
Rama menegang, merasakan tubuh Laras dan tubuhnya menempel saling bersentuhan.
Melihat Laras yang sudah menempelkan bibirnya di bibir Raka, segera Raka ******* bibir Laras pelan namun terasa sangat mengairahkan bagi keduanya, jangan salahkan Rama karena Laras yang memulai semua ini, ya Laras yang membuat gairahnya muncul.
Rama menuntun tubuh Laras hingga jatuh diranjang, mata keduanya sudah sama sama diliputi hawa nafsu, Rama membuka handuknya dan sudah jelas yang dibawah sana siap untuk dituntaskan.
Keduanya menghentikan ciuman, mengambil nafas dalam dalam, saling menatap hingga akhirnya berciuman lagi.
Tangan Rama yang tadinya hanya diam kini sudah menjelajah ke setiap lekuk tubuh Laras membuat Laras merasakan gelenyar nikmat yang belum pernah Ia rasakan.
Laras sadar apa yang Ia lakukan salah, tidak seharusnya Ia melakukan ini tapi Ia tak punya pilihan lain. Setidaknya jika Laras memberikan perawannya untuk Rama tidak masalah toh Dion juga sudah mendapatkan dari Naya.
Namun saat Rama sudah bersiap menyatukan miliknya dan Laras, tiba tiba Ia menghentikanya, mengecup kening Laras lalu memeluk Laras dan menangis.
"Kenapa kau tidak melanjutkannya?" tanya Laras.
"Bukan ini yang kuinginkan, bukan ini." kata Rama menangis.
"Setidaknya dengan ini aku bisa membalas perasaanmu padaku selama ini, setidaknya dengan ini bisa mengobati luka kecewamu karena kita tak bisa bersama." kata Laras ikut menangis.
"Tidak, aku tidak menginginkan ini jika pada akhirnya berpisah, aku mencintaimu dan ingin memilikimu seutuhnya bukan hanya menikmati tubuhmu semata." kata Rama yang langsung membuat Laras semakin pecah tangisnya.
"Maafkan aku Rama, maafkan aku.." kata Laras sambil terisak.
"Hey, jangan menangis, aku baik baik saja.'" kata Rama menghapus air mata Laras.
"Apa setelah ini kita akan tetap menjadi teman baik?" tanya Laras.
"Tentu saja, kita akan menjadi teman baik selamanya." kata Rama mencium kening Laras. "Jadilah istri yang baik untuk suamimu dan Jadilah ibu yang baik untuk Zahra, aku akan selalu mendukungmu dan selalu ada untukmu kapanpun kamu butuh." kata Rama sambil mengelus rambut Laras penuh sayang .
"Makasih Rama, makasih." Laras mengeratkan pelukan nya kemudian menangis sejadi jadinya.
Sementara itu Rama memaksa untuk tersenyum dan menerima semuanya, meskipun dirinya merasa tak sanggup karena harus merelakan Laras dengan pria lain namun Ia bisa apa selain ikhlas jika takdir saja nyatanya tak menyatukan mereka.
Cukup Lama keduanya saling memeluk satu sama lain hingga akhirnya Rama mengatakan sesuatu Segera pakai bajumu, aku akan mengantarmu pulang." kata Rama.
__ADS_1
"Tidak, aku masih ingin disini menemanimu." kata Laras.
"Tentu saja tidak boleh, aku tidak ingin dituntut telah membawa kabur calon istri orang." kata Rama yang membuat keduanya terkekeh.
"Baiklah, aku akan memakai bajuku." kata Laras yang sudah bangkit dan memungguti bajunya dan membawanya masuk kekamar mandi.
Sejujurnya Rama juga masih ingin bersama dengan Laras namun bagaimana lagi, Ia tak ingin Laras mendapatkan masalah nantinya jika Laras tak segera pulang.
Kini Laras dan Rama sudah berada didalam mobil, semenjak sadar dengan apa yang baru saja mereka lakukan kini mereka terlihat canggung satu sama lain.
"Mungkin satu bulan lagi aku akan pindah ke LA." kata Rama yang membuat Laras terkejut.
"Kau akan meninggalkan ku?" tanya Laras.
