
Hari ini Laras dan Dion bersiap untuk fitting baju pengantin. Ada Zahra juga yang ikut mereka karena Zahra juga harus Fitting gaun yang akan dipakai nanti.
"Nggak apa apa kan kalau aku pesen bajunya di tempat aku dan Naya dulu?" tanya Dion terdengar hati hati saat menanyakan itu pada Laras yang kini duduk di jok sebelah sambil memangku Zahra.
"Nggak apa apa mas, aku mah nurut aja gimana baiknya."
"Nggak akan cemburu lagi kan?" goda Dion membuat wajah Laras menjadi semu merah, mendengar Dion kembali mengungkitnya.
Ah tidakkah Dion tau jika Laras berusaha melupakan kejadian memalukan itu? benar benar menyebalkan mendengar Dion terus mengodanya seperti ini.
"Nggaklah mas, masa sama kakak sendiri cemburu." kata Laras mencoba bersikap biasa.
"Ya kali aja kan? orang sama sepupu aja cemburu." kata Dion membuat Laras tak tahan dan akhirnya memukul lengan Dion gemas.
"Udah berani mukul mukul sekarang." kata Dion terlihat menyerigai.
Laras hanya mendengus sebal dan menatap keluar mobil membuat Dion hanya bisa tertawa.
Sesampainya di butik langganan Dion dan Naya, tanpa menunggu lagi Laras segera mencoba gaun pengantin buatan desainer dibutik itu.
"Suka nggak?" tanya Dion yang tiba tiba masuk ke ruang ganti membuat Laras terkejut.
"Untung sudah terpakai," batin Laras.
"Suka kok mas, bagus." kata Laras mengenakan gaun pengantin lengan panjang, yang tertutup dan tidak seksi itu. Laras memang tak terlalu menyukai pakaian seksi.
"Kamu juga keliatan cantik." puji Dion sambil menyibakkan rambut Laras ke samping membuat degup jantung Laras berloncatan dan wajahnya mendadak semu merah lagi.
"Yaya mana mas?" tanya Laras mengalihkan pembicaraan agar dirinya tak terlalu gugup mendengar rayuan gombal dari Dion.
"Tuh lagi dibantuin nyobain gaun nya." jelas Dion membuat Laras mengangguk paham.
Mereka terdiam cukup lama, Dion pun masih menatap ke arah cermin dimana ada Laras disana.
"Ekhem, Mas nggak keluar dulu?"
"Ya udah ayo keluar." ajak Dion hendak mengapai tangan Laras namun ditahan oleh Laras.
"Bukan itu maksudnya mas,"
"Emm, mas keluar dulu. soalnya aku mau lepas gaun nya." jelas Laras sedikit gugup.
__ADS_1
Namun Dion malah tersenyum nakal dan menatap Laras dengan tatapan liar, "Mau dibantuin nggak?"
"Eh, nggak usah mas. udah sana keluar pasti Yaya nungguin."
Dengan terpaksa Laras mendorong tubuh Dion agar segera keluar dari sini, karena adanya Dion disini membuatnya mendadak diselimuti hawa panas dan gugup.
Setelah selesai mengganti baju, Laras keluar dan melihat Zahra tersenyum senang memamerkan gaun berwarna pink yang sangat indah pada Dion.
"Mama, lihat deh gaun Yaya bagus banget." Zahra berlari ke arahnya dan memperlihatkan gaun dengan gerakan memutar membuat Laras tertawa lucu.
"Ih kok Mama malah ketawa sih?" protes Zahra dengan raut wajah bingung.
Bagimana bisa Laras tidak tertawa melihat tingkah Zahra yang genit dan menggemaskan itu.
"Kamu cantik sampai bikin Mama ketawa.'' jelas Laras membuat Zahra hanya ber ohh ria.
"Yaya gaun nya dilepas ya buat dipakai besok.'' kata Dion yang kini sudah berada disamping Laras merangkul Laras.
Zahra cemberut tidak setuju, "Nggak mau, masih mau dipakai."
