Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
06


__ADS_3

"Jika memang itu masalahnya, saya yang akan pergi dari sini." kata Laras mengulang ucapan nya.


Dion terkejut dengan keputusan Laras, namun Ia juga cukup mengerti dengan posisi Laras.


"Baiklah, jika memang itu keputusan mbak Laras, bukan kami mengusir tapi memang sudah peraturan dilingkungan kami seperti ini, jika saja mbak Naya ada dirumah mungkin kami tidak mempermasalahkan keberadaan mbak Laras, sekali lagi kami minta maaf mbak jika harus seperti ini." kata Pak Rt yang ikut merasa bersalah.


"Nggak apa apa pak, terimakasih saya telah diijinkan tinggal disini selama beberapa bulan ini." kata Laras.


Dion hanya diam saja sedari tadi karena dia juga tak bisa berbuat apapun untuk mempertahankan Laras.


Setelah pak Rt dan dua warga yang kerumah Dion sudah pulang, kini Laras segera memasuki kamar nya untuk berkemas.


Dia akan pergi malam ini juga, Terlihat Dion juga ikut memasuki kamar Laras.


"Apa kamu yakin akan pulang malam ini, kenapa tidak besok pagi saja?" tanya Dion melihat Laras mengemasi bajunya dikoper.


"Tidak apa mas, lagian juga nggak terlalu jauh, aku juga udah pesen taksi." kata Laras.


"Nggak, aku anter saja." kata Dion.


"Aku udah terlanjur pesen taksi Mas, mas nemenin Zahra aja." kata Laras yang langsung di iyakan oleh Dion.


"Maafin Mas ya, nggak bisa pertahanin kamu disini, mas sendiri juga binggung harus gimana." kata Dion.


"Udah mas, santai aja." kata Laras.


"Makasih ya selama 3bulan terakhir kamu jagain Zahra." kata Dion.


"Iya Mas, kalau nggak keberatan aku nggak apa apa jagain Zahra lagi kalau Zahra boleh dibawa kerumahku." kata Laras.


"Enggak mungkin, aku nggak bisa jauh dari Zahra lagipula jarak rumah kamu kekantor cukup jauh, kamu tenang aja aku bakal cari babysitter buat Zahra." jelas Dion.


"Ya udah mas kalau gitu." pasrah Laras, sebenarnya Laras masih ingin bersama Zahra tapi mau bagaimana lagi memang semua harus seperti ini.


"Ya udah Mas tunggu diluar ya." kata Dion.


"Mas." Dion belum sempat keluar sudah berbalik lagi karena panggilan Laras.

__ADS_1


"Maaf buat apa yang aku tanyain kemarin.'' kata Laras.


"Ohh, udah lupain aja." kata Dion tersenyum. setelah kedatangan Pak Rt memang Dion sudah tidak kesal lagi dengan Laras justru sekarang merasa kasihan dengan Laras yang harus berpisah dengan Zahra, Dion cukup tau jika Laras begitu menyanyanggi Zahra.


Laras mengangguk dan tersenyum lega.


Selesai mengemasi barang barangnya, kini Laras menyeret kopernya berjalan keluar kamar menuju kamar Zahra untuk berpamitan namun sayang Zahra sudah tidur.


"Non Laras yakin mau pergi?" tanya Bik Inah sedih sedangkan Dion berdiri disamping Bik Inah menatap kedua orang ini dengan Iba.


"Iya Bi, maafin kalau Laras ada salah sama Bi Inah ya, dan juga Laras nitip Zahra ya Bi." kata Laras memeluk Bik Inah yang kini sudah menangis.


"Iya Non, Non Laras sering sering main kesini ya." kata Bik Inah yang diangguki Laras.


Didepan sudah ada taksi yang dipesan oleh Laras. Laras segera berjalan keluar mendekati taksi itu.


"Aku pulang dulu ya mas." kata Laras yang hanya diangguki oleh Dion, tak lupa Dion melambaikan tangan pada Laras yang sudah berada didalam taksi yang juga melambaikan tangan padanya.


