Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
82


__ADS_3

Dion kembali ke kamar Laras setelah mendapatkan apa yang Ia inginkan, laptop miliknya.


Dion memang meminta Reno untuk mengambilkan laptopnya karena Ia ingin melihat kejadian pagi tadi melalui Cctv rumahnya.


Sebelum duduk, Dion sempat merapikan selimut Laras yang kini masih terlelap.


Dion duduk disofa yang agak jauh dari ranjang laras karena tak ingin menganggu tidur Laras.


Dion segera membuka laptopnya dan mulai menyalakan rekaman Cctv dari mulai pukul 8 pagi.


Dan memang saat Dion baru saja berangkat, Para pencuri itu mulai beraksi. Tak heran karena ada Cici yang notaben nya pernah bekerja dirumah Dion jadi tahu bagaimana keadaan rumah di jam tertentu.


Hati Dion merasa teriris kala melihat Laras sempat ditarik dan dipaksa duduk setelah itu mereka mengikat tangan Laras, membuat Dion sadar jika memang ada luka di pergelangan tangan Laras yang mungkin disebabkan oleh ikatan tali yang cukup kuat.


Tak cukup sampai disitu, Dion kembali merasakan sakit dan sangat marah saat melihat bagaimana salah seorang pencuri itu membanting tubuh Zahra dengan santai dan mudahnya, seolah Zahra itu hanyalah boneka yang bisa diperlakukan seenaknya.


Dari rekaman Cctv yang mengerikan itu, ada satu kejadian yang melegakan menurut Dion. Saat Radit datang dan langsung menghajar satu persatu kawanan pencuri bahkan Radit seolah tak peduli jika salah satu pencuri itu seorang wanita. Dia tetap menghajarnya begitu saja hingga mereka babak belur.


"Bagus." tanpa disadari senyum Dion merekah melihat keahlian bela diri Radit yang luar biasa.


"Mas.." suara lirih Laras membuyarkan fokus Dion pada layar laptopnya.


"Sayang..." dion segera bangkit dan mendekati Laras yang berusaha ingin bangun.


"Minum..." pinta Laras.


Dengan cepat Dion mengambilkan segelas air putih lalu membantu Laras minum air putih itu.


"Aku mau ketemu Zahra." kata Laras usai menghabiskan segelas air.


"Sayang, kamu istirahat dulu aja. besok kalau udah fit aku anterin kamu keruangan Zahra." kata Dion.


"Kita makan malam dulu aja ya?"


Laras menggeleng pelan, "Aku cuma mau ketemu Zahra. disana Zahra sama siapa?"


"Zahra sudah aman sama penjaganya." kata Dion.


"Radit, aku minta dia buat nemenin Zahra sementara sampai kamu sembuh." kata Dion yang membuat Laras terdiam.


"Tapi aku mau lihat keadaan Zahra." kata Laras lagi.


"Aku nggak mau kamu semakin down kalau lihat keadaan Zahra." kata Dion mengingatkan.


"Aku sudah baik baik aja mas." Laras mencoba menyakinkan Dion.

__ADS_1


"Aku mau lihat Zahra sekarang."


Dion menghela nafas panjang, "Ya sudah, aku cari kursi roda dulu." kata Dion yang langsung membuat Laras tersenyum geli.


"Kok malah senyum?" heran Dion sedikit senang sebenarnya melihat Laras tersenyum seperti itu.


"Aku kan masih bisa jalan mas, ngapain pakai kursi roda?"


"Ck, kamu kan harusnya bedrest dulu, nggak boleh kecapekan jadi baiknya ya pakai kursi roda kalau mau keluar." kata Dion yang langsung diangguki Laras begitu saja.


Terserah mau bagaimanapun asalkan Laras bisa melihat keadaan Zahra.


Dion mendorong kursi roda ke ruangan Zahra. Baru sampai didepan pintu bersamaan Radit keluar dari ruangan Zahra.


"Eh, gue baru mau kesana." kata Radit terkejut melihat kedatangan Dion dan Laras.


"Ada apa?" tanya Dion dingin namun rait wajahnya langsung berubah khawatir.


"Zahra udah sadar."


