Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
43


__ADS_3

Laras yang baru saja keluar dari mobil setelah dari kantor Dion mendengar suara tangisan Zahra. buru buru Laras memasuki rumah dan langsung ke kamar Zahra.


Dan Laras terkejut melihat Zahra membuang mainan nya dilantai semetara Bik Inah terlihat pasrah seperti sudah tak bisa menenangkan Zahra lagi.


"Maafkan saya Non." ucap Bik Inah dengan wajah merasa bersalah.


Laras mengangguk, "Bik Inah istirahat saja biar ini saya yang tangani."


Bik Inah mengangguk dan langsung keluar kamar, sementara Laras segera mendekati Zahra yang kini menangis dilantai.


"Yaya nggak mau sama Mama... Yaya nggak mau sama Mama." ucap Zahra kala Laras mendekati Zahra.


"Yaya sayang, maafin Mama ya." Laras merasa bersalah karena telah membohongi Zahra.


"Mama bilang mau tidur, tapi Mama malah pergi!" ucap Zahra lagi masih terisak.


"Iya, maafin Mama ya."


Laras benar benar bingung bagaimana harus menenangkan Zahra karena sebelumnya Zahra belum pernah seperti ini.


"Mama harus gimana biar Yaya nggak nangis lagi?" tanya Laras namun nyatanya Zahra semakin keras menangis.


Karena frustasi dan bingung harus melakukan apa, akhirnya Laras hanya diam disamping Zahra. Menemani Zahra menangis hingga bocah kecil itu kelelahan dan akhirnya tertidur dengan sendirinya.


Setelah memindahkan Zahra di ranjang, Laras pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian dan segera membantu Bik Inah memasak makan malam.


"Tadi waktu dirumah Tika, kakek sama nenek Tika dateng jadi saya ajak Non Zahra pulang. sampai dirumah langsung ngamuk ngeliat Non Laras nggak ada dikamarnya." jelas Bik Inah kala Laras berada didapur.


"Nggak apa apa bik, aku yang salah." ucap Laras.


"Aku cuma masih bingung aja Bi, gimana nenangin bocah pas nangis gitu, soalnya sebelum ini Yaya nggak pernah sampai segitunya." kata Laras dengan wajah frustasi.


"Karena Non Zahra semakin gede jadi pengen nya selalu sama Mama nya terus kali Non." balas Bik Inah "Sekarang Non Laras belum terbiasa mungkin nanti lama lama pasti terbiasa."


"Apalagi nanti kalau sudah hamil anak sendiri." kata Bik Inah yang langsung membuat pipi Laras tersipu.


Hamil anak sendiri? mungkinkah rasanya akan bahagia, apalagi hamil anak dari pria yang sangat Ia cintai, ah hanya memikirkan itu membuat pipi Laras kembali merona.

__ADS_1


"Dulu waktu Mbak Naya hamil, suka ngidam yang aneh aneh nggak Bik?" tanya Laras mengingat Laras jarang bersama Naya saat Naya sudah menikah.


"Saya ikut Den Dion sama Non Naya waktu Non Zahra udah lahir Non, sebelumnya saya kan ikut alm ibunya Den Dion." jelas Bik Inah membuat Laras hanya berohh ria.


"Tapi dulu Non Naya jarang bantuin Bibik Masak, nggak kayak Non Laras." jujur Bik Inah sambil tersenyum.


"Mbak Naya emang nggak bisa masak bik." jelas Laras ikut terkekeh, "Kok jadi kangen ya sama mbak Naya." gumam Laras.


"Udah mau 40 hari Non."


"Iya Bik, nggak kerasa cepet banget mbak Naya ninggalin kita semua."


"Yang sabar Non," Bik Inah merasa tak enak melihat raut wajah Laras berubah sedih.


Setelah selesai memasak, Laras pergi ke kamarnya dahulu, kamar sebelum menikah dengan Dion. Saat masih menumpang dirumah Dion.


Disana Laras mengambil bingkai foto berukuran 25x30. Bingkai foto yang diletakan oleh Dion dikamarnya, foto pernikahan Dion dengan Naya yang dulu berada dikamar Dion dan kini tergantikan oleh foto pernikahan dirinya dan Dion.