"Tapi nanti kalau kotor gimana? besok Yaya nggak bisa pakai pas acara pentingnya." bujuk Dion.
Zahra cemberut, memanyunkan bibirnya membuat Dion maupun Laras tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.
Setelah dari butik, mereka memang ingin melihat hotel tempat diadakan nya resepsi.
Dihotel, Laras dan Zahra hanya melihat lihat sementara Dion terlihat mengarahkan beberapa pegawai hotel yang sudah mulai mempersiapkan tempat yang akan digunakan pesta.
"Mas, apa yakin mau ngadain resepsi?" tanya Laras kala keduanya sudah berada dimobil.
Dion mengerutkan keningnya, menatap Laras aneh "Kita udah rencanain mateng mateng. dan sekarang apa kamu berubah pikiran?"
"Eng, bukan gitu mas. kadang aku ngerasa nggak enak sama mas kalau sampai denger omongan nggak enak dari orang."
"Mbak Naya baru meninggal, udah nikah lagi."
Dion tersenyum merasakan kekhawatiran Laras, "Nggak perlu denger omongan orang, kan yang ngejalanin kita bukan orang lain."
Laras mengangguk setuju meskipun sebenarnya masih ada keraguan yang terasa dihatinya.
"Kita jadi ke mall kan?" tanya Zahra tiba tiba membuat keduanya terkekeh.
__ADS_1
"Eh kok Papa malah balik pulang ya ini. gimana dong?" goda Dion membuat Zahra langsung saja cemberut.
"Jangan digodain mas, nanti malah Rewel." Laras mengingatkan melihat mood Zahra menjadi buruk setelah melepas gaun yang ada dibutik.
"Iya deh iya, Papa belokin lagi nih ke mall biar Yaya nggak cemberut lagi." kata Dion yang langsung membuat Zahra ceria lagi.
Sesampainya di mall mereka bertiga langsung menuju pakaian anak, disana Zahra dan Laras sibuk memilih baju sementara Dion duduk diruang tunggu sambil memainkan game diponselnya.
Karena menunggu para wanita belanja itu adalah hal yang membosankan untuk pria, butuh kesabaran extra.
"Maaf ya mas lama." kata Laras tersenyum menampilkan gigi rapinya.
"Mau makan dulu nggak?" tanya Dion.
"Mau dong." Zahra dengan semangat menjawab Dion "Mau es krim pa."
"Eee Makan nasi dulu sayang, nanti kalau udah makan nasi baru deh dibeliin es krim." bujuk Laras membuat Zahra mengangguk pasrah.
Mereka pun menikmati makan siang direstoran cepat saji yang ada dimall. sesuai janji Laras setelah makan nasi, Laras membelikan es krim untuk Zahra.
Seharian ini disibukan dengan persiapan pernikahan membuat Zahra kelelahan dan langsung tidur sesampainya dirumah.
Sementara Laras yang tadinya menemani Zahra pun ikut tertidur disamping Zahra.
Tak tau Laras jika Dion sudah menunggunya dikamar mereka namun Laras tak kunjung datang membuat Dion bangkit dari ranjang untuk melihat Laras dan Zahra yang nyatanya sudah terlelap.
Dion tersenyum, menggelengkan kepalanya. sepertinya memang pilihan yang tepat menjadikan Laras sebagai ibu sambung Zahra yang nyatanya Laras bisa jadi ibu yang baik untuk Zahra.
Karena tak ingin tidur sendirian akhirnya Dion mengendong Laras untuk dibawa ke kamar mereka.
"Maafkan Papa, yang nggak bisa mengalah sama Yaya." batin Dion memandang putrinya dan tersenyum geli sebelum akhirnya membawa Laras keluar kamar.
Pelan pelan Dion menidurkan Laras diranjang besar mereka, namun karena Laras memakai daster pendek membuat daster bagian bawah tersingkap dan mata Dion langsung saja di suguhi pemandangan indah, paha mulus milik Laras.
"Sial..."
Dengan cepat Dion menyelimuti Laras agar paha mulus Laras tak lagi terlihat.
"Sabarlah dua hari lagi."
Bersambung...
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komen...