
Laras, Dion dan Zahra kini tengah memasuki area kebun binatang, dimana Dion memang mengajak Zahra jalan jalan kesana.
Ini pertama kalinya untuk Zahra rekreasi ditempat seperti ini, biasanya Zahra hanya diajak ketaman atau mall.
Zahra terlihat antusias sekali melihat banyak hewan disini, biasanya Zahra hanya melihat gambar hewan atau video youtube namun kali ini Ia melihat secara langsung.
Laras terlihat duduk disebuah kursi yang disediakan disana, lelah rasanya mengikuti Zahra mengelilingi kebun binatang.
"Nih.." Dion terlihat menyodorkan satu botol Air mineral untuk Laras.
"Makasih." balas Laras menerima botol itu.
Kini keduanya duduk berdua dikursi itu sambil terus memperhatikan Zahra yang tengah asik mengoceh dan melihat rusa dikandangnya.
Laras sebenarnya sangat gugup, duduk disamping Dion yang sepertinya menunggu Laras untuk menjawab lamaran Dion.
Tapi sejujurnya Laras juga masih belum yakin untuk mengatakan iya, dan tidak tega untuk mengatakan tidak.
"Jadi apa jawabanmu?" tanya Dion.
Baru saja dipikirkan batin Laras.
"Apakah ada perjanjian dipernikahan kita?" tanya Laras.
"Jika memang kau ingin, kita bisa membuatnya." kata Dion.
"Baiklah, aku mau tapi dengan beberapa syarat." kata Laras.
"Tentu, apapun itu. terimakasih sudah benar benar membantu ku dan Zahra." kata Dion.
"Ya aku masih tak tega meninggalkan Zahra sendirian." kata Laras.
"Kita akan membahasnya nanti malam, apapun yang kamu inginkan aku pasti setuju" kata Dion yang hanya diangguki Laras.
Setelah berbincang sebentar, keduanya pun bangkit untuk mengajak Zahra pulang karena hari sudah terasa terik.
Dimobil Zahra tak henti hentinya mengoceh, mengatakan hewan apa saja yang ia lihat dan terus kagum membuat Laras dan Dion sesekali terkekeh.
Hingga suara celotehan Zahra berganti dengkuran halusnya, perjalanan yang cukup jauh membuatnya lelah dan tertidur.
"Tidur ya?" tanya Dion dan Laras hanya mengangguk.
"Padahal aku ingin mengajak mampir makan siang sebelum tidur." kata Dion.
''Nggak usah Mas, langsung pulang aja." kata Laras yang langsung diangguki oleh Laras.
Hening sebentar.
"Aku mau tanya, yang pas ketemu direstoran itu pacar kamu?" tanya Dion.
Laras mengingat yang dimaksud Dion "Rama?" tanya Laras.
"Nggak tau namanya pokoknya kita ketemu direstoran pas siang kemarin." kata Dion.
"Iya itu Rama temen aku kuliah dulu, kita nggak pacaran kok." jelas Laras.
"Oh ya ya." hanya itu jawaban Dion hingga keduanya kembali hening hingga mereka sampai dirumah.
...
Malam harinya setelah selesai makan dan menidurkan Zahra, kini Dion dan Laras tengah duduk dimeja makan untuk membahas semau tentang pernikahan mereka.
__ADS_1
"Kita akan nikah siri aja kan mas?" tanya Laras.
"Jika itu yang kamu inginkan aku tidak masalah." kata Dion.
"Aku hanya ingin kita menikah sampai mbak Naya sadar, dan jika memang sudah sadar aku ingin kita bercerai dan kembali pada kehidupan kita sebelumnya." jelas Laras.
"Baiklah aku setuju." balas Dion.
"Ini ada beberapa perjanjian setelah menikah, aku harap mas setuju dengan ini." kata Laras menyodorkan sebuah kertas pada Dion.
...SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN...
Kedua belah pihak yang terikat tidak boleh menganggu privasi satu sama lain.
Tidak ada hubungan ****.
tidak saling bersentuhan fisik dalam bentuk apapun.
saling bersikap baik.
Pernikahan ini hanya sampai Naya kembali sadar dan setelah Sadar semulanya selesai.
