Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
13


__ADS_3

Setelah menidurkan Zahra, Dion melirik jam dinding sudah pukul 8 malam ,dan Naya belum pulang.


ponsel Dion berbunyi membuat Dion penasaran siapa yang menelepon malama malam begini.


Rina, penjaga yang menjaga Naya dirumah sakit yang meneleponnya.


Dion segera mengeser tombol warna hijau untuk menerima panggilan itu.


"Kenapa?" tanya Dion.


"Apa kau yakin?" tanya Dion lagi terlihat senang.


"Baiklah aku akan segera kesana." Dion segera turun kebawah mencari Bik Inah.


"Bik, Bik Inah," panggil Dion tak sabar.


"Iya Tuan, kenapa Tuan?" tanya Bik Inah.


"Naya sadar Bi, aku kerumah sakit dulu, tolong jagain Zahra ya." kata Dion.


"Iya Den." Bik Inah terlihat senang.


Dion segera berlari keluar rumah dan memasuki mobilnya.


Sesampainya dirumah sakit Dion berlari tak sabar melewati koridor rumah sakit hingga sampai didepan ruangan Naya, sudah banyak perawat dan dokter yang ada disana.


"Tuan..." sapa Rina yang memperlihatkan wajah senang.


Dion langsung memasuki kamar Naya dan melihat Naya sudah membuka matanya, tersenyum padanya.


"Aku ingin bicara padamu sebentar." kata dokter Rino pada Dion.


"Tapi aku ingin bertemu istriku," kata Dion mendebat Rino.


"Hanya sebentar, ada yang ingin kukatakan." kata Dokter Rino, Dion pun mengangguk dan mengikuti Dokter Rino.


"Aku harap kau jangan senang dulu melihat Naya sadar." jelas Rino.


"Apa maksudmu?" tanya Dion.


"Naya memang sudah sadar tapi kondisinya benar benar lemah, aku tak tau semua itu akan bertahan sampai kapan." jelas Rino yang seketika membuyarkan senyuman diwajah Dion.


"Jadi kau mau mengatakan kalau Naya akan mati?" tanya Dion terlihat geram.

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin kau berharap banyak!" kata Rino menegaskan.


Dion tak mengubris ucapan Rino dan meninggalkannya memasuki ruangan Naya lagi. terlihat Rino menghela nafas panjang.


Dion berjalan mendekati ranjang Naya dan duduk disamping Naya yang tersenyum padanya.


"Terimakasih sudah sadar sayang." kata Dion mencium tangan Naya.


"Laras?"kata Naya dengan suara sangat lirih.


"Kau ingin bertemu dengan Laras? baiklah akan kupanggilkan." kata Dion mengambil ponselnya untuk menghubungi Laras.


"Kau dimana? segera kerumah sakit, Naya sudah sadar." kata Dion dan langsung mendengar teriakan dari Laras.


Sepertinya Laras senang karena setelah ini Ia bisa menikah dengan kekasihnya itu, Dion bukannya tak tau dia hanya pura pura tak tau jika Laras memiliki kekasih, melihat Laras yang bertelepon sepajang malam, kadang bertemu tanpa sepengetahuan Dion, namun Dion tak mempermasalahkan karena dia memang sadar jika dirinya dan Laras menikah hanya sebatas perjanjian saja, dan sekarang Naya sadar sudah pasti semuanya akan berakhir.


Sementara itu baik Laras ataupun Rama terlihat panik karena mendengar kabar Naya sadar.


Mereka kini sudah berada didalam mobil sedang perjalanan menuju rumah sakit.


Beruntung jalanan sudah mulai sepi karena memamg sudah malam jadi Mobil Rama bisa terus melaju menuju rumah sakit.


Terlihat jelas sekali raut bahagia diwajah Rama, ya tentu saja bahagia karena sebentar lagi Ia akan menikah dengan wanita pujaannya itu dan bahagia selamanya.


"Mbak Naya..." teriak Laras saat sudah sampai diruangan Naya, sudah ada Dion yang mengenggam erat tangan Naya.


Naya memasuki ruangan bersama Rama. Rama dan Naya sendiri memang sudah saling mengenal, Naya juga tau jika Rama adalah sahabat Laras.


