
"Aku bakal tuntut kamu." kata Sinta saat Aryo dan Joko pergi setelah puas menikmati tubuhnya.
Rama terlihat asyik melihat hasil rekaman nya, "Ck, ternyata mereka pintar juga karena berhasil membuat ****** sepertimu mendesah tanpa henti."
"Apa kau sudah puas baby?" Rama meletakan kameranya dan segera melepaskan ikatan Sinta.
Plakk... Sinta segera menampar wajah Rama setelah tangan nya terlepas dari ikatan.
Rama malah tertawa,
"Aku akan melaporkan mu ke polisi!" ancam Sinta.
"Dan kita akan masuk penjara bersama," balas Rama santai "Bukankah menyenangkan?"
"Apa maksudmu?" tanya Sinta heran "Kamu yang bersalah dan kamu yang seharusnya masuk penjara." geram Sinta.
"Lalu apa seseorang yang sudah korupsi dana perusahaan tidak salah?" sinis Rama langsung saja membuat wajah Sinta pucat.
"Laporkan saja, jika kau juga ingin dipenjara." Rama bangkit lalu meninggalkan Sinta yang menangis.
Rama melajukan mobilnya meninggalkan rumah ditengah hutan itu, meninggalkan Sinta disana dan tak peduli bagaimana Sinta akan pulang nantinya.
Ia melihat jam tangan sudah hampir pukul 2 siang. hanya menghukum Sinta sudah membuang buang waktunya.
Hingga ditengah perjalanan, Ia melihat sosok perempuan yang mirip dengan Laras sedang berdiri dipinggir jalan sambil membawa rantang. Jika dilihat sepertinya Laras sedang menunggu taksi.
Tak menunggu waktu lama, Rama segera saja menghentikan mobilnya tepat didepan Laras berdiri.
"Rama..." wajah Laras terlihat senang melihatnya.
"Masuk Ras," pinta Rama yang langsung diangguki Laras.
"Kamu kenapa di sini?" tanya Rama saat Laras sudah memasuki mobil.
"Abis dari kantor mas Dion, nganter makanan." Balas Laras.
Rama terdiam, melihat raut wajah Laras yang begitu bahagia.
"Kamu nggak ngantor? jam segini kok keluyuran?" Laras menatap Rama heran.
"Biasa lagi ada urusan diluar." balas Rama yang langsung diangguki Laras.
"Mau makan siang bareng?" tawar Rama.
"Boleh." balas Laras yang memang belum makan siang karena dirinya tadi hanya membawakan untuk Dion saja. Setelah kejadian memalukan diruangan Dion, Laras segera menyuapi Dion dan tak mengijinkan Dion menyentuhnya disana, takut ada yang masuk lagi.
"Besok aku bikin kamar di sini jadi kalau kamu datang kita bisa langsung main tanpa takut ada yang masuk lagi." kata Dion sebelum Laras pulang.
__ADS_1
"Ck, malah senyum senyum." kata Rama yang langsung membuyarkan lamunan Laras.
"Mau makan siang dimana?" tanya Laras.
"Kamu mau makan apa?" Rama malah balik bertanya.
Setelah diskusi panjang lebar akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang di restoran seafood langganan mereka saat kuliah.
"Tempatnya masih sama ya Ram." ucap Laras saat keduanya sudah memasuki restoran dan sudah memesan menu.
Rama hanya mengangguk, karena sedari tadi Ia salah fokus dengan tanda merah yang ada dileher Laras. Meski sudah tertutup kerah namun mata Jeli Rama masih bisa melihatnya dengan jelas.
Tanpa Rama sadari, Ia menggepalkan tangannya merasa kesal dengan apa yang Ia lihat.
Selesai makan siang, Rama mengantar Laras pulang. Awalnya Laras menolak karena takut menjadi bahan gunjingan dari pada tetangganya namun karena Rama memaksa akhirnya Laras menurut saja.
"Maaf ya Ram, nggak ngebolehin kamu mampir." kata Laras saat mereka sampai didepan rumah.
Rama menggeleng pelan, "Aku seneng ngeliat kamu udah bahagia."
"Walaupun aku juga sakit." batin Rama.
Laras mengangguk "Kamu juga harus bahagia ya Ram." kata Laras yang langsung diangguki Rama.
