Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
22


__ADS_3

Pagi ini Dion berangkat lebih pagi dari biasanya, Laras yang baru bangun saja terkejut melihat Dion sudah rapi dengan Kemeja kantornya.


"Mas yakin mau berangkat sekarang?" tanya Laras melihat ini masih pukul 5 pagi.


"Iya, aku harus ke bandung sekarang, ada yang harus aku urus." jelas Dion.


Laras bergegas bangkit "Nginep dong mas?"


"Nggaklah, kenapa? takut kangen kalau aku nya nginep?" tanya Dion yang membuat Laras menuduk malu.


"Aku mau nyiapin baju ganti kalau mas mau nginep." jelas Laras.


"Hmm, enggak perlu, aku nggak nginep kok palingan ntar pulangnya agak malem jadi nggak usah ditungguin ya." jelas Dion.


"Iya udah mas, aku siapin sarapan dulu aja ya." kata Laras.


"Keburu telat sayang."


Deg, jantung Laras berdegup kencang kala Dion memanggilnya Sayang.


"Cu-cuma roti bakar sama kopi kok mas, bentar doang." kata Laras.


"Ya udah deh, pasrah aja aku mah kalau dipaksa." goda Dion melihat Laras gugup dan malu malu kucing.


Laras segera keluar dari kamar tak peduli dengan ocehan Dion yang menggodanya.


Dion turun kebawah dan melihat Laras sudah menyiapkan roti bakar dan juga kopi untuknya.


Cup, Dion mencium pipi Laras saat Laras sibuk mengaduk kopi.


"Morning kiss." kata Dion, sedangkan Laras hanya menunduk malu dan wajahnya terasa memanas.


"Padahal aku belum cuci muka."


"Pantes aja masih bau iler." kata Dion sambil terkekeh.


"Mas ih, nyebelin." Laras cemberut membuat Dion terkekeh.


"Eh Non Laras sama Tuan kok tumben pagi gini udah dibawah?" tanya Bik Inah yang menganggu interaksi keduanya.


"Iya bik, mas Dion berangkat pagi soalnya, ini aku buatin kopi sama roti bakar." kata Laras.


"Duh Non, kok nggak bangunin Bibik aja sih." kata Bik Inah merasa tak enak.


"Nggak apa apa lagi bi, cuma bakar roti sama bikin kopi." jelas Laras.


"Aku mau selai coklat." kata Dion merasa terabaikan.


"Iya mas." Laras segera mengoleskan selai coklat pada roti yang baru saja keluar dari pemanggang.

__ADS_1


Bik Inah segera pergi dari sana, membiarkan kedua majikannya itu berduaan.


"Nanti malem nggak usah nungguin aku pulang," Kata Dion lagi sambil mengunyah roti bakarnya.


"Iya iya mas, tadi mas juga udah bilang kan?" kata Laras.


"Hmm, siapa tau aja kamu bandel tetep nungguin aku."


"Ya nggak apa apa, kan memang udah tugas istri buat nungguin suaminya pulang." entah Laras sadar atau tidak bisa bisanya mengucapkan kata itu secara gamblang.


"Aku udah dianggep suami nih?" goda Dion membuat Laras menuduk malu.


"Ehm, mas kalau Zahra nanyain gimana?" Laras mengalihkan pembicaraan membuat Dion tersenyum geli.


"Nanti biar aku video call kalau udah sampai bandung." jelas Dion yang hanya diangguki Laras.


Suara deru mobil terdengan memasuki pekarangan rumah Dion.


"Itu Reno kayaknya udah dateng." kata Dion segera menyeruput kopi hangatnya.


"Pelan pelan mas." kata Laras melihat Dion terburu buru.


"Iya sayang, ya udah mas berangkat dulu, kalau ada apa apa dirumah langsung kabari mas ya." kata Dion mengecup kening Laras lalu melenggang keluar.


Laras menarik nafas, mengatur jantungnya yang sedari tadi berdisko karena perlakuan Dion meskipun sudah biasa Dion melakukan ini padanya namun entahlah Laras masih saja gugup.


...


"Lho, papa mana?" tanya Zahra sambil celinggukan.


"Papa udah berangkat kerja sayang."


