Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
09


__ADS_3

Selesai menyalami semua tamu, Laras segera naik keatas, sebenarnya hanya untuk menghindari Dion karena Laras masih gugup melihat Dion setelah apa yang baru saja terjadi.


Laras menutup pintu kamarnya, untuk menganti pakaian nya sebelum pergi kekamar Zahra, karena Laras tak ingin Zahra melihat Laras memakai baju kebaya pengantin yang tadi pagi Dion belikan.


Baru beberapa menit menikah saja, Dion sudah melanggar perjanjian, batin Laras kesal perihal ciuman kening didahi Laras. Semoga setelah ini tidak ada kejadian seperti ini lagi.


Laras keluar kamar, langsung menuju kamar Zahra dan tak disangka Dion juga tengah berada dikamar Zahra dengan pakaian yang berbeda.


"Ante Ayasssss." teriak Zahra girang melihat Laras didepan pintu.


Laras tersenyum kikkuk apalagi saat Dion ikut menatapnya sambil tersenyum, sebenarnya tadinya Laras ingin berbalik saja karena melihat Dion sudah disana namun terlanjut Zahra melihat dan memanggilnya, Ia tak punya pilihan lain selain masuk kedalam.


"Kok manggilnya Tante sih, harusnya mama dong." celetuk Dion yang membuat Laras malu dan salah tingkah, wajahnya merah seperti kepiting rebus.


"Mas Dion apa sih, nggak usah aneh aneh deh." protes Laras pada Dion yang hanya terkekeh.


"Bercanda dek."


"Yaya boleh manggil ante ayas Mama?" tanya Zahra polos.


"Tanya Anye Ayas dong sayang." balas Dion pada Zahra.


Astaga Laras harus memberi jawaban apa pada Zahra, sungguh rasanya gugup sekali.


"Boleh nggak Ante Ayas?" tanya Zahra menatap Laras penuh minat.


"Eh, gimana ya?" Laras terlihat masih binggung.


"Nggak boleh ya Ante?" tanya Zahra dengan raut sedih membuat Laras semakin merasa bersalah.


"Eh jangan sedih dong Yaya sayang, Iya deh iya boleh tapi nanti kalau Mama Naya udah pulang, Yaya manggilnya Ante lagi ya?" kata Laras menirukan suara Yaya. Laras hanya tak ingin jika nanti saat Naya sudah sadar, menjadi salah paham jika Zahra memanggilnya Mama.


"Yeayyy... Yaya punya Mama lagi." girang bocah berumur 2 tahun itu, Laras hanya tersenyum melihat Zahra senang.


Sedangkan Dion menatap Zahra dan Laras bergantian, bersyukur disaat seperti ini ada Laras yang mengantikan posisi Naya sebagai ibu Zahra.


...


Malam hari setelah makan malam, seperti biasa Laras menemani Zahra hingga tertidur, setelah Zahra Tidur Laras hendak keluar dari kamar Zahra bersamaan dengan Dion yang akan masuk kekamar membuat keduanya terkejut.


"Mas Dion, untung nggak nabrak." batin Laras menghela nafas lega.


"Zahra udah tidur?" tanya Dion pada Laras.


"Eh udah mas." kata Laras.


"Ya udah yuk." ajak mas Dion membuat Laras mengeryit heran.


"Kemana mas?" tanya Laras.

__ADS_1


"Kamar lah kan kita mau malam pertama." kata Mas Dion membuat mata Laras membulat.


"Mas Dion ihh." Laras mendengus sebal melihat Dion yang mengodanya, sedangkan Dion hanya terkekeh melihat Laras yang salah tingkah.


"Ya udah kamu met istirahat aja ya, good night dek." kata Dion yang hanya diangguki Laras.


Jujur Laras tidak suka jika Dion mengodanya terus, karena membuat Laras gugup dan salah tingkah, tapi yang lebih penting lagi Laras tak ingin semakin jatuh cinta pada Dion.


Laras buru buru memasuki kamarnya dan mengunci pintunya, melihat Dion yang menggoda nya seperti tadi, Laras menjadi takut kalau Dion khilaf dan melakukan sesuatu padanya, ohh tidak dia tidak ingin menjadi janda yang sudah tidak perawan nantinya.


Laras berbaring diranjangnya, tak berapa lama Ia mendengar ponselnya berdering.


Rama calling..


