
Setelah memikirkan selama beberapa hari, akhirnya Sinta datang kembali ke kantor untuk mengundurkan diri secara terhormat.
Dan saat Ia memasuki lift, tak sengaja Ia berbarengan dengan Bima, kekasihnya yang beberapa hari menghilang tak menemui dirinya disaat Sinta sedang jatuh terpuruk akibat pelecehan yang Ia terima karena Rama.
Bima tersenyum ke arah Sinta, karena Ia memang belum mengetahui apa yang sudah terjadi pada kekasihnya itu. berbeda dengan Sinta yang menatap kesal ke arah Bima.
Saat dikantor, keduanya memang menyembunyikan status hubungan mereka karena Bima tak ingin Rama mengetahui lalu tak menggunakan Sinta lagi. tentu akan merugikan untuk keduanya karena Sinta tak bisa memanfaatkan uang Rama lagi.
Keduanya keluar dari lift, berjalan menuju ruangan masing masing namun tatapan semua orang seolah menatap keduanya dengan mata jijik sambil berbisik bisik.
"Masih berani kalian ke kantor?" tanya Thea membuat Sinta dan Bima langsung saja menghentikan langkah mereka.
"Jangan bilang kalian belum buka grup WA perusahaan." Thea terkejut, Bima dan Sinta pun tak kalah terkejut.
Keduanya mengeluarkan ponsel mereka dan membuka apa yang terjadi,
Seketika Sinta menjatuhkan ponselnya, begitu juga dengan Bima terlihat sekali tangan nya bergetar.
Itu video mereka saat bercinta dan Bima mengatakan untuk memberikan kertas kosong Rama. semuanya terdengar jelas sekali bahkan ******* mereka berdua juga terdengar.
Dengan wajah pucat dan tangan gemetar, Sinta kembali mengambil ponselnya. Sinta melihat video lain yang tak kalah membuatnya terkejut.
Video Bima dengan wanita lain, yang sangat Ia kenali karena wanita itu teman dekat Sinta.
Sinta menatap ke arah Bima, tak percaya Bima telah mengkhianati cintanya.
"Aku bisa jelasin semuanya." kata Bima membalas tatapan Sinta.
"Ck, kalau gue jadi kalian, udah cabut nggak bakal ngantor lagi." ujar Thea membuyarkan lamunan keduanya.
"Siapa yang nyebarin videonya!" Bima akhirnya berani bertanya.
"Pak Rama sendiri, beruntung banget Pak Rama cuma nyebarin aib kalian bukan malah mejarain kalian."
Dengan langkah tergesa dan marah, Bima serta Sinta berjalan keruangan Rama.
"Oh kalian sudah datang ternyata, bagaimana kejutan nya? seneng kan?" tanya Rama sambil tertawa.
"Bapak bisa dituntut karena menyebarkan video pornografi!" ucap Bima memberanikan diri sementara Sinta sudah menahan Bima untuk tak mengatakan apapun namun gagal.
"Ah begitu, ya sudah laporkan saja sana." kata Rama santai "Tapi saya bisa pastikan kalian lah yang akan masuk penjara lebih dulu."
"Kami tidak bersalah bagaimana ba-"
"Kamu meminta Sinta memberikan kertas kosong dan mengambil dana perusahaan, apa itu bukan kesalahan?"
Glek... Bima menelan ludahnya, bodohnya Ia tak menyadari jika Ia sendiri sudah mengungkapkan segalanya divideo itu.
"Jadi bagaimana? masih mau melaporkan saya huh?" tantang Rama dengan senyum menyerigai.
"Sa-saya mau mengundurkan diri pak." kata Sinta sambil menunduk.
Rama malah tertawa,
__ADS_1
"mengundurkan diri? aku bahkan sudah memecat kalian sejak kemarin." Sontak Bima dan Sinta menatap ke arah Rama bersamaan.
"Jadi lebih baik kalian pergi sebelum satpam datang untuk mengusir kalian."
Dengan tangan mengepal, Sinta dan Bima keluar dari ruangan Rama.
Rama sudah benar benar menghancurkan keduanya dalam hal apapun.
Sementara di ruangan nya, Rama tersenyum puas. Dengan begini mungkin sudah tidak akan ada lagi yang akan berani mengkhianatinya.
...
"Besok jadi libur mas?" tanya Laras saat baru saja Dion memasuki kamar setelah pulang kerja.