Harap kedua belah pihak mematuhi setiap peraturan yang ada untuk memberikan kenyaman dalam menjalani kehidupan sehari hari, sekian.
Dion hanya tersenyum kecil saat membaca isi perjanjian yang ditulis oleh Laras membuat Laras heran, apa ada yang lucu? batin Laras melihat Dion hanya tersenyum geli.
"Aku menyetujui semua syarat yang kamu ajukan, dan kita tambah lagi satu." kata Dion terlihat menuliskan sesuatu di kertas.
kedua belah pihak boleh memiliki kekasih.
__ADS_1
Laras membulatkan matanya, terkejut tak percaya dengan apa yang baru saja ditulis oleh Dion.
"Bagaimana?" tanya Dion.
"Ya tidak apa apa mas," jawab Laras tidak ingin memperpanjang masalah.
"Oke, kita akan menikah besok, ohh ya aku juga akan mengundang pak Rt sebagai saksi." Kata Dion.
"Haa? besok mas?" tanya Laras sedikit terkejut.
"Ya, apa kau tidak setuju?" tanya Dion.
"Se-setuju kok mas." jawab Laras gugup.
Laras pikir pernikahannya beberapa hari lagi tapi nyatanya sudah diputuskan besok.
"Ya sudah jika memang sudah, lebih baik kamu segera tidur, aku yang akan menyimpan surat perjanjian ini." kata Dion.
Laras mengangguk lalu bangkit dan berjalan memasuki kamarnya.
..
Pagi nya hari yang menegangkan untuk Laras dimana Dion hendak mengucap ijab kabul didepan penghulu dan semua saksi yang datang.
Laras sadar ini salah, tapi Ia juga tak ada pilihan lain untuk tidak menerima Dion semua karena Zahra.
''Maafkan aku mbak Naya." batin Laras.
Sahhh...
Kata itu terdengar saat Dion selesai mengucap ijab kabul.
Jika semua pasangan akan bahagia kala menikah namun Laras justru merasa tegang dan sedikit khawatir.
"Mbak Laras, cium dong tangan suaminya, kan sekarang udah sah." kata salah satu warga.
Laras sangat gugup namun Ia segera mengambil punggung tangan Dion dan menciumnya menimbulkan sorakan dari orang orang yang ada dibelakang Laras karena Laras terlihat malu malu.
"Mas Dion kok nggak nyium kening mbak Laras?" celetuk salah satu saksi lagi dan membuat Laras melotot tak percaya.
"Iya nih, masa masih pada malu malu gini." kata salah satu saksi yang lain.
Karena tak ingin mendengar celotehan orang lagi akhirnya Dion segera mencium kening Laras.
Deg... jantung Laras berdegup tak karuan, wajahnya memerah bak tomat yang sudah matang menimbulkan sorakan orang orang yang hadir disana.
"Sudah sudah, kita lebih baik segera pulang, kasian pengantin barunya kan mau malam pertama." celetu Pak Rt yang kembali menimbulkan sorakan para saksi.
"Ya sudah mbak Laras, mas Dion, kita balik dulu ya." kata Dion "Selamat atas pernikahan kalian semoga langgeng." kata Pak Rt lagi.
"Terimakasih pak atas kehadirannnya." balas Dion yang langsung menyalami semua orang yang hadir yang hendak pulang.
Selama pernikahan Zahra dan Bik Inah berada dikamar atas karena Dion tak ingin Zahra melihat pernikahan Dion dan Laras.
"Yaya ingin liat kebawah.'' kata Zahra yang penasaran karena dibawah terdengar ramai.
"Non Yaya sama Bibi disini aja dulu soalnya dibawah lagi ada tamunya papa, nanti nggak sopan kalau Yaya turun." kata bik Inah.
"Tapi Yaya pengen ante ayas, kok lama? katanya cuma sebentar." protes Zahra yang tadi sempat dipamiti Laras katanya dibawah cuma sebentar.
"Paling sebentar lagi kesini, sabar ya sayang." kata Bik Inah yang hanya dicemberuti oleh Zahra.
__ADS_1
Tbc.