
Laras baru saja selesai memandikan dan mengganti baju Zahra terlihat enggan turun ke bawah untuk sarapan bersama Dion.
Mengingat kesalahpaham kecil yang baru saja terjadi membuat Laras malu bahkan Ia sampai tak bisa melihat wajah Dion karena terlalu malu.
"Wanita? wanita mana maksudnya dek?" Dion yang tadinya masih mengantuk kini matanya terbuka lebar karena ucapan Laras. Menatap Laras penuh keheranan.
"Mas kalau punya wanita lain, harusnya kemarin bilang sama mbak Naya waktu mbak Naya kritis, biar dia yang gantiin posisi mbak Naya, bukan aku." Laras menatap Dion tajam.
"Sakit Mas di giniin tuh." ungkap Laras setelah beberapa hari ini Ia memedamnya sendirian akhirnya Ia lepas kontrol juga.
"Maksud kamu apa dek? mas beneran nggak paham." tanya Dion yang memang masih bingung dengan ucapan Laras.
"Sella? siapa Sella mas? dia simpenannya mas kan? sampai tengah malem aja Mas rela nyamperin." tanya Laras dengan suara mengebu penuh emosi dan masih menatap tajam ke arah Dion.
Mendengar ucapan Laras, tentu saja membuat Dion tertawa. Dion baru sadar, jadi ini yang membuat Laras pagi pagi mengajaknya bertengkar. Laras si gadis manis yang kini sudah bisa menunjukan taringnya dan bahkan sudah mengungapkan rasa kesal dan cemburu padanya.
"Jadi karena Sella?" tanya Dion masih menahan tawa.
"Mas masih bisa tertawa dan santai setelah ketauan?" Laras menatap Dion heran.
"Lalu aku harus apa?" tanya dion masih tertawa.
Namun tawa Dion seketika berhenti kala melihat mata Laras sudah memerah seperti ingin menangis.
"Ya ampun sayang." Dion beranjak dari ranjang hendak memeluk Laras namun sayang Laras keburu menghindar dari Dion.
"Kamu hanya salah paham sayang." kata Dion memanggil Laras dengan sebutan Sayang membuat Laras muak mendengarnya walaupun dalam hatinya sedikit senang.
Memang seperti ini kan? jika pria ketahuan selingkuh pasti mulutnya akan pandai merayu.
"Sella itu bukan pacar aku apalagi selingkuhan." kekeh Dion namun Laras masih memandang tak percaya "Mana mungkin aku pacaran sama adik sepupu sendiri."
Deg... tiba tiba jantung Laras berdegub mendengar jawaban Dion. Ia memandang Dion sebentar untuk memastikan ucapan serius dari Dion.
"Masih nggak percaya kalau Sella adik sepupu?" tanya Dion sambil tertawa lagi "maaf aku telat bilang, akhir akhir ini memang aku sering sama dia karena dia yang bantu ngurus masalah diperusahaan. Dan semalem itu ada hal penting yang harus dia sampaikan makanya dia sampai hubungi aku tengah malem gitu." jelas Dion sambil tersenyum geli membuat Laras menunduk malu.
__ADS_1
"Kalau masih nggak percaya, besok kenalan sendiri aja deh." kata Dion lagi.
"Eh mau kemana?" tanya Dion kala Laras berbalik hendak meninggalkan nya.
"Kamar mandi mas, aku kebelet." kata Laras tanpa menatap Dion dan langsung memasuki kamar mandi begitu saja membuat Dion semakin tertawa lebih keras.
"Bodoh, bodoh, bodoh!" Laras memasuki kamar mandi, duduk dicloset dan meraup wajahnya frustasi.
Dan saat keluar, Ia tak melihat Dion. Kesempatan Laras untuk buru buru memasuki kamar Zahra, beruntung Dion tidak disana.
Dan sekarang, mengingat kejadian itu rasanya Laras enggan keluar dari kamar Zahra untuk sekedar sarapan bersama Dion.
"Ma, ayo ... Papa pasti udah nungguin dibawah." Ajak Zahra, bocah kecil yang kini wajahnya sudah cemong bedak itu menarik tangan Laras mengajak keluar dari kamar.
