
Dion memasuki rumah dan masih dalam keadaan murung, Laras yang baru saja ingin menyambut suaminya itu terlihat heran dengan wajah Dion yang kurang bersahabat.
Tanpa menunggu apapun, Ljaras segera meminta tas Dion dan membiarkan Dion duduk di ruang tamu.
Tak berapa lama Laras kembali datang membawa secangkir teh madu hangat setidaknya untuk menenangkan Dion yang sepertinya sedang ada masalah.
"Minum dulu mas." tawar Laras memberikan secangkir teh hangat itu pada Dion.
"Makasih sayang." balas Dion dengan suara berat.
"Kamu udah makan malam?" tanya Laras yang langsung digelengi oleh Dion.
"Aku siapin air hangat buat mandi habis itu aku siapin makan malamnya." kata Laras langsung berdiri meninggalkan Dion tanpa menunggu jawaban dari Dion.
Selesai menyiapkan air hangat, Laras keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat Dion sudah berdiri didepan pintu kamar mandi dan masih dalam keadaan murung.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Dion memasuki kamar mandi membuat Laras hanya bisa menghela nafas berat. penasaran dengan apa yang terjadi dengan suaminya namun dirinya juga masih enggan untuk bertanya. Padahal Laras ingin menceritakan tentang mobil yang tadi siang berada didepan rumahnya namun melihat mood Dion sedang buruk membuat Laras mengurungkan niatnya. Lain kali saja pikir Laras bergegas ke bawah untuk menyiapkan makan malam.
"Sedikit saja," ucap Dion saat piringnya di isi nasi oleh Laras.
Laras mengangguk,
"Kamu nggak makan?'' tanya Dion kala piring berisi nasi lengkap dengan lauk sudah berada didepan nya sementara Laras malah duduk tidak mengambil piring lagi.
"Enggak mas, tadi sudah makan sama Yaya. maaf ya kalau aku makan duluan." kata Laras sedikit merasa bersalah.
"Kalau gitu suapi aku." kata Dion menyodorkan piringnya didepan Laras membuat Laras tersenyum senang.
"Mau sambil nonton tv?" tawar Laras menyuapkan satu sendok ke mulut Dion.
Dion menggeleng pelan, "Bagaimana kalau belakang rumah?"
"Setuju." Laras membawa piring dan segera berjalan ke belakang rumah di ikuti oleh Dion.
"Lagi bagus ini mas cuacanya, bintangnya juga lagi banyak banyak nya." kata Laras yang hanya disenyumi oleh Dion.
Laras kembali menyuapkan nasi ke mulut Dion,
"Rasanya sesak, me-menahan ini sendiri." kata Dion disela sela kunyahan nya.
Laras tersenyum, "Mas mau cerita?"
"Tapi aku masih belum siap." balas Dion sambil menerawang ke langit.
Laras memberikan segelas air, "minum dulu mas."
__ADS_1
Dion meneguk minumannya dan kembali menerima suapan terakhir. tadinya Dion merasa tak ***** makan namun saat Laras menyuapinya tak terasa Dion sudah menghabiskan sepiring nasinya.
Dion kembali meneguk minuman nya hingga isi air digelas itu tandas tak tersisa.
"Aku boleh minta sesuatu mas?"
"Minta apa?" Dion mengerutkan keningnya heran. ini kali pertamanya setelah menikah Laras ingin meminta sesuatu darinya.
"Aku cuma mau, seberat apapun masalah mas Dion kalau memang belum siap cerita sama aku, aku minta mas jangan murung."
"Aku merasa tak bisa membuat mas Dion senang dan tak bisa menjadi istri yang baik jika mas selalu seperti itu." jelas Laras membuat Dion tersenyum malu.
Ya Dion memang sadar selalu seperti itu, selalu membawa masalah kerumah, masalah yang ia dapat dari luar. Seharusnya Dion tidak boleh seperti itu.
Dion segera mengenggam tangan Laras, "Maaf, maafkan aku sayang." kata Dion lalu mencium tangan Laras.
"Mas yakin masih belum mau cerita?" tanya Laras membuat Dion menghela nafas panjang.
