
Pagi sepulang dari hotel, Dion langsung berangkat ke kantor karena sebelum pernikahan memang perusahaan Dion sedang dilanda masalah atas kasus korupsi yang dilakukan para karyawan nya.
Dan hari pertama pernikahanya, Ia harus pergi meninggalkan Laras yang seharusnya Ia ajak bulan madu? ah ya bulan madu, bahkan Dion masih belum memikirkan tentang bulan madu bersama Laras. Mengingat semalam ada Zahra yang memganggu malam pertama mereka, sepertinya memikirkan bulan madu sedikit tepat untuk mereka. lagipula sudah lama mereka tidak pergi liburan dan tentu saja bulan madu mereka akan mengajak Zahra ikut.
Sementara Laras seharian menemani Zahra bermain dikamarnya hingga Ia terpikir sebuah ide ingin mengantar makan siang untuk Dion. mengingat betapa kesalnya Dion semalam karena acara malam pertama mereka yang gagal karena Zahra.
"Sayang, habis ini Mama keluar sebentar ya? Yaya main sama Bik Inah dulu." kata Laras membuat gadis kecil yang sedang bermain puzzle itu seketika berhenti dan menatap ke arah Laras.
"Yaya nggak diajak?" tanya Zahra dengan wajah sedikit cemberut.
"Yaya mau ikut?" Laras sedikit ragu ingin mengajak Zahra karena alasan nya yang sebenarnya ingin kekantor Dion tidak hanya sekedar mengantar makan siang namun juga... ehem rasanya Laras malu jika harus membayangkan apa yang akan terjadi nanti saat berada di ruangan Dion.
"Yaya ikut Ma." balas Zahra manja.
"Tapi Mama nggak boleh ngajak Yaya, soalnya tempat yang mau Mama datangi itu serem banget. kalau yaya ikut nanti takut." jelas Laras terpaksa membohongin Zahra.
"Kalau serem kenapa Mama kesana?" tanya Zahra dengan polosnya membuat Laras hampir saja tak bisa menahan tawanya.
"Karena Mama ada urusan disana."
"Tapi Yaya mau ikut."
Laras menghela nafas panjang, sepertinya akan sulit untuknya pergi tanpa Zahra. Laras pun memutuskan untuk tidak jadi pergi.
Laras kembali menemani Zahra, hingga satu jam kemudian Zahra sudah terlelap tidur karena memang sudah waktunya Zahra untuk tidur siang.
Laras melihat ke arah jam dinding sudah pukul setengah 2 siang, sepertinya Dion pun sudah makan siang dan tak ada alasan untuk Laras menemui Dion dikantor.
Laras hanya bisa menghela nafas panjang,
Namun saat ingin beranjak dari kamar Zahra, Laras dikejutkan oleh Dion yang baru saja memasuki kamar Zahra, masih berpakaian kantor.
"Yaya tidur?" tanya Dion tersenyum ke arahnya lalu mendekat dan mencium keningnya membuat degup jantung Laras berloncatan.
Laras hanya mengangguk saja, karena jujur Ia sangat gugup saat ini apalagi Dion yang tiba tiba merangkulnya dan mengajaknya kekamar mereka.
__ADS_1
"Kok udah pulang mas?" tanya Laras untuk mengurangi hawa panas yang tiba tiba menyerang tubuhnya.
"Kan sebenernya hari ini aku masih libur, tapi karena ada masalah kemarin jadi aku harus masuk buat mastiin aja." jelas Dion yang baru saja melepaskan dasinya.
"Aku mandi dulu ya." kata Dion dengan tatapan mengoda, "Mau ikut nggak?" Dion mengedipkan sebelah matanya membuat Laras menunduk gugup.
"Aku udah mandi tadi mas." balas Laras yang membuat Dion langsung terkekeh.
Dion sudah memasuki kamar mandi, gemericik air pun juga sudah terdengar namun Laras yang berada diluar masih saja merasa gugup. Ia bahkan mondar mandir bingung dengan apa yang harus Ia lakukan.
Hingga pintu terbuka membuat Laras terkejut, "Mau makan siang mas?" tanya Laras.
Dion menggeleng, "Aku sudah makan, kamu belum makan?"
"Sudah kok."
