
5 hari berlalu...
Radit yang tengah memakai baju kerjanya dikejutkan oleh kedatangan Caca yang baru saja masuk ke kamar.
"Aku ada berita bahagia buat kamu." kata Caca tersenyum ke arah Radit.
"Berita apa?"
"Barusan Laras ngechat aku kalau Zahra udah dibawa pulang. yeeee." kata Caca bersorak gembira dan memperlihatkan isi chat Laras yang ada diponsel yang Ia pegang sedari tadi.
"Seriusan ini?" raut wajah Radit pun ikut bahagia.
"Tapi bukan nya kamu di blok sama Laras?" heran Radit.
"Nggak tahu bee, tadi ada pesan masuk trus ternyata dari Laras. blok nya udah dibuka."
Radit kembali tersenyum dan kali ini memeluk Caca, "Apa mungkin mereka udah maafin aku?"
"Jangan terlalu percaya diri dulu Bee, aku malah takut kalau ternyata Laras diem diem. takutnya suaminya tau trus marah lagi. kan kasihan dia lagi hamil." kata Caca membuat alis Radit mengkerut.
"Dia lagi hamil?"
"Kayaknya sih iya, terakhir pas ketemu dirumah sakit perutnya agak buncit kan, emangnya kamu nggak perhatiin Bee?"
Radit menggeleng, "Ngapain juga aku perhatiin istri orang, bisa ribut gede ntar."
Caca terkekeh menanggapi ucapan Radit.
"Ya udah kita sarapan dulu." ajak Caca.
Radit mengangguk dan mengikuti Caca keluar dari kamarnya.
"Kita kesana yuk?" ajak Radit saat sudah duduk dikursi.
"Aku sih oke oke aja, tapi apa kamu yakin Dion bakal nerima kamu?"
"Coba aja." balas Radit sambil menyuapkan sepotong omelet ke mulutnya.
"Ya udah Bee, habis ini kita kesana."
Selesai sarapan Caca ikut bersiap, keduanya memasuki mobil dan segera melajukan mobilnya menuju rumah Dion.
Tak lupa Radit membelikan bucket bunga cantik yang didalamnya ada boneka teddy bear juga beberapa camilan ringan kesukaan anak anak.
"Si Dion belum ngantor kayaknya." gumam Radit melihat mobil Dion masih terparkir didepan.
"Takut? nggak jadi aja?"
Radit melepaskan seatbeltnya, "Nggak lah, ngapain takut." Radit langsung membuka pintu mobil dan keluar di ikuti oleh Caca.
"Cari siapa?" tanya Reno saat Radit dan Caca memasuki pagar rumah.
"Kami kesini mau jenguk Zahra," balas Radit yang langsung diangguki Reno.
"Tunggu sebentar, saya laporan dulu." kata Reno lalu memasuki rumah.
__ADS_1
Tak berapa lama Reno kembali keluar, "Maaf tapi Tuan Dion bilang kalau Non Zahra sedang istirahat total, nggak bisa diganggu dan menerima tamu."
Seketika raut wajah Radit berubah kecewa,
"Ya sudah kalau begitu, saya titip ini saja buat Zahra." kata Radit memberikan bucket bunga dan sekantong camilan.
Reno mengangguk paham dan segera menerima pemberian dari Radit.
"Kami permisi." kata Radit sebelum keluar dari rumah Dion.
"Sabar bee." Caca mengenggam tangan Radit, mencoba menguatkan.
Radit hanya mengangguk dan memaksa kan senyum nya.
"Dari siapa Ren?" tanya Dion kala Reno membawa bucket bunga dan sekantong jajanan.
"Dari tamu yang mau jenguk Non Zahra Tuan." balas Reno meletakan bawaan Radit ke meja ruang tamu.
Dion melihat isi bawaan, lalu berjalan sampai pintu dan melihat dari kejauhan mobil Radit yang pergi meninggalkan halaman rumahnya.
Dion memang sudah tahu Radit lah yang datang maka dari itu Dion mengusirnya. karena memang Zahra juga sedang istirahat dan Dion tak ingin siapapun datang untuk sekedar menjenguk putrinya itu.
