
Paginya Laras terbangun dan masih dipeluk oleh Dion, meskipun posisinya Laras membelakangi Dion.
Laras mengingat jika semalam Dion memindahkanya kekamar padahal Laras memang ingin sengaja tidur dikamar Zahra tapi nyatanya Dion tak mau mengalah tetap memindahkannya.
Hmm dasar cowok, kalau sudah urusan ranjang pasti tidak bisa mengalah dengan anaknya begitulah kiranya yang dipikirkan Laras.
Laras mengangkat tangan yang melingkar dipinggangnya pelan, takut membangunkan Dion karena jujur Laras masih malas dengan Dion perihal wanita bernama Sella itu, entahlah Laras hanya merass cemburu saja dan rasanya tak adil untuknya, Laras saja sudah menjauhi Rama demi pernikahannya tapi kenapa Dion tidak bisa menjauhi wanita lain? cukup menyebalkan jika mengingat itu semua.
"Mau kemana dek?" suara serak Dion menghentikan aktifitas Laras yang sedang menyingkirkan tangan Dion.
"Ma-mau kekamar mandi mas, lagian udah siang." kata Laras sedikit gugup.
Bukannya dilepaskan oleh Dion, tubuh Laras malah ditarik hingga semakin mendekat pada Dion membuat Laras panik.
"Bentaran lah dek, mumpung mas libur mager mageran dulu bentar." kata Dion membisikan ditelingga Laras membuat Laras merasa geli.
"Mas, tapi Laras kebelet pipis." kata Laras yang memang benar dirinya sedang menahan untuk buang air kecil.
Dion melepaskan Laras "Nanti kalau udah kesini lagi." kata Dion yang hanya dingguki Laras.
Laras memasuki kamar mandi, jantungnya berdegup sangat kencang. Memang selalu seperti ini jika Ia terlalu dekat dengan Dion tapi mau bagaimana lagi, Dion sekarang memang berhak atas dirinya jadi Laras tak mungkin bisa menghindar lagi.
Selesai buang air kecil, Laras memang kembali ke ranjang namun bukan berbaring, Ia malah duduk dipinggir ranjang.
"Sini lo dek, temenin mas dulu." pinta Dion.
"Mas, udah siang nanti kalau Zahra udah bangun trus nyari kesini gimana?"
"Ck, ya udah sana." kata Dion dengan raut wajah kesal.
Sebenarnya Laras merasa sangat bersalah menolak permintaan Dion tapi Laras juga masih kesal jadi biarkan saja jika Dion kesal padanya.
Laras bangkit dan segera kekamar Zahra namun sayangnya Zahra belum tidur, akhirnya Laras kembali kekamar memutuskan untuk mandi lebih dulu.
Laras memasuki kamar dan sudah tak melihat Dion diranjang namun Laras mendengar suara gemericik air dikamar mandi, Dion sedang mandi pikir Laras yang kini menunggu Dion selesai mandi.
Namun hingga 30 menit Dion tak kunjung keluar dari kamar mandi membuat Laras penasaran, sebenarnya apa yang dilakukan Dion didalam sana? batin Laras.
Namun setelahnya Dion keluar, dan terkejut melihat keberadaan Laras.
"Katanya mau ngurusin Zahra?" cibir Dion yang terlihat masih kesal.
"Eng, Zahra nya belum bangun ternyata mas,"
"Ohh,"
__ADS_1
"Mas, katanya libur kok mandi nya pagi banget, trus lama lagi." protes Laras yang memang sudah menunggu sedari tadi.
"Salah kamu sih."
"Kok aku sih mas?"
"Iya semua karena kamu aku jadi harus mandi lama." kata Dion lagi dengan nada masih kesal.
Laras yang tak mengerti apa maksudnya Dion pun mengabaikan ucapan Dion dan memilih memasuki kamar mandi.
Sementara Dion hanya tertawa geli, sebenarnya Ia tidak sedang kesal dengan Laras. hanya saja karena semalaman tidur memeluk Laras rasanya ada yang perlu dituntaskan pagi tadi.
Dan karena tak ingin Laras tau kenapa Dion berlama dikamar mandi jadilah Dion pura pura kesal agar Laras tak banyak bertanya.
Malu dong kalau Laras tau apa yang baru saja Dion lakukan dikamar mandi.
Selesai mandi dan sudah mengenakan pakaian dikamar mandi, Laras keluar dan melihat Dion asyik memainkan ponselnya.