"Makasih buat makan siang dan tumpangan gratisnya." ucap Laras tersenyum sebelum akhirnya Ia keluar dari mobil.
Rama kembali ke kantor, niatnya Ia ingin kembali bekerja namun pikirannya yang sudah pusing dan bertumpuk apalagi melihat Bima yang menyapanya membuat Rama semakin tak konsen.
Setelah memberikan hukuman pada Sinta, Rama juga ingin memberikan hukuman pada Bima sebelum Rama memecat keduanya.
"Saya sudah menyelesaikan tugas saya pak.'' kata seseorang yang saat ini menghubungi Rama lewat telepon.
"Bagus, aku akan segera mentransfer sisa bayaranmu."
Rama mematikan panggilan lalu tersenyum puas.
Tak sabar ingin melihat kehebohan yang Ia buat.
Rama yang tak kunjung konsentrasi dengan pekerjaan nya akhirnya memilih untuk pulang.
Masih pukul 7 malam, sepertinya masih awal untuk Rama pulang.
Mobil Rama akhirnya berhenti disebuah club malam yang dulu sering Ia kunjungi. Sudah lama Ia tak mendapatkan kehangatan diranjang. Hampir beberapa bulan setelah Ia melihat tubuh polos Laras dan membuatnya tak bisa berpaling bahkan menikmati tubuh wanita lain apalagi Sinta yang selama ini melayani nya bahkan membuat dirinya kecanduan dengan tubuh Sinta.
Namun siang tadi saat melihat tanda merah dileher Laras membuatnya sangat kecewa karena nyatanya Laras telah melakukannya bersama suaminya.
Tentu saja Laras melakukan nya, dia sudah menikah. Rama menertawai kekesalannya.
__ADS_1
Tak menunggu lama, Rama memasuki malam dan menikmatin alunan musik dj sambil sesekali meneguk whisky yang ada digelas yang Ia pegang.
Tak ada yang menarik dimata Rama karena semuanya wanita yang mendekatinya malam ini bekas orang lain. Haha tentu saja bekas orang lain karena semua wanita yang ada di sini pelacur dan akan sulit untuk Rama mendapatkan gadis yang masih ori. Semua wanita yang mencoba menggodanya Ia abaikan begitu saja hingga matanya melihat seorang gadis yang tak asing.
Sella... Lagi lagi Dia bertemu Sella.
Terlihat Sella yang mabuk sedang didekati seorang pria namun Sella nampak memberontak.
"Maaf, bisakah Anda lepaskan kekasih saya?" tanya Rama pada pria yang sedari tadi mengoda Sella.
Pria itu hanya menatap tajam ke arah Rama lalu meninggalkan Rama dan Sella.
"Kau lagi kau lagi hahaha." Sella yang sedang mabuk berat melihat Rama namun masih mengenali Rama.
Tanpa menunggu persetujuan Sella, Rama membawa Sella keluar dari Club malam.
"Kita mau kemana? aku masih ingin menari disana." rancau Sella saat Rama memasangkan seatbeltnya.
"Ayo, akan kuantar pulang.' kata Rama.
"Pulang? hahaha aku tidak ingin pulang. pria itu pasti menungguku! pria pengkhianat."
Rama mengerutkan alisnya, tak mengerti maksud Sella.
"Semua pria memang sama saja, hanya menginginkan tubuh kekasihnya dan jika tidak diberi mereka pasti akan selingkuh." rancau Sella yang masih didengar oleh Rama.
"Aku benar benar lelah dan ingin tidur hehehe."
"Maka dari itu ayo akan ku antar pulang." kata Rama.
"Sudah kubilang aku tidak ingin pulang!" balas Sella, "Apa kau tuli?" tanya Sella membuat Rama kesal.
"Ck, tampan tapi tuli." ejek Sella.
"Ya sudah, keluar dari mobilku!" kesal Rama.
"Kau memang pria yang tak punya perasaan, bagaimana bisa kau membiarkan wanita berada dijalan tengah ma- hoekkk."
"Hey apa yang kau lakukan." teriak Rama saat Sella muntah di mobil Rama dan selanjutanya...
Hoekk... Sinta muntah hingga mengenai baju Rama.
Aish... benar benar sial hari ini.
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...
__ADS_1