Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
21


__ADS_3

Setelah kejadian sore tadi, baik Dion maupun Laras masih sama sama bungkam. Hanya menatap malu malu saat tak sengaja berpandangan.


"Mama sama Papa lagi marahan ya?" tanya Zahra polos membuat Dion dan Laras gelagapan. mengenai panggilan Zahra yang memanggil Laras Mama, awalnya membuat Laras terkejut tadi sore namun Ia tak mempermasalahkannya dan kini sudah terbiasa dengan panggilan barunya itu.


"Enggak lah, kenapa Mama sama Papa harus marahan?" balas Dion menjawab pertanyaan bocah polos itu.


"Abis Papa sama Mama dari tadi cuma diem trus." protes Zahra membuat keduanya sadar jika mereka memang saling diam seperti orang yang sedang marahan.


"Enggak marahan kok sayang, udah yukk makanannya kan udah habis kita ke kamar Yaya aja, katanya mau liat tayo." ajak Laras yang memang sudah selesai menyuapi Zahra.


"Kamu kan habis nyuapin Zahra, biar aku aja yang ke atas duluan, kamu makan dulu." kata Dion, baru Ingin protes Zahra sudah digendong ke atas oleh Dion.


Laras menghela nafas, Ia tak terbiasa makan malam dan sekarang Dion malah menyuruhnya makan malam. Padahal Niat Laras tadi ingin menghindari Dion eee gagal sudah.


Selesai makan malam, sebenarnya Laras ingin kekamar Zahra namun mengingat Dion yang juga berada disana, Laras pun mengurungkan niatnya.


Laras lebih memilih rebahan diranjang sambil membaca novel lewat ponselnya.


Saking asiknya membaca novel sampai tak sadar ternyata Dion sudah berada disampingnya, saat Dion menarik selimutnya barulah Laras sadar Dion sudah berada disampingnya.


"Eh, mas.. Zahra udah tidur?" tanya Laras terlihat kaget sekaligus gugup.


"Udah kok, asik banget liat apa sih sampai aku masuk aja nggak tau?" kata Dion.


"Ini aku baca cerita."


Dion sadar jika Laras masih terlihat kikkuk, mungkin karena kejadian memalukan sore tadi, sekarang saja Laras tak berani menatap wajahnya malah pura pura melihat ponselnya padahal ponselnya sudah Ia matikan sejak tau Dion disampingnya.


"Sorry buat yang tadi sore." kata Dion.


"Aku yang minta maaf mas, nggak tau kalau ternyata kebiasaan mas gitu." kata Laras yang membuat Dion melotot tak terima.


"Kamu salah, aku nggak kayak gitu! tadi aku lupa nggak bawa handuk, ee pas manggil kamu nggak nyaut nyaut, ya aku pikir kamu nggak ada, ternyata aku salah." jelas Dion terlihat kesal sendiri membuat Laras terkekeh.


"Malah ketawa, nggak lucu." ketus Dion membuat Laras panik karena membuat Dion marah.


"Maaf mas, nggak maksud buat ngetawain tapi memang lucu." Laras masih terkekeh.


"Sekali lagi kamu ketawa, aku cium!" kata Dion yang membuat Laras langsung bungkam.


Dion terkekeh, "Kok diem, setakut itu ya mau dicium?" goda Dion.

__ADS_1


"Eng-enggak kok mas." wajah Laras terlihat memerah malu.


"Ya ampun, kalau mau nyium, nyium aja kali nggak usah pakai bilang." batin Laras.


"Enggak apa?" goda Dion lagi yang kini semakin mendekatkan pada Laras.


"Apa sih mas? godain aku mulu, mentang mentang aku belum pernah nikah." kesal Laras membuat alis Dion mengkerut.


"Bukannya kamu udah pernah?" tanya Dion heran.


"Pernah apa mas?" tanya Laras tak mengerti apa maksud ucapan Dion.


"Lupain aja, anggep aku nggak pernah tanya." kata Dion yang kini sudah kembali ke tempatnya "Apa sebenarnya Laras masih perawan ya? tapi kemarin kenapa cowoknya bilang gitu?" batin Dion.


"Oh ya kapan kamu mau ngadain resepsi pernikahan kita?" tanya Dion membuat Laras kembali berdetak jantungnya pernikahan kita, Dion baru saja mengatakan itu padanya.