"Emm, gimana kalau Zahra aja yang sarapan sama Papa?" tanya Laras ragu, Ia juga tak mungkin membiarkan Zahra turun sendiri.
Namun Zahra terlihat merenggut tak setuju, "Papa sama Mama beratem?" tanya Zahra membuat Laras gugup. Entahlah, pertanyaan bocah kecil seperti Zahra bisa membuatnya segugup ini.
"Eng-enggak berantem sayang, cuma Mama lag-"
"Pa, mama nggak mau sarapan bareng katanya." adu Zahra membuat Laras melotot tak percaya. Sudah malu makin malu saja dirinya.
"Lho kenapa Mama nggak ikut sarapan?" tanya Dion yang kini sudah berlutut didepan Zahra dan Laras yang duduk diranjang.
Zahra hanya mengedikan bahunya, sementara Laras masih bungkam.
"Emm, aku lagi enggak enak perutnya mas, jadi sarapannya nanti aja." kata Laras mencari alasan.
"Ya udah kalau gitu, Zahra biar turun dibawah dulu sama bik Inah, aku bantuin gosok perutmu pakai minyak angin." kata Dion menatap Laras nakal membuat Laras semakin gugup.
"Eh, eng-enggak usah mas, mendadak perutku udah enakan kok. ayo katanya mau sarapan." Laras langsung saja bangkit mengendong Zahra sementara Dion terkekeh dibelakang mereka.
"Aku mau roti selai coklat Ma.."
"Aku juga mau roti selai coklat Ma." pinta Dion menirukan suara Zahra membuat Laras tertawa dibuatnya.
__ADS_1
"Udah berani tertawa sekarang." goda Dion membisikan ditelinga Laras membuat Laras langsung saja bungkam.
"Ma, habis ini jalan jalan ke taman yuk?" ajak Zahra.
Baru saja Laras ingin mengiyakan permintaan Zahra, namun Dion sudah mendahuluinya.
"Mama kan perutnya habis sakit, jadi jangan diajak keluar dulu ya. main dirumah saja ya sayang." kata Dion pada Zahra.
Seketika zahra menepuk jidatnya khas orang dewasa yang sedang lupa "Oh iya, Yaya lupa." membuat Laras dan Dion yang melihat tak bisa untuk tidak tertawa.
"Ya udah Ma, kita main rumah barbie aja ya." kata Zahra lagi dan kali ini langsung diangguki oleh Laras.
"Nah gitu dong, baru anak Papa." kata Dion sambil mengelusi rambut Zahra.
"Oh ya dek, besok kita fitting baju pengantin ya, katanya udah ready." kata Dion pada Laras yang sedang sibuk mengoleskan roti selai coklat untuknya.
"Ya mas."
"Nanti juga undangannya udah jadi, kamu tulis aja siapa yang mau diundang biar besok Reno yang bagiin undangan nya."
Laras mengangguk, "ya mas."
"Dan juga, jangan cemburu lagi ya... aku diluar nggak nakal kok. ciusss." kata Dion kali ini menangkap tangan Laras yang ingin meletakan roti di piringnya membuat wajah laras memerah bak kepiting rebus.
"Papa nakal sama mama?" tanya Zahra heran dengan ucapan Dion "Pantesan ya Mama nggak mau sarapan bareng Papa." kata Zahra lagi yang membuat Dion terkekeh sementara Laras masih diam karena malu.
"Mulai sekararang Papa nggak akan nakal lagi kok, serius deh." Dion menunjukan dua jarinya pada Zahra tanda jika Ia tidak bohong.
"Papa nggak boleh nakal, nanti kalau Papa nakal Mama Ayas pergi ninggalin kita kayak Mama Naya."
Deg.... baik Dion maupun Laras menatap ke arah Zahra tak percaya dengan ucapan Zahra. bocah sepolos itu bisa mengatakan itu.
BERSAMBUNG...
JUDULNYA UDAH AKU GANTI GAYZSS...
__ADS_1
SEMOGA KALIAN TAMBAH SUKA SAMA CERITANYA YEAHH..😁