"Dari siapa ini mas?" Laras ikut melihat isi bawaan yang ada dimeja.
"Banyak banget." gumam Laras.
"Biasa, dari orang itu." balas Dion malas.
"Eh, Radit sama Caca kesini?"
"Aku nggak mau Yaya diganggu sama siapapun, Dia butuh istirahat total sekarang." kata Dion yang diangguki paham oleh Laras.
"Ya udah mas , iya aku paham."
"Kamu kalau mau berangkat kerja, berangkat aja biar Yaya aku yang tungguin." kata Laras yang langsung di gelenggi oleh Dion.
"Hari ini nggak ada meeting penting jadi kayaknya aku mau istirahat dulu aja."
"Ya udah terserah kamu."
"Den Dion, Non laras." Bik Inah datang dengan wajah pucat seperti ingin menangis.
"Ada apa Bik?"
"Anu non, kayaknya barang barang saya dicuri."
Baik Dion maupun Laras sama sama terkejut,
"Serius Bik?"
"Emas saya hilang dan uang tunai saya yang saya simpan di lemari juga hilang." adu Bik Inah yang akhirnya menangis juga.
Laras mendekati Bik Inah dan mengajaknya duduk , sementara Dion naik ke atas untuk mengambil laptopnya.
Beruntung sejak awal meninggali rumah ini Dion sudah memasang kamera cctv meski hanya diluar kamar dan ditempat tempat tertentu.
__ADS_1
"Tenang dulu Bik, biar Dion cek cctv." kata Dion mulai membuka laptop nya.
Dan semua orang pun terkejut melihat siapa yang memasuki kamar Bik Inah yang terjadi seminggu yang lalu saat semua orang berada dirumah sakit.
"Ya Allah, cici... kenapa tega sekali." Bik Inah tak menyangka karena selama tinggal di sini, Bik Inah selalu bersikap baik dengan Cici meskipun sebenarnya Bik Inah tidak menyukai Cici.
"Sialan memang!" geram Dion.
Laras mengelus bahu Dion, "Sabar mas,"
Dion segera bangkit dari duduknya, "Mas mau kemana?" Tanya Laras melihat raut wajah Dion yang emosi.
"Cari Cici, dia harus dikasih pelajaran!"
"Mas, tapi jangan pakai emosi." Laras mengingatkan.
Dion hanya mengangguk lalu keluar dari rumah,
Laras mendekati Bik Inah yang menangis, "Sabar Ya bik, semoga mas Dion bisa ketemu sama Cici dan Cici segera kembalikan emas Bik Inah."
Bik inah mengangguk, "Itu emas kenang kenangan dari Mama nya Den Dion Non,"
"Iya laras tahu, berdoa aja ya Bik semoga bisa kembali." kata Laras.
Sementara Diluar,
"Ke kantor Tuan?" tanya Reno yang tadinya sedang bersantai terkejut dengan Dion yang keluar dengan wajah marah.
"Kita pergi ke tampat Cici."
"Haa?"
"Kamu denger nggak?"
"Iya baik Tuan, segera kita kesana."
Tanpa ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, Reno segera mengantar ke tempat dimana Ia dulu mencarikan baby sitter.
Sesampainya disana, Dion langsung masuk dan tentu dengan Reno yang mewakili.
"Maaf, tapi Cici sudah pulang ke kampung halaman nya." kata pengurus tempat itu.
"Dimana kampungnya?" tanya Dion dengan suara marah.
"Maaf, itu privasi kami tidak bisa memberikan-"
"Dia sudah mencuri dirumah saya, katakan saja dimana kampung tempat nya tinggal atau saya juga akan melaporkan tempat ini juga karena telah memperkerjakan seorang pencuri!" ancam Dion yang langsung membuat Ibu pengurus itu takut.
Segera Ibu pengurus itu memberikan alamat rumah Cici pada Dion dan Reno.
"Apa kita kesana sekarang Tuan?"
"Ya, kita seret dia karena telah berani mencuri dirumahku." balas Dion yang langsung diangguki patuh oleh Reno.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
jangan lupa like vote dan komennn