Segera Laras menekan tombol hijau untuk menerima panggilan.


"Iya ada apa Ram?" tanya Laras.


"Kamu nggak dirumah? lagi dimana?" tanya Rama pada Laras.


"Eh iya, aku balik kerumah mbak Naya soalnya kemarin Zahra sakit, ada apa emang Ram?" tanya Laras.


"Enggak sih, ini aku mau jemput kamu ngajak jalan tapi kamunya nggak ada dirumah, dari tadi aku Wa juga nggak bales." kata Rama.


"Eh Sorry nggak buka hp soalnya tadi Ram." jelas Laras.


"Ohh gitu, ya udah kalau kamu lagi sibuk." kata Rama terdengar lesu.


"Beneran?" suara Rama terdengar semangat sekarang.


"Iya, tapi aku ngajak Zahra nggak apa apa kan?" tanya Laras.


''Iya nggak apa apa lah, Mama pasti seneng kalau liat Zahra." kata Rama terdengar ceria.


"Oke, aku tunggu aku yaa." kata Laras.


"Aku jemput ya besok?" tawar Rama.


"Eh nggak usah lagian aku kesana kalau udah agak siangan kalau mas Dion udah berangkat kerja." kata Laras.


"Oh oke deh." balas Rama.


Setelah berbincang bincang, Rama memutuskan panggilan nya.


...


Paginya saat sarapan bersama Laras melihat Dion sudah mengenakan Kemeja kantornya.


"Mas.." panggil Laras pada Dion.

__ADS_1


"Kenapa Dek?"


"Emm aku boleh nggak ngajak Zahra kerumah temenku yang kemarin itu." kata Laras sedikit takut, takut jika Dion tidak mengijinkan.


"Temenmu cowok yang kemarin?" tanya Dion.


"Iya Mas, kerumah Rama." jawab Laras.


"Kamu udah biasa ya main kerumah temen kamu itu?" tanya Dion membuat Laras semakin bingung, sebenarnya Dion mengijinkan atau tidak batin Laras.


"Iya mas, udah deket sama keluarganya juga soalnya." jelas Laras.


"Oh, aku pikir temen kamu dirumah sendiri." kata Dion barulah Laras sadar sedari tadi apa yang dimaksud oleh Dion.


"Iyalah mas, dia kan masih tinggal sama keluarganya." jelas Laras.


"Ohh ya udah kalau gitu nggak apa apa asal jangan pulang malem malem ya." kata Dion.


"Siap Mas."


"Jadi kita mau aen ya ante?" tanya Zahra yang sedari tadi sibuk memakan roti bakarnya.


"Iya sayang, kita mau maen kerumah om Rama yang kemaren ketemu direstoran." kata Laras.


"Oo om ganteng yaa." kata Zahra terlihat mengingat.


"Masih gantengan Papa sayang." protes Dion tak terima.


Laras hanya terkekeh geli melihat sikap Dion yang tak terima. lucu sih padahal jika dilihat lihat Dion dan Rama itu sama sama tampan hanya saja jika Dion sudah terlihat dewasa sedangkan Rama masih terlihat seperti remaja.


"Papa cama Om, semuanya ganteng kok." celoteh Zahra.


"Enggak Yaya, Papa yang paling ganteng." protes Dion masih tak terima.


"Ya ampun udahlah mas, sama anak kecil kok ya nggak mau ngalah." kekeh Laras pada Dion.


"Ya nggak bisa gitu dong, Zahra harus tau kalau cuma Papa nya yang ganteng.'' kata Dion masih tak terima.


"Iya iya cuma Papa yang ganteng." kata Zahra yang telah menghabiskan roti bakarnya.


"Yuk ante kita kerumah Om ganteng sekalang." kata Zahra pada Laras.


"Nungguin Papa selesai lama." kata Zahra yang langsung dikekehi oleh Laras.


"Ohh gitu yaa sekarang sama Papa, oke besok Papa nggak akan ngajak jalan jalan lagi." ancam Dion yang membuat Zahra panik.


"Jangan dong Papa, ya udah Yaya tungguin Papa selesai." kata Zahra memenggang tangan Dion sambil mengerucutkan bibirnya lucu membuat Dion gemas langsung menciumi Zahra.


Laras yang melihat tingkah Anak dan Ayah itu hanya terkekeh.

__ADS_1


Andai mbak Naya liat pasti bahagia.


TBC.


__ADS_2