
Dion tak henti hentinya menatap sebal ke arah Reno yang saat ini sedang menyetir mobil.
"Senang kau? bukan nya membantuku mencari alasan malah menertawakanku!" omel Dion pada Reno membuat Reno hanya bisa tersenyum merasa tak enak.
"Maafkan saya Tuan, Saya takut salah bicara jadi lebih baik saya diam." balas Reno mengingat tadi ucapan nya sempat dipotong oleh Dion membuatnya tak memiliki kuasa untuk mengatakan apapun.
"Lagipula bagaimana bisa dia hanya lulusan Smp?" omel Dion masih tak terima.
Setelah salah bicara, Dion memang langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi karena jujur Dion takut di curigai oleh Ibu Cici.
"Dikampung kebanyakan memang tidak melanjutkan sekolah apalagi kuliah karena mereka lebih memilih merantau dikota untuk bekerja Tuan." jelas Reno.
"Aku sudah tahu itu!" sentak Dion merasa Reno sok pintar didepan nya.
"Maafkan saya Tuan, saya pikir Tuan belum tahu."
"Kau menghinaku?" kesal Dion lagi.
"Ti-tidak Tuan, maafkan saya."
Dion menatap ke arah luar, "Kemana kita harus mencari wanita itu." gumam nya yang masih bisa didengar oleh Reno.
"Apa sebaiknya kita lapor polisi saja Tuan?" saran Reno.
"Tidak, jangan dulu. lebih baik kita cari sendiri dulu. aku hanya ingin dia mengembalikan emasnya karena jika harus memenjarakan nya rasanya aku tak tega melihat ibunya tadi." jelas Dion membuat Reno mengangguk setuju.
Dion memang tidak membenarkan apa yang dilakukan Cici, bahkan sempat Ia ingin melaporkan Cici ke polisi namun setelah pulang ke kampung halaman Cici dan melihat Ibu Cici yang sedang sakit sakitan, rasanya tak tega jika harus membuat Cici dipenjara.
"Lalu kita kemana Tuan?" tanya Reno.
"Pulang saja dulu, rasanya aku sudah lelah. biar besok aku menyuruh orang untuk mencari Cici."
"Baik Tuan."
Dion sampai dirumah malam hari pukul 8 malam, Nyatanya Ia sudah ditunggu semua orang dirumah termasuk Bik Inah yang berharap cemas.
"Maafkan Dion Bik, masih belum bisa nemuin orangnya." kata Dion dengan raut wajah bersalah.
"Ya Allah aden, nggak apa apa. ya sudah nggak perlu diperpanjang lagi. mungkin memang sudah bukan rezeki nya Bibik lagi." kata Bik Inah.
"Bibik hanya merasa tak enak karena itu emas peninggalan dari Mama Den Dion." jelas Bik Inah lagi.
Dion mengangguk, "Besok Dion bakal nyuruh orang buat nyari dimana keberadaan Cici agar emas itu bisa kembali." kata Dion.
__ADS_1
"Gimana kalau udah dijual Mas?" tanya Laras.
"Seenggaknya kita tahu dimana dia jual emas itu dan kita bisa nebus emas itu kembali." balas Dion.
"Bibik nggak apa apa beneran Aden, nggak perlu sampai nebus emas nya kalau memang sudah dijual." timpal Bik Inah.
"Udah tenang aja Bik, baiknya kita istirahat aja ya sekarang." ajak Dion.
"Makasih ya den, sekali lagi makasih banyak." kata Bik Inah dengan mata berkaca kaca dan hanya diangguki oleh Dion.
"Udah, bik inah istirahat aja dulu, jangan dipikirin lagi. insyaAllah lagi di usahakan biar bisa kembali emasnya." tambah Laras membuat Bik Inah tersenyum.
"Makasih Non, makasih banyak."
Setelah mengobrol cukup lama, ketiganya memasuki kamar masing masing.
"Zahra rewel nggak?" tanya Dion seusai mandi.
"Nyari kamu mas tadi, aku bilang aja kalau ke kantor." kata Laras lalu meletakan setelan piyama untuk Dion diranjang mereka.
"Trus yang di sini rewel nggak?" Dion memeluk Laras dari belakang dan mengelus perut buncit Laras.