Entah mengapa rasa bersalahnya tiba tiba mencuat saat mengingat Naya, Ia merasa tak seharusnya Dion melupakan Naya secepat ini hanya karena dirinya.


Laras mengambil bingkai foto itu, lalu Ia segera memasangkan disamping foto pernikahannya dikamar Dion dan Laras.


Mas Dion pasti akan terkejut nanti, batin Laras tersenyum geli.


Selesai memasang bingkai fotonya, Laras mendengar suara Zahra kembali menangis. Buru buru Ia ke kamar Zahra dan ternyata Zahra sudah bangun.


"Eh Anak Mama sudah bangun." Laras segera mendekati Zahra.


"Yaya mau susu Ma." ucap Zahra sudah berhenti menangis.


"Oke siap Tuan Putri, Mama bikinin dulu ya." Laras segera membuatkan susu Zahra, Dimana termos, susu serta botolnya berada dimeja pojok kamar Zahra. Memang sengaja disediakan disana agar sewaktu waktu Zahra meminta susu tak perlu turun ke bawah.


Laras memberikan botol dot berisi penuh susu yang langsung disedot habis oleh Zahra,


"Sekarang mandi ya? abis itu kita turun nonton televisi sambil nungguin Papa pulang." kata Laras yang langsung diangguki oleh Zahra sambil tersenyum melihat sederet gigi milik Zahra.


Laras menatap putri sambungnya itu tak percaya, beberapa jam lalu Zahra menangis, marah dan tak mau dekat dengan nya namun sekarang seolah dengan cepat Zahra melupakan semuanya dan tersenyum seolah tak terjadi apapun.

__ADS_1


Apakah seperti itukah anak kecil? cepat melupakan apapun yang terjadi pikir Laras.


Namun nyatanya keceriaan Zahra tak berlangsung lama, setelah kini Ia menunggu Dion pulang didepan televisi, raut wajah sumrigah Zahra mendadak hilang karena Dion tak kunjung pulang.


"Papa masih lama Ma?"


"Papa kok lama nggak pulang pulang Ma?"


pertanyaan yang sedari tadi dilontarkan oleh Zahra membuat dirinya juga bingung.


"Mungkin sebentar lagi sayang." hanya itu yang bisa Laras ucapkan pada putri kecilnya namun sepertinya tidak membuat Zahra tenang dan terus menanyakan itu.


Beruntung Laras memiliki kesabaran extra jadi Ia bisa menhadapi sikap Zahra yang berubah ubah.


"Papa nggak sayang lagi sama Yaya." ucap Zahra tepat setelah 3 jam mereka menunggu dan Dion tak kunjung pulang.


Laras hanya bisa menghela nafas, salahnya juga karena tadi mengajak Zahra menunggu Mas Dion. Bukan tanpa sebab Laras mengajak Zahra menunggu karena dikantor tadi Dion mengatakan jika Dion akan pulang lebih awal dan kenyataan nya....


Sampai pukul 9 malam Dion belum pulang.


Zahra bahkan tak sempat makan malam, niatnya Zahra ingin menunggu Papa nya dan makan malam bersama Papanya, namun karena tak kunjung pulang akhirnya kantuk Zahra datang lebih dulu membuat Zahra kini terlelap dipangkuan Laras.


"Biar Bibi pindahin ke kamar atas Non," kata Bik Inah yang sedari tadi juga menemani Zahra dan Laras menonton televisi.


Laras mengangguk setuju, badan nya sudah lengket belum mandi. Setelah Zahra bangun Ia bahkan belum sempat mandi karena Zahra tak mau ditinggal.


Selesai mandi, Laras keluar dan terkejut melihat Dion sudah berada dikamarnya, sedang melepaskan dasi.


"Mas sudah pulang?"


Tak menjawab, Dion malah langsung menghambur memeluk Laras, mencium bau wangi ditubuh Laras.


"Bikin pengen." bisik Dion.


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komen yaaa...

__ADS_1


__ADS_2