Dion menghela nafas panjang, sungguh Ia masih binggung dengan apa yang harus Ia katakan pada Zahra besok jika Zahra bertanya padanya.


..


Sebenarnya jarak rumah Laras dan Dion tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu satu jam saja.


Laras memasuki rumahnya yang sudah berdebu itu karena sudah 3 bulan ia tinggal dan juga tak pernah dibersihkan.


"Lebih baik aku segera tidur dan bersih bersih besok pagi saja." guman Laras segera merebahkan tubuhnya diranjang.


"Rasanya sudah lama sekali aku meninggalkan kamarku ini." celoteh Laras sebelum akhirnya tertidur.


Paginya Laras terbangun dan langsung bersih bersih rumah, selesai bersih bersih rumah Ia memasak ala kadarnya, hanya memasak mie instan karena tak ada bahan apapun dirumah dan Ia juga sedang malas pergi kepasar untuk berbelanja.


Siang hari saat sudah selesai dengan pekerjaannya, Laras binggung mengerjakan apalagi karena biasanya Ia selalu menjaga Zahra, mendengar celotehan Zahra namun kali ini rasanya sepi dan hampa lagi.


Karena gabut, akhirnya Laras pergi kerumah Rama, untuk menepati janjinya jika Ia akan memasak dirumah Rama, Pasti Rama akan senang jika pulang kerja ada Laras dirumahnya.


Segera Laras meluncur kerumah Rama yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah Laras.

__ADS_1


"Sayang, kamu kok sekarang jarang kesini sih?" tanya Rita Mama Rama saat Laras sudah berada dirumah Rama.


"Iya Ma, mbak Naya masih dirumah sakit jadi aku jagain Zahra." kata Laras yang memang sudah terbiasa memanggil Rita dengan sebutan Mama karena memang Laras sudah sangat dekat dengan keluarga Rama.


"Ya ampun, jadi mbak Naya masih belum sadar? sabar ya sayang." kata Rita merengkuh tubuh Naya ke pelukan nya.


"Iya Ma, doain aja mbak Naya cepet sembuh, kasian Zahra Ma, masih kecil." kata Naya sedih.


"Iya Mama pasti doain trus, ya udah yuk masuk, mama juga lagi bikin kue." ajak Rita.


"Kebetulan banget Ma, ni Laras juga udah belanja buat masak makam malem." kata Laras memperlihatkan kantong plastik berisi sayuran yang baru saja Ia beli diwarung dekat rumahnya.


Mereka akhirnya bergumul didapur, Mama Rita membuat Muffin dan Laras memasak untuk makan malam.


"Nih cobain muffin mama," kata Mam Rita menyodorkan muffin yang masih hangat.


"Uhh buatan Mama emang yang paling the best." kata Laras mengacungkan jempolnya setelah mencicipi muffin hangat Mama.


"Eh ada calon kakak ipar." celetuk Dita adik Rama yang baru saja pulang kuliah membuat Laras tersipu malu.


"Apa sih Dek, sukanya godain mbak." kata Laras malu malu.


"Habis aku pengen banget sih mbak Laras jadi mbak ipar aku." kata Dita lagi.


"Nggak cuma kamu aja dek, Mama juga pengen punya mantu kayak Laras." kata mama Rita membuat Laras semakin salah tingkah.


"Ayo dong Ma, suruh Mas Rama biar segera ngesahin mbak Laras." pinta Dita.


"Mbak Larasnya ditanyain dulu mau nggak disahin sama Rama." goda Mama Rita membuat Laras semakin salah tingkah.


"Udah ah, aku pulang aja kalau digodain trus." Laras merajuk membuat Mama Rita dan Dita terkekeh.


Bukan Rama yang belum menyatakan cinta tapi Laras lah yang belum siap menerima Rama sebagai kekasih apalagi suami. entah apa yang membuat Laras bimbang, Laras memang hanya menganggap Rama sebagai sahabat tidak lebih.


Makan malam pun sudah siap, tinggal menunggu Papa dan Rama pulang.


"Surepriseeee... ada mbak Laras mas." kata Dita saat Rama memasuki rumah membuat Rama tersenyum bahagia.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2