Hanya dengan mengenakan lilitan handuk dipinggangnya , Dion kembali mendekati Laras.
"Tumben pake dress pendek? udah siap ternyata." bisik Dion sambil mengelusi paha mulus milik Laras.
Dion tersenyum, biasanya Laras hanya mengenakan kaos oblong dan juga celana pendek. mungkin karena Laras tak ingin membuat Dion tergoda padanya karena dulu hubungan mereka hanya sebatas adik dan kakak ipar saja.
Dan sekarang melihat Laras mengenakan dress floral diatas lutut seperti ini membuat Dion sangat tergoda. Apalagi Dion tau jika Laras tipe wanita tomboi yang jarang mengenakan dress, sangat berbeda dengan Naya yang suka sekali mengenakan dress dimanapun dan kemanapun.
Dion melepaskan ikatan rambut Laras, Ia membawa Laras ke ranjang mereka. mulai melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Sentuhan sentuhan lembut Dion membuat Laras terbuai, hanya suara desahan yang terdengar dari mulut Laras membuat Dion semakin bersemangat memberikan lebih pada Laras.
Hingga saat penyatuan mereka, Dion dikejutkan oleh milik Laras yang masih sangat sempit membuat Dion sedikit kesulitan, apalagi melihat Laras meringgis kesakitan dan hampir menangis. Dan saat semuanya masuk, Dion merasakan ada sesuatu yang mengaliri miliknya.
"Apa Laras masih perawan?" batin Dion yang selama ini mengira Laras sudah tidak perawan.
"Sa-kit mas." rintih Laras membuat Dion menyadarkan lamunannya. Segera Dion ******* bibir Laras dan melakukan secara perlahan karena jujur ini pertama kalinya juga dia melakukan dengan seorang yang masih perawan.
Takut terlalu menyakiti, meski sebenarnya dibawah sana sudah ingin melakukan dengan cepat.
Hingga suara rintihan Laras diganti suara desahan barulah Dion mempercepat tempo gerakannnya.
__ADS_1
Dion sendiri yang sudah sangat lama tidak melakukan ini begitu bersemangat. Tidak cukup sekali, bahkan Ia hanya memberikan waktu istirahat untuk Laras sebentar lalu kembali menyerangnya.
"Ya ampun, udah dulu mas. perih banget rasanya." kata Laras kala untuk keempat kalinya Ia sudah mengambil posisi ingin kembali mengagahi Laras.
Dion tersenyum, mengecup kening Laras dan berbaring disamping Laras. keduanya sama sama naked. Laras menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Aku nggak nyangka, kamu masih perawan." kata Dion sambil memainkan rambut Laras.
"Maksud mas?" Laras sedikit tersinggung dengan ucapan Dion yang menandakan jika mungkin selama ini Dion menganggapnya sudah tak perawan.
"Jangan marah, aku pernah baca pesan dari temen cowok kamu. bilang makasih buat yang kamarin dan aku nangkepnya kamu udah tidur sama dia." jelas Dion tak ingin Laras salah paham dengan ucapannya.
Laras terlihat bingung, pesan apa dan kapan?.
"Ituloh temen cowok kamu yang nemenin kamu kerumah sakit waktu Naya sadar. siapa namanya, Ra-rama bukan?" Dion mencoba mengingat dan langsung diangguki Laras.
"Kapan emang mas? kok aku nggak tau?" heran Laras.
"Udah lama dan aku langsung hapus pesan dari dia waktu itu."
Laras berdecak mendengar Dion mengatakan sudah menghapus pesan padahal dirinya belum sempat membaca pesan itu.
"Aku pikir kamu udah pernah nglakuin sama dia, makanya tadi kaget waktu liat kamu kesakitan."
"Apalagi sprei kita ada darahnya tuh dibawah kamu."
Laras melihat bercak darah yang hampir mengering, cukup lega dan membuatnya sedikit merasa bangga karena bisa memberikan pada sang suami.
Iya suaminya bukan orang lain.
Meski dulu Ia sempat gila dan hampir memberikan pada Rama namun beruntung Rama menolaknya.
Jika saja dulu Rama tak menolaknya, apa dirinya sekarang masih bisa melihat raut bahagia Dion seperti sekarang?
BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...