Dion dan Laras sama sama tersenyum lega, mereka pun memasuki ruangan Zahra dan melihat Zahra sedang bercanda dengan Caca.


Laras melihat seisi ruangan Zahra yang dihias menggunakan balon dan kertas warna, ada banyak boneka juga. Dan satu yang menarik mata Laras ada tulisan get well soon Zahra sayang. tanpa sadar baik Laras maupun Dion tersenyum melihat Radit begitu perhatian dengan Zahra bahkan memikirkan hiasan ruangan sampai seperti ini.


Mata polos Zahra melihat Laras dan Dion yang berjalan mendekat.


"Mama.... Papa..." kata Zahra dengan senyum sumringah membuat Dion sedikit lega.


Tadinya ada beberapa hal yang dikhawatirkan oleh Dion. mengingat dokter mengatakan jika sebagian ingatan Zahra hilang, Dion khawatir jika Zahra sama sekali tak mengingat dirinya dan Laras namun sekarang Dion sangat bersyukur karena kekhawatiran itu tidak terjadi.


"Mama kok pakai kursi roda?" tanya Zahra polos membuat Laras tak kuasa untuk menahan tangisnya.


"Yaya cepet sembuh sayang, biar kita bisa segera nonton film di bioskop. katanya Yaya mau nonton film." kata Dion sambil mengelusi pipi Zahra.


"Bioskop apa pah?" kening Zahra mengkerut tak paham dengan ucapan Dion.


"Kita kan mau nonton film barbie di bioskop sayang." kata Laras dengan suara serak masih mencoba menahan tangisnya.


"Yey kapan kita ke bioskop?"


"Besok ya kalau Zahra udah sembuh." kata Dion yang langsung diangguki Zahra.


"Yaya udah sembuh kok, cuma di sini masih sakit." kata Zahra sambil memeganggi kepalanya.


"Ya udah Yaya istirahat lagi biar Mama juga istirahat lagi."

__ADS_1


"Aku masih mau di sini mas nemenin Yaya." pinta Laras.


"Besok kita kesini lagi, please ya kamu juga butuh istirahat." kata Dion dengan nada memohon.


"Bener kata suami mu Ras, kamu butuh istirahat. Yaya aman sama aku dan Mas Radit." Caca ikut menimpali.


Laras menghela nafas panjang sebelum akhirnya Ia mengangguk setuju.


"Sayang, Mama balik ke kamar mama ya. kamu yang pinter sama Tante Caca dan Om radit." kata Laras sambil mengelusi pipi Zahra.


"Iya Mama, Yaya nggak nakal kok. janji." balas Zahra sambil mengacungkan jarinya membuat Laras tertawa.


Setelah puas, Dion kembali mendorong kursi roda ke ruangan Laras lagi.


"Mas, aku juga mau lihat Bik Inah." kata Laras sebelum mereka sampai ke kamar.


"Tapi bentar aja ya."


Laras mengangguk setuju.


Keduanya memasuki kamar Bik Inah dimana disana ada Neni, anak bik Inah dari kampung yang sengaja datang untuk merawat ibunya.


"Ibu baru aja tidur. tadi ngeluh sakit perut trus saya panggil dokternya langsung dikasih obat tidur." jelas Neni yang masih berumur 20 tahun.


"Ya sudah besok pagi saja kami kesini lagi. terimakasih sudah mau datang dan merawat Bik Inah." kata Dion langsung mengajak Laras keluar dari ruang rawat Bik Inah.


"Mereka separah apa mas?" tanya Laras kala keduanya sudah sampai di kamar Laras.


Dion hanya diam saja.


"Mas..."


"Zahra gegar otak, kalau Bik Inah ada lebam di perutnya." balas Dion lalu memeluk Laras erat.


"Semua baik baik saja, jangan pikirkan apapun lagi."


"Aku akan memberikan hukuman yang berat pada mereka."


Laras mengangguk setuju, "Benar mas, mereka memang harus mendapatkan hukuman yang setimpal."


"Aku benci banget sama mereka." ucap Laras lalu kembali menangis.


BERSAMBUNG


jangan lupa like vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2