"Enggak dong, kan pinter calon anaknya Papa."
Dion yang gemas mendengar suara Laras yang dibuat buat seperti anak kecil pun langsung menciumi pipi Laras.
"Seminggu lagi mas, nggak sibuk kan?"
Dion tersenyum, "Aku pasti luangin waktu buat kalian."
"Makasih Papa."
Dion terkekeh, lagi lagi dirinya dibuat gemas oleh suara cempreng Laras.
....
Dodi menghentikan motornya karena seorang satpam yang memcegatnya saat Dodi hendak memasuki kawasan perumahan.
"Malem malem mau kerumah siapa?" tanya satpam itu dengan wajah curiga menatap ke arah Dodi juga Cici yang membonceng di belakang.
"Saya mau nganter istri saya kerja pak." kata Dodi yang langsung diangguki oleh Cici yang membonceng dibelakangnya.
"Kerja? dirumah siapa? nomor berapa?" tanya Satpam komplek dengan wajah curiga menatap ke arah Cici dengan tatapan tak percaya.
__ADS_1
"Harus banget ya pak kita kasih tahu sedetail itu?" tanya Dodi dengan nada tak suka membuat Cici seketika mencubit pinggang Dodi.
"Demi keamanan komplek perumahan memang harus seperti ini, jika kalian memang kesini untuk bekerja katakan saja dengan siapa kalian bekerja." kata satpam itu tegas.
"Udahlah kita balik aja." bisik Cici ditelinga Dodi.
Dengan wajah kesal, Dodi langsung membalikan motornya dan pergi begitu saja meninggalkan satpam komplek membuat satpam itu hanya bisa geleng geleng kepala dengan ketidaksopanan Cici dan Dodi.
"Harusnya kita langsung nerobos masuk aja." omel Dodi sambil mengemudikan motornya.
"Bahaya, bisa ketauan nanti." Cici mrngingatkan.
"Dan rencana nya mau dibatalin?" tanya Dodi dengan suara sinis.
Cici terdiam sebentar,
"Kita butuh orang lagi," kata Cici.
Dodi menghentikan motornya di pinggir taman kota yang sepi, Ia ajak Cici duduk disalah satu bangku taman yang ada disana.
"Biasanya pas subuh suka nggak ada satpam komplek, kita bisa masuk dulu dan sembunyi di belakang rumah. nanti kalau Dion udah berangkat kerja baru kita beraksi." jelas Cici memberikan idenya.
Dodi tersenyum mendengar ide dari kekasihnya itu.
"Maka dari itu kita butuh orang lagi, kalau kita beraksi cuma 2 orang saja bakal susah, minimal 4 orang biar kita bisa ambil banyak." kata Cici lagi.
"Pinter juga kamu, nggak sia sia punya pacar kayak kamu." puji Dodi membuat Cici tersenyum bangga.
"Tapi kamu janji kan habis ini bakal nikahin aku?"
Dodi mengangguk mantap, "Tentu saja sayang, setelah rencana ini berhasil kita bisa nikah dan hidup enak." kata Dodi membuat Cici tersenyum senang.
Dan pagi sebelum subuh, dengan berjalan kaki Dodi, Cici dan dua teman Dodi pun berjalan penuh hati hati memasuki komplek perumahan dan memang benar tak ada satpam yang semalam mencegat mereka.
Setelah mereka sampai didepan rumah Dion, keempat orang itu memanjat tembok agar bisa masuk ke halaman rumah.
Mereka kini bersembunyi dibelakang rumah, dimana tidak ada yang kesana saat pagi hari.
Tepat pukul 8 pagi saat sinar matahari mulai terik, dan dirasa Dion sudah berangkat ke kantor Cici dan Dodi pun memberi kode pada teman nya agar memasuki rumah lewat pintu belakang, tepatnya didapur. tak lupa mereka mengenakan topeng agar tak dikenali.
"Si-siapa kalian?" Bik Inah yang tengah mencuci piring nampak terkejut.
Bugh, salah satu teman Dodi menendang perut Bik Inah hingga terjatuh dan dengan cepat Cici segera membegap mulut Bik Inah.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komen...