"Aku seneng mbak Naya udah sadar." kata Laras tak terasa Ia meneteskan Air matanya karena terlalu senang.


"Laras kalau mbak Naya mau sesuatu apa kamu mau ngabulin?" tanya Naya dengan suara lirih.


"Tentu mbak, apapun itu pasti aku kabulin." kata Laras.


"Mbak Rasa umur mbak udah nggak lama lagi " kata Naya yang membuat semua orang terkejut disana.


"Sayang, jangan ngomong kayak gitu." kata Dion merasa sangat khawatir, begitu juga dengan Laras.


Naya mengambil tangan Laras lalu mengengamnya "Kamu mau kan menikah sama Mas Dion dan jadi ibu buat Zahra?" bagaikan disambar petir semua orang sangat terkejut dengan permintaan Naya tak terkecuali Rama yang berharap dirinya salah dengar.


"Sayang jangan bicara seperti itu." kata Dion,


"Maafkan aku sayang, aku tidak bisa menemanimu sampai akhir." kata Naya, lalu tiba tiba Naya merasa sesak didadanya dan hidungnya berdarah membuat semua orang khawatir dan panik.

__ADS_1


Dion segera memanggil Dokter Rino,


"Mbak, mbak Naya harus bertahan, mbak Naya harus kuat." kata Naya terus mengenggam tangan Kakakanya itu sementara Rama masih termangu dibelakang Laras, masih berharap ini semua tidak nyata.


Dokter datang namun, Naya sudah memejamkan mata. Rino segera memeriksa detak jantung Naya namun sudah tak ada detak, ya Naya sudah meninggal untuk selamanya, Naya sudah tiada, ternyata bangunnya Naya bukan kabar baik karena semua hanya sesaat.


"Maafkan aku," kata Dokter Rino yang membuat semua orang yang disana shock.


"Nggak, nggak mungkin!" kata Dion Mendekati Naya dan kembali mengenggam tangan Naya "Kamu kuat sayang, kamu harus sadar! bagaimana bisa kamu ninggalin Aku sama Zahra." kata Dion yang kini sudah menangis.


"Mbak Naya... " lirih Laras masih tak percaya dengan semua ini. sedangkan Rama yang ada dibelakang Laras hanya diam membisu, sepertinya Ia sangat shock.


Dion menyesal, menyesal karena menuruti keinginan sang istri yang ingin mobil dan bisa menyetir mobil sendiri.


"*Sayang, kau ingin kado apa?" tanya Dion mengingat 3 hari lagi Naya istrinya berulang tahun.


"Aku ingin mobil." balas Naya.


"Bukankah sudah ada mobil dan juga sopir yang akan mengantarmu kemana saja?" tanya Naya.


"Aku ingin mobilku sendiri, menyetir sendrii, aku ingin mandiri sayang." pinta Naya manja.


"Oh baiklah, aku akan membelikan mobil untukmu nanti, tapi kau harus janji, harus hatl hati, kau kan belum bisa menyetir.'" kata Dion.


"Tentu saja, terimakasih sayang, kau benar benar suami terbaik." kata Naya memeluk Dion*.


Kilasan memori itu mengingatkan Dion, dan pagi itu sebelum Naya kecelakaan dan koma ...


"*Aku sudah mengikuti kursus menyetir dan pengajarnya bilang kalau aku sudah bisa." kata Naya senang sambil memasangkan dasi Dion yang memang akan berangakt bekerja.


"Tapi kau harus lebih berhati hati lagi sayang." kata Dion yang sebenarnya masih khawatir.


"Tentu saja sayang, oh ya aku nanti akan menemui Nela di kafe biasa." pamit Naya.


"Ya, karena kau masih belajar menyetir jadi lebih baik jangan mengajak Zahra." kata Dion.


"Yah, sayang sekali.'" Naya terlihat kecewa.


"Besok ajaklah Zahra jika kamu sudah terbiasa menggunakan mobil sendiri." kata Dion.


"Baiklah*."


Dan siapa sangka pagi itu adalah pagi terakhir Naya dan Dion, hingga siang hari saat Dion sedang meeting, Ia mendapatkan kabar jika Naya kecelakaan membuat Dion segera menuju rumah sakit meninggalkan meetingnya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2