
Zahra yang baru saja selesai mandi, kini sedang dibantu Laras menguncir rambutnya. Sedari tadi Zahra tak henti hentinya mengoceh membicarakan tentang Nita dan Radit.
"Oma itu baik ya Ma, Om Radit juga baik ternyata padahal Yaya pikir om Radit itu nakal." oceh Zahra.
"Mama boleh minta tolong nggak sama Yaya?"
"Minta tolong ambilin apa Ma?" tanya Zahra polos.
"Nggak, bukan ambilin sayang. Mama minta tolong Yaya jangan cerita sama Papa tentang Oma dan Om Radit ya." pinta Laras yang sedari tadi khawatir jika Zahra tak sengaja mengoceh tentang Radit didepan Dion.
"Kenapa Ma?"
"Mama cuma nggak mau Papa marah aja kalau tahu Zahra ketemu sama Om radit sama Oma." jelas Laras membuat Zahra tampak bingung.
"Papa nggak suka sama om radit dan Oma ya Ma? padahal Om Radit dan Oma kan nggak nakal." kata Zahra dengan polosnya.
"Bukan berarti Papa nggak suka sayang, cuma Mama takut aja Papa marah. bisa kan Yaya bantuin Mama nggak usah cerita sama Papa?"
Zahra mengangguk setuju, "Iya Mama, Yaya nggak akan cerita sama Papa."
Laras tersenyum lega, "Pokoknya kalau ada Papa nggak boleh cerita tentang Om Radit dan Oma ya."
Zahra kembali mengangguk, "Iya Mama."
"Duh pinter banget sih anak Mama." kata Laras sambil mengelus rambut Zahra yang baru saja Ia sisir.
"Yaya laper Mama." keluh Zahra.
"Oke deh, kita makan duluan ya sekarang." Laras mengendong Zahra mengajaknya turun kebawah.
Dimeja makan Bik Inah sudah menyiapkan makan malam untuk mereka, meski ini masih sore sudah menjadi kebiasaan Zahra makan di sore hari. itulah yang kadang membuat Laras tak lagi ikut makan malam bersama Dion saat Dion sudah pulang.
Entah sore ini terasa sangat berbeda dari sore sore biasanya, Laras makan dengan lahap sekali bahkan Ia sampai tambah nasi dan lauknya.
"Mama makan banyak." kata Zahra yang heran karena biasanya Laras selesai lebih dulu namun ini Laras masih memgambil nasi hingga Zahra yang selesai lebih dulu.
Hingga keduanya selesai, Laras mengajak Zahra menonton televisi.
"Bik Inah sibuk nggak?" tanya Laras saat Bik Inah baru saja melewati ruang tengah.
"Nggak Non, ada apa Non?" tanya Bik Inah.
__ADS_1
"Boleh minta tolong beliin martabak manis nggak bik? tumben banget pengen ini." kata Laras sambil mengulurkan selembar uang 50 ribuan.
"Iya Non, Bik inah beliin."
"Topingnya coklat keju aja ya bik, nggak usah dikasih kacang." jelas Laras yang langsung diangguki Bik Inah.
"Siap Non." kata Bik Inah dan langsung keluar rumah.
"Mama masih laper?" tanya Zahra yang tidur dipangkuan Laras.
Laras tersenyum malu, "Mama pengen martabak aja."
"Padahal tadi Mama udah makan banyak banget ya," kata Zahra yang lagi lagi membuat Laras tersenyum malu.
Tak menunggu lama martabak pesanan Laras datang, namun baru mengambil sepotong dan menyuapkan ke mulutnya Laras langsung merasakan mual hingga dirinya harus berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
"Duh jangan jangan Non hamil lagi." kata Bik Inah mengelus punggung Laras.
Laras hanya menggeleng pelan, Ia tak ingin terlalu berharap lebih lagi karena takut mengecewakan Dion.
"Gegara kekenyangan ini bik, tadi udah makan banyak banget soalnya." kata Laras.
"Ya udah, Non istirahat aja biar Non Yaya saya yang temenin."
"Mama kok lari lari sih?" tanya Zahra polos.
"Iya Mama tadi ke kamar mandi." balas Laras yang langsung diangguki Zahra.
Sementara itu ditempat lain, Radit membantu Caca membawa koper Caca masuk. Meski sebenarnya Caca sudah mengetahui sandi masuk apartemen Radit entah mengapa Caca malah menunggu diluar.
""Harusnya kamu masuk dulu sayang, nunggu didalam." kata Radit terlihat bahagia. baru kemarin Caca pergi sekarang sudah kembali lagi. Memang wanita nya itu tak bisa jauh lama darinya.
"Aku mau ketemu anak itu." kata Caca lagi masih berdiri tak mau duduk.
Radit menarik tangan Caca dan membawanya ke pangkuan, Ia memeluk Caca sebentar sebelum akhirnya mengatakan "Makasih sudah kembali dan menerima masa lalu ku."
Bulir bulir air mata Caca mulai berjatuhan, "Kamu jahat!"
"Iya aku tahu, maafin aku." kata Radit mengusap air mata Caca.
"Pokoknya aku mau ketemu anak itu!"
__ADS_1
"Iya, besok kita ke rumah anak itu." kata Radit "Namanya Zahra." kata Radit lagi.
Caca sudah tak menangis namun malah memukuli Radit, "Kenapa kamu bisa setega itu dengan wanita itu. apa aku juga akan diperlakukan seperti itu nanti?"
Radit menggeleng, "Nggak sayang, nggak akan terjadi lagi apalagi sama kamu. aku sayang banget sama kamu." kata Radit dengan mata sayu menatap mata Caca yang penuh ketakutan.
"Hanya sekali dulu dan aku janji nggak akan terulang sama kamu."
"Aku benci sama kamu." kata Caca membuat Radit kembali memeluknya.
"Kamu boleh benci sama aku tapi kamu nggak boleh ninggalin aku."
Caca kembali terisak di dada Radit.
...
Pukul 11 malam Dion baru pulang, rumah sudah sepi bahkan yang membuka pintu Bik Inah bukan Laras.
"Non Laras sudah tidur Den, biar Bik Inah yang menghangatkan makan malamnya." jelas Bik Inah yang langsung diangguki Dion.
Dion segera memasuki kamarnya untuk mandi, melihat Laras memang sudah terlelap pulas di ranjangnya. Dion tak tega harus membangunkan Laras meskipun dirinya sebenarnya juga merindukan istrinya.
Selesai mandi, Dion terkejut Laras sudah tak berada diranjang dan akhirnya menemukan Laras dimeja makan menyiapkan makan malam untuknya.
"Kamu bangun lagi?" tanya Dion mengecup pipi Laras membuat Laras terkejut.
"Tadi ketiduran, maaf mas sampai nggak tau kamu sudah pulang."
"Ck, harusnya tidur lagi aja kalau capek." kata Dion langsung menarik kursi dan duduk disana.
"Kok tumben ada martabak." Dion heran melihat bungkus martabak yang ada dimeja makan.
"Tadi pengen makanya beli.".
"kok masih utuh?" heran Dion melihat masih banyak potongan martabak.
"Nggak tau, tadi pengen habis makan satu potong malah mual." jelas Laras.
"Jangan jangan kamu hamil sayang." kata Dion yang langsung membuat Laras memucat.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komen