
Mereka berbaring tanpa memejamkan mata hampir satu jam lamanya, hanya saling diam sesekali Dion masih menyentuh area sensitif tubuhnya tanpa melakukan lagi.
Laras melihat sudah pukul 5 sore dan belum mendengar suara Zahra, "Apa Yaya belum bangun?" batin Laras.
"Mau kemana?" tanya Dion saat Laras bangun dan ingin beranjak dari ranjang.
"Mau mandi trus ngeliat Yaya udah bangun belum, dari tadi kok belum denger suaranya." balas Laras membuat Dion langsung saja terkekeh.
"Aku udah minta bik Inah buat jagain Yaya, palingan sekarang bocahnya lagi main sama bik Inah." kata Dion membuat Laras lagi lagi berdecak.
"Kan Bik Inah mau bikin makan malam mas, aku kesana lah kasian nanti." kata Laras namun Dion malah menarik tangan nya membuat Laras kembali berbaring, dengan cepat Dion mengunci tubuh Laras.
"Mas..." protes Laras.
"Nanti malam kita Delivery makanan, atau mau makan malam diluar?"
"Terserah mas aja." pasrah Laras membuat Dion tersenyum puas. Istrinya memang mudah ditaklukan.
"Kamu mau honeymoon dimana?" tanya Dion mengingat saat dikantor Ia sudah memikirkan akan mengajak Laras honeymoon.
"Mas mau ngajak honeymoon?"
Dion mengangguk, "Untuk tempatnya terserah kamu, mau diluar negeri apa diluar kota. aku ngikut."
"Yaya gimana?"
"Diajak sayang, sekalian kita liburan. udah lama juga belum liburan lagi."
"Aku ngikut aja mas, soalnya aku juga nggak tau tempat bagus." balas Laras.
Dion langsung saja menyebutkan tempat tempat rekomendasi dari teman Dion hingga keduanya akhirnya memutuskan untuk mengambil liburan ke paris.
"Sebenernya aku juga udah lama pengen kesana, pengen lihat menara eiffel secara langsung." kata Laras dengan begitu senangnya namun berbeda dengan Dion yang langsung terdiam.
"Mas kenapa? kalau memang nggak mau kesana nggak apa apa, kita cari tempat lain aja." Laras merasa tak enak.
"Enggak bukan gitu, aku tiba tiba keinget Naya."
Deg... Laras mendadak bungkam.
"Dulu waktu hamil Naya pengen kesana, tapi karena aku yang terlalu sibuk jadi nggak ada waktu buat ngajak Naya kesana dan setelah Yaya Lahir semakin sulit untuk kesana. sampai sekarang Naya nggak ada, aku bahkan belum menuruti keinginan Naya." jelas Dion membuat Laras hanya diam.
Laras ingat jika dirinya dan Naya memang menyukai menara eiffel. Sewaktu sekolah dulu mereka bahkan memasang poster menara eiffel dikamar dan berharap bisa kesana suatu hari nanti.
Dan sekarang, Entah mengapa mendengar penjelasan Dion sedikit membuatnya merasa bersalah. rasanya tak adil untuk Naya, harusnya Naya lah yang diajak kesana oleh Dion bukan dirinya.
__ADS_1
"Kita cari tempat lain aja mas." kata Laras.
"Hey sayang, jangan marah. aku tak bermaksud untuk membuatmu-"
"Enggak mas, kita cari tempat lain aja. rasanya nggak adil buat mbak Naya kalau aku yang mas ajak kesana."
"Aku pikir lebih baik kita ke bali aja. karena kita ngajak Yaya. nggak usah jauh jauh. kasian kan kalau Yaya kecapekan karena perjalanan jauh." kata Laras.
Dion akhirnya mengangguk, setuju dengan Laras.
"Tapi jika kamu merasa kecewa, kita bisa kesana."
"Ke paris." kata Dion tak ingin menyakiti istri barunya hanya karena Dion mengingat masa lalunya.
Laras tersenyum, "Aku nggak kecewa mas, kita bisa kesana kapan saja tapi mungkin tidak sekarang."
Dion tersenyum dan mengecup kening Laras, merasa lega Laras begitu pengertian dengan nya.
