
Setelah Dion melajukan mobilnya meninggalkan rumah, kini Laras beranjak menuju kamar Zahra dimana Zahra sudah stanby disana ingin bermain rumah barbie bersamanya.
Laras berdiri dibalik pintu cukup lama, Ia memandangi Zahra yang sudah asyik bermain barbie. Zahra, bocah kecil yang belum mengerti jika Naya sang Mama sudah tiada namun malah membenci Naya, seolah Naya lah yang meninggalkannya tanpa tau jika sebenarnya Naya juga tak ingin meninggalkan nya, namun takdir berkata lain. Tuhan lebih menyanyanggi Naya dan mengambil Naya lebih dulu.
Ingin rasanya Laras menjelaskan semuanya pada Zahra saat kata kata Zahra terucap di meja makan tadi namun gerakan tangan dari Dion membuatnya mengurungkan niat itu.
"Mungkin belum sekarng kita menjelaskan semua pada Zahra, karena Zahra masih kecil dan belum mengetahui kebenarannya." kata Dion sebelum berangkat kerja yang hanya diangguki Laras walaupun sebenarnya Laras sudah gatal ingin menjelaskan semua pada Zahra.
Mungkin Ia akan menjelaskan secara perlahan pada Zahra batin Laras masih berdiri memandangi Zahra sampai lamunannya buyar kala mendengar suara cempreng Zahra.
"Mama ngapain di situ? ayo sini. Yaya udah bikin teh buat princess." kata Zahra menyebut boneka barbie kesayangan nya dengan sebutan princess.
Laras tersenyum dan segera menghampiri Zahra. Laras duduk disamping Zahra dan melihat dua boneka barbie dewasa dan satu boneka barbie anak kecil.
"Ada anaknya ya?" tanya Laras melihat boneka barbie kecil yang duduk disamping boneka barbie besar.
"Iya Ma, ini anaknya princess." jelas Zahra. "Princess baru bikinin susu buat Loli." jelas Zahra lagi menyebut nama Loli untuk boneka barbie kecil itu.
Laras mengangguk angguk paham, "Trus ini siapa?" tanya Laras menunjuk boneka barbie besar yang ada disamping princess.
"Ini namanya Rose, adik princess." Laras sempat tertawa karena Zahra menyebut nama Rose dengan suara lucu dan masih belum jelas.
"Kok Mama malah ketawa?" Zahra cemberut menatapnya.
"Eh maaf maaf," Laras menghentikan tawanya "Kalau Papa nya Loli mana?"
Giliran Zahra yang tersenyum lebar, "Nggak ada ma."
"Nggak tau nih masa Papa beliin mainan nggak lengkap gini." gerutu Zahra masih dengan suara cempreng dan tidak jelas membuat Laras ingin kembali tertawa namun Ia tahan karena tak ingin membuat Zahra cemberut lagi.
Zahra yang memang masih berumur 2 tahun menuju 3 tahun memang masih tahap proses belajar bicara, maka dari itu kadang ucapan Zahra sedikit tak jelas dan membuat Laras kadang sulit memahami arti dari ucapan Zahra itu.
"Mama jadi Rose ya, yukk kita minum teh sama sama." ajak Zahra yang hanya diangguki oleh Laras.
Mereka bermain cukup lama, hingga Laras sempat terkejut kala Ia mendengar kembali ucapan polos dari Zahra yang membuat hatinya nyeri.
__ADS_1
"Princess sayang Loli, nggak akan ninggalin Loli jadi Loli jangan nangis ya." celoteh Zahra sambil terus memainkan boneka barbienya.
"Zahra..." panggil Laras membuat Zahra menatap Laras.
"Apa Zahra marah karena Mama Naya nggak pulang?" tanya Laras membuat Zahra mendadak memasang wajah cemberut.
Zahra mengangguk dan masih cemberut "Mama Naya nggak sayang sama Yaya." ucap Zahra dengan polosnya.
"Mama Naya sayang kok sama Yaya. sayang banget malahan." Laras mencoba menjelaskan secara perlahan.
"Bohong, kalau Mama Naya sayang kenapa Mama Naya nggak pulang nemenin Yaya." balas Yaya acuh dan malah kembali memainkan bonekanya.
