuat Dion memgangguk.


"Ya sudah, yaya boleh di sini dulu."


"Yeyeye..." Yaya tampak girang, terlihat sudah tidak ada lagi ketakutan di mata Yaya membuat Dion dan Laras lega melihatnya.


"Aku suka bantuin Oma merawat bunga, bikin kue, pokoknya seru banget dirumah sama oma." ungkap Yaya seolah dirinya sudah besar.


"Mama ikut seneng kalau Oma baik sama Yaya."


"Baik dong Ma, om Radit juga baik sama Yaya." ungkap Yaya lagi.


Awalnya Dion tak setuju Radit sampai dekat dengan Yaya namun melihat Yaya sangat bahagia, sekarang Dion sudah pasrah dan memaafkan masa lalu Radit.


Nita tampak keluar membawa dua cangkir teh dengan sepiring kue.


"Kue ala ala buatan oma sama Yaya. dicobain." kata Nita pada Laras dan Dion.


"Terima kasih banyak, maaf merepotkan." ucap Laras.


"Tidak masalah, justru masa tua ku menjadi lebih indah berkat kedatangan Yaya. aku yang seharusnya berterima kasih pada kalian karena mengizinkan Yaya tinggal disini." ungkap Nita terlihat sangat bahagia.


"Aku berharap Radit benar benar sudah berubah."


"Pasti, kamu tenang saja. aku pastikan Radit bisa menjadi Ayah kedua yang baik untuk Yaya." balas Nita.


"Ayah kedua itu apa Oma?" tanya Yaya dengan polos setelah mendengar ucapan Nita.


"Ayah kedua itu, sama seperti Papa jadi om Radit Papa kedua setelah Papa Dion." jelas Nita pada Yaya.


"Jadi Yaya punya dua papa dong?"

__ADS_1


"Iya sayang, seneng nggak?"


"Seneng banget Oma, yeee Yaya punya dua papa."


Semua orang tersenyum melihat kepolosan Yaya.


Dion dan Laras akhirnya pulang setelah cukup lama berada di rumah Nita.


"Masih khawatir?" tanya Laras saat Dion fokus menyetir mobil.


"Aku pikir sekarang harus khawatir dengan mu jika suatu saat Pria itu mengodamu."


"Astaga mas." Laras memukul lengan Dion, mendengar jawaban Dion yang nyeleneh membuat Laras gemas saja.


Dion terkekeh, "Sakit sayang."


"Sakit kok ketawa!"


Dion semakin terkekeh mendengar wajah kesal istrinya itu.


Larut malam, Radit yang memang pulang kerumah Nita tampak keluar dari kamar Yaya.


"Yaya Sudah tidur?" tanya Nita mendekati Radit.


"Sudah, Mama kenapa nggak tidur?"


"Ada yang mau Mama bicarakan."


Radit mengangguk, keduanya akhirnya duduk di sofa ruang keluarga.


"Bicara apa Ma?"


"Mama harap kamu benar benar serius berubah."


"Mama nggak percaya sama Radit?"


Nita menghela nafas, "Bukan tak percaya, tadi Dion dan Laras kesini, mereka tampak sudah ikhlas melihat kamu merawat Yaya, jadi Mama harap kamu jangan mengecewakan mereka lagi."


"Mama tenang saja, Radit nggak akan mengulangi kesalahan Radit yang bodoh di masa lalu. Radit sayang sama Yaya."


"Harus karena kamu Papa yang sebenarnya." kata Nita menimpali.


Tak jauh dari sana tampak Yaya berdiri sambil memeluk boneka nya,


"Kenapa semua orang berkata Papa ku om Radit, apa Papa Dion bukan Papa ku?"

__ADS_1


Seketika Radit dan Nita menoleh terkejut ke arah Yaya, tak menyangka gadis kecil itu bangun dan mendengar ucapan mereka.


Bersambung...


__ADS_2