"Aku mau mandi dulu." ucap Laras kala Dion kembali meminta lebih. Tubuh Laras rasanya sudah lengket.
"Aku temenin, kita mandi bareng." Laras mengangguk mendengar ajakan Dion.
Namun saat Ia hendak berjalan, Rasanya dibawah sana sedikit sakit hingga membuat Dion terkekeh melihat cara berjalan Laras.
Tanpa persetujuan dari Laras, Dion mengendong tubuh Laras ala bridal dan membawanya memasuki kamar mandi.
Yang awalnya Laras pikir mereka hanya mandi saja namun tentu saja tidak untuk Dion. Mereka bahkan menghabiskan waktu hampir satu jam dikamar mandi membuat Laras mengerutu kesal setelahnya.
"Mama sama Papa ngapain sih dikamar, kok lama?" tanya Zahra kala keduanya turun untuk makan malam.
Zahra sedang duduk diruang tengah, menonton acara upin ipin ditemani oleh Bik Inah.
"Kok Mama jalan nya gitu?" tanya Zahra lagi dengan polosnya membuat Dion tertawa sementara Bik Inah terlihat menahan senyum.
"Saya ke belakang dulu Den, non." kata Bik Inah.
"Nggak usah masak buat makan malam Bik, udah saya pesenin makan malam soalnya."
Bik Inah mengangguk paham "Baik Den."
Dion dan Laras duduk diantara Zahra,
"Yaya lama ya nungguin Papa sama Mama?" tanya Dion membuat gadis kecil itu mengangguk.
"Yaya mau masuk tapi nggak boleh sama Bibik, takut ganggu." jelas Zahra.
__ADS_1
"Duh anak Papa pinter banget deh, nurut sama Bibik." Dion mengelus pipi Zahra membuat Zahra tersenyum.
"Besok Papa kasih hadiah adik kalau Yaya pinter, Yaya mau kan punya adik?" tanya Dion yang langsung membuat Laras membulatkan matanya menatap Dion sementara Zahra terlihat senang bukan main.
"Ye ye ye... Yaya mau punya adik."
"Mas, nggak usah aneh aneh deh!" protes Laras dengan nada tak suka.
"Kenapa? kamu nggak mau kita langsung kasih adik buat Yaya?" heran Dion.
"Nggak, bukan gitu. maksudnya jangan dikasih tau sekarang juga mas. kan aku juga belum hamil." kata Laras setengah berbisik takut Zahra mendengar.
"Tenang aja, nanti dikebut biar cepet jadi." lagi lagi ucapan Dion membuat Laras melotot tak terima. meladeni ucapan Dion terkadang memang membuat Laras kesal.
"Nanti kalau Yaya punya adik, Mau Yaya ajak main barbie apa masak masakan. wah kayaknya seru." Zahra terdengar antusias membuat Dion tersenyum senang berbeda dengan Laras yang terasa masih aneh.
Seusai makan malam, Laras menemani Zahra tidur namun Zahra masih saja mengoceh tentang adik bayi membuat Laras menjadi khawatir.
Khawatir jika dirinya nanti akan mengecewakan Dion dan Zahra.
Laras memasuki kamar, disambut oleh Dion yang ternyata sudah menunggunya.
"Kenapa? kok mukanya bete gitu?" tanya Dion membawa Laras ke ranjang dan mulai menyusuri tubuh Laras.
"Mas kenapa sih harus bilang sama Zahra masalah adik."
"Memangnya kenapa?" Dion menghentikan aktifitasnya sejenak dan fokus menatap Laras membuat pipi Laras memerah malu.
"Ak-u cuma takut kalau nanti mengecewakan kalian." kata Laras.
"Mengecewakan kenapa?"
"Gimana kalau sampai aku nggak hamil hamil?"
Dion terkekeh, "Apa kamu meragukan ku sayang."
Dion kembali menyerang area sensitif Laras dengan bibirnya membuat Laras kembali menikmati surga duniawi yang diberikan Dion.
"Kita lihat, sebulan lagi aku pasti akan menghilangkan kekhawatiran kamu."
Segera Dion menyerang Laras tanpa ampun.
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...
__ADS_1