"Egh- aku ngikut mas ajalah." kata Laras yang sebenarnya dia sendiri malas dengan resepsi pernikahan seperti itu.


"Jangan gitu lah, ini kan pernikahan kamu juga, kalau apa apa nurut aku kesannya kayak terpaksa gitu."


"Emangnya mas udah nerima pernikahan ini?" tanya Laras mengingat Dion selalu berubah ubah sikap padanya.


"Dari awal aku nerima pernikahan ini, karena ini wasiat dari Naya, jadi apapun yang terjadi aku nggak akan melepaskan pernikahan ini." kata Dion yang membuat Naya meleleh.


"Secepatnya nggak apa apa mas." kata Laras mantap.


"Yakin? ya udah kalau gitu minggu depan ya?" tanya Dion membuat Laras terkejut.


"Minggu depan?"


"Katanya secepatnya."


"Eh iya mas, minggu depan nggak apa apa." jawab Laras pasrah.


"Besok aku bakalan mulai hubungi pihak Wo buat ngurus segala pernikahan kita." jelas Dion.


"Iya mas."


"Habis resepsi aku mau minta hak ku." kata Dion yang langsung membuat Laras menunduk.


"Eh aku bercanda, nggak usah marah gitu, aku nggak maksa kalau kamu emang belum siap." kata Dion.

__ADS_1


"Ya ampun, ngapain sih mas pake bilang segala, kenapa nggak langsung main aja." batin Laras kesal.


"malah diem, marah beneran nih."


"Eng-enggak marah mas, aku tu malu." kata Laras sambil memerah pipinya menandakan jika Ia memang malu kalau membahas masalah ini.


Dion hanya tersenyum "Padahal udah sering gituan sama pacarnya masa malu sih." batin Dion.


...


Seorang wanita tengah mendesah kenikmatan kala pria diatasnya mengagahinya tanpa ampun.


Wanita itu pikir pria diatasnya sedang menikmati tubuhnya tapi nyatanya tidak, pria itu memang sedang bermain dengan wanita itu namun pikirannya melayang membayangkan dia sedang bercinta dengan wanita yang ia cintai.


"Ohhh Laras..." teriak Pria itu kala sudah menuntaskan hasratnya.


Wanita itu mendengus kesal "Akhir akhir ini kau selalu menyebut namanya saat kita bercinta."


"Bukan urusanmu!" balas pria itu cuek, Ia mengambil tisu dan membersihkan sisa percintaannya.


"Aku akan mentransfer bayaranmu." kata Pria itu acuh lalu berbaring diranjang.


Wanita itu terlihat menghampiri pria yang masih bertelanjang dada itu, Ia nampak tidur diatas dada pria itu.


"Aku tak butuh uangmu, aku hanya butuh pengakuan, apa selama ini masih kurang segala penantian ku?" tanya Wanita itu.


"Jika kau sudah lelah, aku akan mencari wanita lain untuk melayaniku." balas pria itu santai.


Wanita itu bangkit dari dada pria itu "Baiklah Tuan Rama yang terhormat, aku akan selalu menjadi sekretaris dan juga pemuasmu saja, aku tak akan berharap lebih, jadi jangan mencari wanita lain." kata Wanita bernama Shinta itu kemudian berjalan meninggalkan Rama.


Rama, ya pria yang sedang bercinta tadi adalah Rama dengan sekretarisnya Shinta. Rama memang mengidap hypersex sejak kuliah namun tak ada orang yang tau bahkan Laras saja tidak tau. Namun Ia selalu berusaha menjaga Laras dan memilih bercinta dengan wanita lain karena Ia memang tak ingin merusak masa depan Laras.


"Kau mau kemana?" tanya Rama.


"Mandi, aku sudah lelah." balas Shinta acuh lalu memasuki kamar mandi.


Rama mengambil sebatang rokok dan mulai menghisap rokoknya. setelah melihat tubuh telanjang Laras, Rama memang sedikit gila.


Dia terus membayangkan jika yang ada dibawahnya itu adalah Laras bukan Shinta.


Laras benar benar membuatnya gila.

__ADS_1


Andai saja malam itu pikirannya tidak waras, sudah pasti Ia pria pertama yang akan merasakan Laras karena Rama tau jika Laras masih perawan.


TBC


__ADS_2