Laras masih mengabaikan Dion karena melihat Dion yang asyik dengan ponselnya membuat Laras berpikiran macam macam, Laras menebak mungkin Dion tengah asik mengirim pesan dengan kekasihnya itulah yang dipikirkan Laras.
Laras memilih keluar kamar dan langsung menuju kamar Zahra yang nyatanya masih tertidur pulang.
"Sayang, udah siang lho kok belum bangun?" Laras membangunkan Zahra.
"Eughhh... mama." panggil Zahra kala sudah membuka matanya.
"Udah siang ini, yuk bangun mandi trus sarapan sama papa." ajak Laras yang langsung diangguki oleh Zahra.
"Yaya mau pake baju princess mah." pinta Zahra setelah selesai mandi.
"Iya, ini lagi mama cariin." Laras terlihat membolak balikan lipatan baju milik Zahra yang sudah tertata rapi di almari hanya untuk mencari baju yang di inginkan Zahra.
"Yey, Yaya pake baju princess." Zahra berteriak girang.
Selesai memakai baju, Laras segera mengajak Zahra turun karena pasti Dion sudah menunggu mereka dimeja makan.
Dan benar saja Dion memang sudah ada dimeja makan, namun satu hal yang membuat Laras sangat kesal, Dion masih asyik dengan ponselnya, membuat Laras berpikiran jika Dion memang tengah asyik mengirim pesan dengan kekasihnya.
"Papa.." suara cempreng Zahra membuat Dion meletakan ponselnya sejenak.
"Uhh, princessnya Papa udah cantik banget." puji Dion membawa Zahra kedalam pangkuannya lalu menciumi pipi Zahra gemas.
"Papa nggak kerja?" tanya Zahra melihat Dion masih mengenakan pakaian santai.
"Enggak dong, Papa libur." balas Dion membuat Zahra tersenyum girang.
__ADS_1
"Yeayy, Papa libur! kita bisa jalan jalan." kata Zahra penuh semangat.
Laras hanya tersenyum mendengarkan percakapan Ayah dan anak itu.
"Oh ya dek, besok kita fitting baju pengantin ya." kata Dion.
Laras bahkan lupa jika mereka akan segera mengadakan resepsi pernikahan. Gara gara terlalu memikirkan siapa Sella membuat Laras lupa hari penting nya itu.
Lagipula kalau memang benar Dion memiliki kekasih untuk apa pula mereka harus mengadakan resepsi, bagaimana jika kekasih Dion mengacaukan pesta mereka, bisa malu Laras nanti, pikir Laras.
"Iya mas." jawab Laras seadanya.
"Kamu nggak ada niat buat perawatan sebelum pernikahan? biasanya cewek suka perawatan disalon sebelum pernikahan?" tanya Dion yang membuat Laras memiliki ide untuk menghindari Dion hari ini.
"Ohh, iya mas, mumpung mas libur kan aku pergi perawatan kesalon nggak apa apa kan ya? ada mas yang bisa jagain Yaya dirumah." kata Laras.
"Hmm, aku antar lah, sekalian ngajak Zahra jalan jalan keluar." kata Dion yang membuat Laras lemas seketika, gagal sudah rencananya.
"Ya udahlah mas kalau gitu."
"Jadi kita mau jalan jalan pah?" tanya Zahra.
"Iya dong, kita anterin mama ke salon ya." kata Dion membuat Zahra semakin girang.
"Mas, mendingan mas quality time sama Yaya aja, aku ke salon sendiri, kasian Yaya kan kalau bosen harus nungguin aku." kata Laras.
"Udah kamu tenang aja, aku tau salon yang bagus dan dijamin nggak bikin Yaya bosen nunggu." jelas Dion.
"Ya sudah," Laras hanya bisa menurut.
Selesai sarapan bersama, pukul 8 pagi Zahra, Laras dan Dion sudah berada dimobil untuk pergi ke salon tempat Laras akan perawatan.
Setengah jam perjalanan, mereka akhirnya sampai didepan salon yang besar dan berkelas, bahkan Laras saja baru tau jika ada salon sebesar ini.
"Eh mas Dion udah lama sekali." kata seorang wanita yang terlihat anggun dan sangat cantik.
"Iya nih Re, oh ya kenalin ini Laras." Dion memperkenalkan Rennata pemilik salon pada Laras.
"Laras," Laras mengulurkan tangan begitu juga Rennata.
"Panggil aja Rennata, aku mantan nya Dion." balas Rennata kemayu.
Deg.. jantung Laras serasa berhenti berdegup, merasakan semakin menumpuk kekesalannya pada Dion.
TBC.
__ADS_1