
"Kamu kenapa?" tanya Dion menatap Laras yang terlihat gundah, seperti ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Eh, enggak apa apa mas." balas Laras gugup.
"Yakin? nggak ada yang mau kamu omongin ?" tanya Dion lagi yang langsung diangguki Laras.
"Soalnya dari semalem aku lihat kamu agak aneh."
"Aneh gimana mas? aku nggak apa apa beneran." balas Laras tak menyangka jika sikap nya ketara sekali. Sejujurnya Laras sedikit takut menyimpan semuanya sendiri namun Ia juga tak berani mengatakan pada Dion. Laras takut Dion marah jika tahu kalau Radit menemui Zahra. Kini Laras berada di ambang kebingungan. Disatu sisi Ia paham alasan suaminya tak mengijinkan Radit bertemu Zahra, disisi lain Ia juga kasihan melihat Radit yang seperti sudah benar benar ingin memperbaiki semuanya, apalagi mendengarkan cerita Radit yang membuat Laras paham betul jika wajar Radit tak mengakui kehamilan Naya yang nyatanya Radit bukanlah orang pertama.
Laras terkejut tiba tiba Dion memeluknya dari belakang, "Yakin nggak mau cerita?" bisik Dion membuat Laras langsung memberontak.
"Mas, nanti kalau Bik Inah sama Yaya lihat gimana," protes Laras karena saat ini mereka sedang berada didapur.
Dion hanya tertawa dan melepaskan pelukan nya,
"Hari ini mungkin aku pulang malam, banyak meeting, banyak kerjaan pula." keluh Dion.
"Apa perlu nanti siang aku kesana buat nganter makan siang?" tawar Laras yang langsung membuat Dion tersenyum senang.
"Tapi nanti kalau Yaya nggak rewel." kata Laras lagi sambil terkekeh membuat Dion memutar bola matanya malas.
"Kalau sempet nanti aku aja yang pulang buat makan siang." kata Dion langsung duduk di meja makan menunggu Laras yang sudah mematangkan omelet dan siap untuk disantap.
"Masakan istriku memang luar biasa enaknya." puji Dion saat menyuapkan satu potong omelet ke dalam mulutnya.
Ucapan Dion sontak membuat Laras tersipu malu, "Nggak nungguin Yaya selesai mandi? emang buru buru banget?" protes Laras.
Dion terkekeh, "Udah kelaparan ini."
"Papa Mama..." suara cempreng Zahra terdengar. Zahra berjalan mendekat sambil digandeng Bik Inah.
"Uuu anak Papa cantik banget sih." Dion langsung membawa Zahra ke dalam pangkuan nya lalu menciumi Zahra gemas.
"Ih Papa bau terlur." protes Zahra membuat Dion terkekeh.
"Yaya sarapan disuapin Mama ya?" tawar Laras yang sudah membawa roti bakar kesukaan Zahra.
"Yaya mau makan kayak papa ini." kata Zahra sambil menunjuk piring Dion.
__ADS_1
"Yaya mau omelet?" Zahra langsung mengangguk.
"Oke Tuan putri Mama buatin sebentar Ya." kata Laras langsung kembali ke dapur.
Laras sedang membuat omelet untuk Zahra mendengar suara cekikikan Zahra dan Dion seketika membuat hatinya menghangat.
Dion pria baik, sangat baik karena menerima Zahra yang bukan putri kandungnya bahkan menyayanggi Zahra layaknya putri kandungnya sendiri.
Selesai sarapan Dion segera berangkat, tak lupa mencium pipi gembul Zahra serta kening Laras.
Laras melihat mobil suaminya keluar menjauh dari perumahan. Laras segera masuk untuk menemani Zahra.
Pukul 9 pagi, Laras yang sedang menonton televisi dengan Zahra mendengar suara bel berbunyi,
"Biar saya saja Non." kata Bik Inah terlihat berlari dari arah dapur melihat Laras bangkit dari duduknya.
Laras menggeleng pelan sambil tertawa, "laras aja bik," kata Laras yang sudah di depan pintu.
Laras membuka pintu dan terkejut melihat Radit yang datang bersama wanita paruh baya yang seperti tak asing bagi Laras.
Wanita itu juga terlihat menatap Laras sama terkejutnya seperti merasa Laras tak asing untuknya.