Cukup terkejut untuk Laras, mengingat umur Zahra yang masih sangat lah kecil namun Ia sudah bisa mengatakan ini semua seolah Zahra sudah berumur 5 tahun dan mengerti segalanya.
"Mama Naya ingin pulang, cuma memang nggak bisa lagi. Allah lebih sayang sama mama makanya Allah ngajak Mama pergi tapi bukan berarti Mama Naya nggak sayang sama Zahra."
"Allah itu siapa Ma? kenapa nakal ngambil Mama dari Yaya?"
"Allah itu yang memberikan kita segalanya, nanti lama lama Yaya pasti tau dan mengerti."
Zahra menunduk lesu, "Kalau Allah baik kenapa Allah ngajak Mama pergi."
"Karena Allah lebih sayang sama Mama Naya, nggak mau Mama Naya sakit lagi." Laras membawa Zahra ke dalam dekapan nya.
"Mama Naya sayang banget sama Yaya, jadi Yaya jangan benci sama Mama Naya ya?" pinta Laras.
Zahra melepaskan pelukan Laras, "Apa besok Mama Naya bakal pulang Ma?"
"Mama Naya memang nggak akan pulang, tapi pasti besok Yaya mengerti kenapa Mama Naya pergi."
Zahra kembali cemberut, "Berarti Mama Naya nggak sayang Yaya."
Laras menepuk jidatnya, Menjelaskan pada Zahra memang membutuhkan kesabaran extra tinggi.
"Emang Mama Naya harus gimana biar Yaya tau kalau Mama Naya sayang sama yaya?" tanya Laras tak mengerti lagi harus bagaimana menjelaskan pada Zahra.
__ADS_1
"Pulang, nemenin Yaya main kayak Mama Ayas."
"Berarti kalau Mama Ayas pergi, juga nggak sayang sama Yaya gitu?"
Zahra kembali cemberut, "Mama Ayas juga mau pergi?"
"Iya kalau Yaya masih mengira Mama Naya nggak sayang sama Yaya, Mama Ayas ikutan pergi aja." kata Laras yang sudah benar benar buntu harus mengatakan apa.
"Jangan pergi Ma, Iya Yaya nggak akan bilang gitu lagi."
"Nggak akan bilang apa?" tanya Laras.
"Emm yang tadi itu, nggak bilang kalau Mama Naya nggak sayang sama Yaya." kata Zahra dengan lesu membuat Laras sedikit lega.
Setidaknya dengan seperti ini tidak membuat Zahra salah paham lagi jika Naya pergi bukan karena tak menyayanggi nya namun karena takdir yang masih belum bisa dimengerti oleh Zahra.
Perasaan kalut Laras tidak berbeda jauh dengan apa yang dirasakan oleh Dion. Setelah mendengar ucapan Zahra memang membuat Dion sedikit kacau.
Bagaimana bisa bocah sekecil Zahra mengatakan itu dengan polosnya? Apa karena memang sudah tak pernah melihat Naya membuat Zahra berpikir demikian? entahlah Dion sendiri juga masih bingung.
Ia ingin menjelaskan semuanya pada Zahra namun sepertinya bukan sekarang waktunya. Tunggu Zahra sedikit lebih besar dan bisa mengerti apa yang akan Ia katakann nantinya.
Dan tadinya, Dion hanya ingin memecat karyawan yang terlibat korupsi dengan baik baik namun karena perasaan nya dalam kondisi yang buruk Ia akhirnya mengamuk pada semua bawahan nya yang terlibat korupsi sebelum memecat mereka dengan cara yang tidak hormat. Tidak ada pesangon dan uang gaji terakhir mereka pun tak cair untuk ganti rugi perusahaan karena ulah mereka sendiri.
Namun anehnya sesampainya dirumah, Hanya dengan melihat Laras semua perasaan kalut dan mood buruknya langsung saja menghilang apalagi saat Ia memasuki kamar, Laras mengambilkan handuknya dan bertanya,
"Mas baik baik saja?"
Membuat emosi yang sedari tadi meluap luap, pikiran kacau nya mendadak hilang.
Membuat Dion bertanya tanya, "Ada apa dengan nya kali ini?"
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komen...
__ADS_1