Namun tak ada jawaban, Dion malah terdiam.
"Tuh kan, pasti nggak bisa libur nih. makanya mas, jangan kasih tau Yaya dulu jadi nggak bikin kecewa." omel Laras membuat Dion tak bisa menahan untuk tidak tersenyum.
"Malah senyum lagi." Laras memandang kesal ke arah suaminya. Ia hanya tak bisa membayangkan bagaimana kecewa dan rewelnya Zahra besok saat tau tak jadi pergi ke kebun binatang.
"Kamu kok gemesin sih kalau kayak gini?" Dion berniat mencium pipi Laras namun dengan cepat Laras menghindar.
"Apa sih mas, aku lagi kesel sama mas!"
Dengan cepat Dion memeluk Laras dari belakang membuat Laras tak bisa menghindar.
"Udah berani sekarang huh?"
"Tuh kan, nyebelin."
"Kamu tuh gemesin banget tau nggak? aku aja belum jawab apa apa udah main ngomel aja kayak emak emak kurang jatah." ejek Dion membuat Laras melepas paksa pelukan dengan kesal.
"Mas ah, nyebelin Rese!"
Dion tertawa lagi "Besok aku jadi libur sayang."
"Eh..."
"Eh apa? mau ngomel lagi." goda Dion yang kali ini membuat wajah Laras tersenyum malu sudah berpikir Dion tak jadi libur.
"Ya udah mas mandi sana, biar aku hangatin makan malamnya." ucap Laras dengan suara lirih menahan malu.
"Makan kamu aja gimana?" tanya Dion sambil menciumi leher Laras.
"Mas .."
Dion terkekeh, "Iya iya nyonya, aku mandi dulu biar nanti semangat bikin dedeknya." ucap Dion membuat Laras memutar bola matanya malas.
"Tadi kenapa nggak ngirim makan siang?" tanya Dion saat di meja makan mengingat siang tadi Laras tidak datang, hanya makanan saja yang datang diambil oleh Reno.
"Biasa mas, Yaya reweel. aku nggak tega ninggalin. maaf ya." kata Laras yang sudah mengambilkan nasi dipiring Dion lalu meletakan dimeja.
"Besok besok ajak aja nggak apa apa."
__ADS_1
"Beneran boleh mas?" Laras terlihat senang.
"Iya, mau gimana lagi." desah Dion.
Laras tersenyum, "Tapi mas jangan mesumin aku kalau aku ngajak Yaya."
"Nggaklah, aku ngeliatin kamu aja. buat nambah semangat." balas Dion "Mesumnya kalau pas pulang gini."
Wajah Laras mendadak panas mendengar ucapan mesum Dion membuat Dion terkekeh.
Selesai makan malan, Dion memasuki kamar diikuti Laras. Dion terlihat melihat kalender yang tertempel dikamar mereka.
"Ngapain mas?" tanya Laras berjalan mendekat.
"Kita nikah udah hampir 2minggu, tapi kayaknya kamu belum haid ya?"
Laras mencoba mengingat dan baru menyadari jika tanggal haid nya sudah terlewat.
Laras terlambat.
"Bulan kemarin aku haid tanggal 3, sekarang udah tanggal 15 bulan sekarang. udah telat 12 hari." Gumam Laras.
"Jangan jangan kamu..." Dion langsung tersenyum memeluk Laras.
"Besok pagi kita check oke?" kata Dion terlihat bersemangat.
"Tapi kan belum beli tespack." keluh Laras.
"Masalah gampang," Dion mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
Dan tak berapa lama Reno asisten serta sopir Dion datang dengan membawa bungkusan berisi beberapa tespack dan wajahnya terlihat masam.
"Saya malu Tuan, dikira saya sudah menghamili anak orang." keluh Reno membuat Dion terkekeh.
"Tenang, besok saya kasih bonus."
Mata Reno langsung saja membulat senang "Terimakasih Tuan, terimakasih."
Dion membawa masuk tespacknya dan meletakan dimeja.
"Kamu kenapa?" tanya Dion menatap Laras yang terlihat khawatir.
"Aku takut hasilnya mengecewakan mas."
Dion tersenyum, "Kalau gagal kita coba sampai berhasil. oke."
Laras tersenyum lega mendengarnya.
BERSAMBUNG....
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN.
.
__ADS_1