"Kok papa nggak pamit sama Yaya." kata Zahra terdengar sedih.


Laras segera membawa tubuh mungil Zahra ke pangkuannya.


"Sayang, papa tadi buru buru karena takut ketinggalan pesawat, tapi kata Papa nanti bakalan video call Yaya kok kalau udah sampai sana." jelas Laras yang membuat Zahra tersenyum sumringah.


"Yey, sekarang aja Ma, videocall nya." pinta Zahra.


"Nanti ya sayang, kan kalau sekarang Papa masih naik pesawat jadi nggak boleh pegang ponsel."


"Papa naik pesawat, nanti malem pulang nggak?" tanya Zahra lagi.


"Katanya Papa bakalan pulang malem banget jadi Yaya ketemu Papa besok pagi aja ya?" kata Laras yang hanya diangguki polos Zahra.


Laras mulai menyuapkan sarapan Zahra, sambil sabar mendengar celotehan serta pertanyaan yang Zahra ajukan pada Laras.


Tepat pukul 10, Ponsel Laras berdering dan menampilkan foto whatsapp Dion yang akan melakukan panggilan video call.

__ADS_1


"Sayang, ini papa udah telepon." kata Laras pada Zahra yang duduk disampingnya dan terlihat fokus menonton kartun kesukaannya.


Laras menggeser tombol warna hijau untuk memulai.percakapan dan mengarahkan ponselnya pada Zahra.


"Papa." panggil Zahra sumringah kala melihat Dion melambaikan tangan nya kearah Zahra.


"Duh, princess papa kok cantik banget sih." puji Dion.


"Iya dong pa, kan Yaya udah mandi."


"Iya deh iya, oh ya tadi yaya nangis nggak pas tau papa udah berangkat kerja?" goda Dion.


"Endak dong pa."


"Nangis denk Pa." celetuk Laras menimpali membuat Zahra protes.


"Endak Ma, yaya kan ndak nangis." protes Zahra kesal membuat gelak tawa Dion dan Laras.


"Papa cepet pulang, Yaya nggak mau sama Mama, nakal... Mama Nakal." ungkap bocah itu dengan wajah cemberut.


"Duh ngambek, iya deh iya enggak nangis kok Pa, kan Yaya pinter!" kata Laras sambil mengelus Zahra.


"Mama nakal ya nak? biar nanti papa kasih hukuman buat Mama." kata Dion membuat Zahra tersenyum geli.


"Iya Pa, nanti Mama marahin ya."


"Lho kok gitu kan Mama udah minta maaf." kata Laras masih terkekeh.


"Tapi Yaya masih kesel sama Mama." kata Zahra acuh membuat Laras gemas mencium pipi gembul Zahra.


"Telepon siapa sih?" tanya Suara wanita yang ada didekat Dion membuat Laras terkejut lalu menjauh dari ponsel agar tak tersorot.


"Ini telepon anak aku." balas Dion yang hanya mengatakan anak tidak dengan istri membuat Laras tak dianggap.


"Zahra? sini aku juga mau ngomong." kata wanita itu yang masih bisa didengar oleh Laras.


"Haloo Zahra sayang, masih inget nggak sama tante?" tanya Wanita itu sedangkan Zahra hanya diam memandang wanita itu didalam layar ponsel.


"Kamu gemes banget sih nak, ini tante Sella masa lupa sih kan baru kemarin ketemu." kata wanita yang bernama Sella itu.


Kemarin? kemarin kapan Zahra pernah bertemu dengannya? dan sebenarnya siapa Sella itu? dia terlihat dekat dengan Dion batin Laras menjadi penasaran.


"Oo ante Sella, Papa mana Ante? Yaya masih pengen ngomong sama Papa." kata Zahra dengan nada tak suka.


"Oke deh, ni mas Zahra nya nggak mau ngomong sama aku," ungkap Sella.


"Ya udah sana kamu mandi dulu." suara percakapan Dion dengan Sella terdengar membuat Laras semakin penasaraan.


Sebenarnya apa yang mereka lakukan disana? dan sedekat apa mereka? batin Laras menjadi kalut.

__ADS_1


TBC


__ADS_2