"Tentu saja tidak, kita bisa saling bertukar kabar melalui ponsel dan masih bisa bertemu saat aku libur dan pulang." jelas Rama yang masih tak bisa diterima Laras.
"Tetap saja, kenapa kau harus pergi ditempat yang sangat jauh." kata Laras sedih "Kau pasti masih marah padaku kan, makanya kau ingin pergi keluar negeri?" tanya Laras lagi.
"Tidak Laras, percayalah aku sudah mengikhlaskan semuanya, aku hanya ingin melanjutkan studi ku disana dan mengembangkan bisnis Papa disana." jelas Rama.
"Ya, aku tidak berbohong." kata Rama mengacungkan dua jarinya agar Laras percaya.
"Baiklah, jangan lupakan aku jika kau telah memilki kekasih disana." kata Laras.
"Tentu saja tidak, kau akan selalu dihatiku! percayalah." kata Rama yang hanya diangguki oleh Laras.
Sebenarnya aku pergi memang untuk menghindarimu, aku tak ingin menganggu hubunganmu dengan Suamimu, maafkan aku Laras karena aku pikir ini mungkin yang terbaik untuk kita batin Rama.
Sesampainya didepan rumah Dion, Laras segera memasuki rumah sementara Rama segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Ini sudah pukul 9 malam, rumah Dion sudah terlihat sepi dan gelap, namun anehnya pintu depan tak terkunci membuat Laras sedikit lega karena tak perlu membangunkan Bik Inah.
Namun baru saja melangkah tiga langkah memasuki rumah, lampu tiba tiba menyala membuat Laras berjingkat terkejut.
"Baru pulang?" tanya Dion mengitrupsi dengan suara dingin.
__ADS_1
"Iya," Balas Laras tak kalah dingin.
"Memangnya dia saja yang bisa dingin, aku juga bisa." batin Laras kesal.
"Duduklah, ada yang ingin kukatakan." kata Dion yang langsung dituruti oleh Laras.
Kini Dion dan Laras duduk berhadapan.
"Ada apa?" tanya Laras ketus.
"Ini surat perjanjian kita." kata Dion yang hanya diangguki oleh Laras namun tiba tiba Dion menyobek kertas itu membuat Laras terkejut.
"Kenapa kau merobeknya?" tanya Laras terlihat kesal.
"Karena semua sudah tak ada gunanya lagi, Naya sudah tiada dan kamu harus mengantikan posisi Naya, mau atau tidak kamu harus melakukanya." kata Dion, Laras hanya diam saja.
"Besok aku akan mengurus surat resmi kita, dan karena kita sudah melakukan ijab, kita tidak perlu melakukan lagi karena kita sudah sah, hanya tinggal mengurus surat saja, dan apakah kau ingin kita mengadakan resepsi?" Tanya Dion.
"Tidak, aku masih waras! kakakku baru saja meninggal dan apa aku harus mengadakan resepsi?" tanya Laras ketus tak menyangka Dion akan menanyakan itu padanya.
"Baiklah jika memang tidak, tapi jika suatu saat kau menginginkanya, aku pasti akan mengabulkan nya untukmu." kata Dion santai.
"Apa kau tidak merasa sedih atau kehilangan? bisa bisanya kau melakukan semua ini padahal baru 3 hari istrimu meninggal." kata Laras terlihat geram.
"Lalu aku harus apa? mengulur ulur waktu dan membiarkan istriku setiap hari pulang malam bersama pria lain, siapa disini yang tidak punya perasaan!" kata Dion tak kalah marah.
"Kau yang mengatakan jika aku boleh memiliki kekasih didalam perjanjian kita!" kata Laras.
"Lupakan tentang perjanjian karena kita sudah tak menggunakan perjanjian itu lagi, mulai sekarang aku suamimu, kau sebagai istri lakukan tugasmu dengan baik!" kata Dion.
Laras yang kesal dengan Dion yang tiba tiba berubah akhirnya bangkit dari duduknya dan meninggalkan Dion.
"Aku belum selesai bicara." kata Dion membuat Laras menghentikan langkahnya disamping Dion.
"Tapi aku sudah tak ingin bicara lagi denganmu." kata Laras kemudian berlalu meninggalkan Dion yang mengepalkan tangannya.
__ADS_1
TBC.