"Omaaaa..." suara cepreng Zahra mengejutkan semua orang namun membuat Laras dan Nita menjadi tahu kalau mereka memang pernah bertemu sebelumnya.
Laras sendiri masih mematung, memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Maafkan saya datang lagi, karena ibu saya ingin melihat cucunya." kata Radit menjelaskan pada Laras.
"Oma kenapa nangis?" tanya Zahra saat Nita melepaskan pelukan nya.
"Oma seneng banget, ternyata Oma punya cucu." kata Nita sambil menatapi wajah gembul Zahra sambil sesekali menciumi.
"Cucu itu apa Oma?" tanya Zahra polos membuat Nita dan Radit tertawa sementara Laras masih diam.
"Silahkan duduk." pinta Laras membuat semuanya mengangguk.
Nita duduk bersebelahan dengan Radit, Nita membawa Zahra ke pangkuan nya,
"Dia duplikat kamu saat kecil Radit." jelas Nita yang terus saja memandangi wajah Zahra.
__ADS_1
"Pantas saja waktu ketemu merasa tak asing dengan Zahra, ternyata dia putri kamu. Tuhan memang sudah merencanakan ini semua, mempertemukan meski diwaktu yang terlambat." kata Nita lagi.
"Sudahlah Ma..." kata Radit mencoba menenangkan Nita sang Mama.
"Tapi mungkin saya tidak mengijinkan Zahra dibawa kemana mana." kata Laras tiba tiba.
Nita mengangguk "Saya paham, saya mengerti kesalahan anak saya memang sudah fatal tidak bertanggung jawab di masa lalu." kata Nita kembali menangis.
"Andai saya tahu sejak dulu mungkin saya tidak akan membiarkan Radit mengabaikan tanggung jawabnya. saya benar benar menyesal terlambat mengetahui semua ini. maafkan saya." jelas Nita dengan air mata bercucuran membuat Laras tak tega melihatnya sementara Radit hanya diam menunduk seolah menyesali semuanya.
"Semua sudah berlalu bu, dan saya pikir belum terlambat memperbaiki semuanya. Hanya saja..." Laras mengantungkan ucapan nya.
"Hanya saja, suami saya yang juga suami almahrum kakak saya masih belum bisa memaafkan Radit jadi itu sebabnya saya khawatir jika Zahra dibawa pergi oleh Radit maupun Ibu." jelas Laras.
Nita hanya bisa mengangguk pasrah, Tentu Nita tak bisa memaksakan keinginan nya karena mau bagaimana pun Radit yang salah meski secara biologis Radit Papa Zahra dan Nita neneknya namun semua keputusan ada ditangan papa Zahra yang sudah merawat Zahra sejak dalam kandungan yang tak lain Dion.
"Asal saya diperbolehkan kesini setiap saat jika ingin menemui cucu saya." kata Nita yang langsung diangguki Laras.
"InsyaAllah saya mengijinkan selama Mas Dion masih berada dikantor dan tidak mengetahui semua ini. Nanti perlahan saya akan mengatakan semua pada mas Dion tentang Ibu dan Radit." kata Laras.
"Beruntung sekali Zahra memiliki ibu pengganti seperti kamu." ucap Nita penuh kagum.
Laras tersenyum, Dirinya lantas pergi kedalam untuk memberikan ruang bagi Zahra berkumpul bersama Neneknya dan Papa biologisnya.
Hingga pukul 3 sore barulah Nita dan Radit pulang, Laras sedikit lega karena Dion tak jadi pulang untuk makan siang.
"Mama seneng banget Dit ketemu sama Zahra." oceh Nita saat keduanya sudah berada didalam mobil.
"Radit juga seneng Ma, tenyata gini ya rasanya jadi Papa."
"Coba Zahra udah manggil kamu Papa, pasti tambah seneng." kata Nita yang membuat Radit merenung.
"Sudahlah yang penting sekarang kita perbaiki semuanya." kata Nita lagi yang langsung diangguki setuju oleh Radit.
Sepulang mengantar Mama nya, Radit langsung pulang ke apartemen nya.
Dan siapa sangka di apartemen sudah ada yang menunggunya.
"Aku mau ketemu anak itu."
__ADS_1
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komen...