"Aku takut kamu terkejut dan ikut terluka jika mendengar semuanya." jelas Dion membuat Laras mengerutkan keningnya heran.
"Apa ini berarti tentang aku?"
Dion menggeleng, "Bukan kamu tapi kakak mu Naya."
"Sebenarnya Yaya itu bukan putri kandungku.''
Deg... jantung Laras serasa berhenti berdetak mendengar pengakuan mengejutkan dari Dion.
....
Radit pulang ke apartemen dalam keadaan sedikit kacau, Ia memasuki kamarnya dan melihat Caca kekasihnya sudah terlelap diranjangnya.
Radit berjalan mendekati ranjang dan duduk dipinggir ranjang. Ia tatapi wajah lelap Caca yang begitu tenang seolah tanpa beban.
Radit mengeluarkan sesuatu disaku celana nya, Kotak bludru berwarna merah yang didalamnya terdapat cincin berlian untuk Caca.
Harusnya semalam setelah pulang dari rumah Mama, Radit memberikan cincin itu, namun karena Radit mendengar kabar dari orang sewaan nya mendadak pikiran Radit kacau dan buyar hingga membatalkan rencana nya itu.
Radit membuka kotak beludru dan mengambil cincin berlian nya, Ia lalu memasangkan cincin itu ke jari manis Caca.
Tanpa Radit sadari semua gerakan tangan nya membangunkan Caca.
"Kamu sudah pulang?" tanya Caca dengan wajah masih mengantuk.
Radit tersenyum, Ia kecup kening Caca lalu berbisik "Tidur saja lagi, aku sepertinya juga ingin segera tidur."
__ADS_1
"Makan?" tanya Caca dengan mata terpejam.
"Sudah, tidurlah lagi." balas Radit dan tak menunggu lama Caca kembali terlelap.
Paginya Caca bangun lebih dulu dari Radit, Ia tatapi wajah Radit yang masih terlelap disampingnya.
Radit cinta pertama Caca dan Caca berharap Radit menjadi cinta terakhirnya. Caca masih mengingat momen pertama kali mereka bertemu. Waktu itu Caca tak sengaja menumpahkan es coklat yang Ia bawa dan terkena baju Radit dan siapa sangka setelah kejadian itu mereka menjadi dekat hingga akhirnya Radit menyatakan cinta padanya. Tentu saja Caca langsung menerima Radit karena sejak awal Caca memang sudah menyukai Radit.
"Will you marry me?" suara Radit terdengar serak mengejutkan Caca.
Radit membuka matanya, melihat Caca masih terkejut dengan ucapan nya.
"Maukah kamu menjadi istriku?" tanya Radit sekali lagi dan barulah Caca sadar jika di jari manisnya sudah tersemat sebuah cincin berlian.
Seketika tangis haru Caca pecah, meskipun bukan lamaran secara romantis namun ini terasa sangat manis.
"Diterima atau tidak kamu akan tetap menjadi istriku karena sudah ada cincin di jari manismu." kata Radit yang langsung membuat Caca menghentikan tangisnya, Caca terkekeh dan memukul dada bidang Radit. Tak lama Radit membawa Caca ke dalam pelukan nya.
"I Love you..."
''I Love you too "
Radit mengecup kening Caca penuh cinta.
Setelah puas memeluk satu sama lain, Caca segera bangun untuk mandi dan menyiapkan sarapan Radit.
"Aku harap kamu jangan menerima job keluar negeri lagi."
"Karena aku ingin kita segera menikah."
"Kenapa buru buru bee?" tanya Caca mengangkat omelet dengan spatula dan meletakan dipiring Radit.
"Memang seharusnya kita segera menikah. memangnya kamu masih mau menjalin hubungan seperti ini terus?" tanya Radit yang langsung digelengi Caca.
" Dan satu hal yang harus kamu tau tentang aku." kata Radit yang langsung membuat Caca menatapnya.
"Ak-aku memiliki putri dari wanita lain."
Pyarrrrr...
Gelas yang baru saja Caca pegang sudah jatuh ke lantai.
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komen
__ADS_1