Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
66


__ADS_3

Dion baru saja memasuki rumah, terlihat heran karena keadaan rumah yang begitu sepi padahal ini masih pukul 8 malam.


Dion sengaja pulang lebih awal agar bisa berkumpul dengan Laras dan Zahra karena hari ini mood nya sedikit buruk setelah bertemu dengan Mama Radit. Ia berharap berkumpul sebentar dengan keluarga kecilnya bisa mengubah mood nya jadi lebih bahagia.


"Non Yaya sama Non Laras sudah tidur kayaknya Den." kata Bik Inah setelah membuka kan pintu untuk Dion.


"Tumben?" heran Dion yang kini duduk disofa untuk melepaskan sepatunya.


"Hari ini Non Yaya sedikit rewel, mungkin Non Laras kecapekan karena seharian mengurus Non Yaya." jelas Bik Inah.


"Non Yaya maunya sama Non Laras terus, nggak mau sama saya." jelas Bik Inah lagi yang hanya bisa membuat Dion menghembuskan nafas panjang.


"Saya angetin makan malam dulu Den." ujar Bik Inah hendak ke dapur namun langkahnya terhenti kala mendengar jawaban Dion.


"Saya mau langsung tidur aja bik."


"Baik Den." Bik Inah segera ke belakang meninggalkan Dion yang masih duduk di sofa.


Dion mengendurkan dasinya, Ia nampak menyandarkan kepalanya disofa. Merasa sangat pusing dengan apa yang terjadi hari ini.


Sudah moodnya buruk karena Mama Radit yang menemuinya dan sekarang ditambah lagi dengan aduan Bik Inah yang membuat moodnya semakin buruk.


Dengan langkah berat, Dion menaiki tangga menuju kamar Zahra. Disana Ia buka pintu kamar Zahra dan melihat Zahra sudah terlelap memeluk teddy bear kesayanganya. Dion berjalan mendekat ke arah ranjang lalu duduk disamping Zahra tidur.


Dion mengelus rambut Zahra dan menatapi wajah Zahra yang sama sekali tak mirip dengan nya.


Mata, hidup serta bibir yang sangat mirip dengan Radit bahkan bisa dibilang Zahra adalah duplikat masa kecil Radit.


Ia kecup kening Zahra lalu berdiri dan berjalan keluar kamar Zahra.


Memasuki kamar nya, tak jauh berbeda dengan Zahra, Laras pun sudah terlelap diranjangnya.


Ia tatapi wajah lelap istrinya dari depan pintu sambil tersenyum sebelum akhirnya Ia memasuki kamar mandi untuk mandi.


Selesai mandi, Dion keluar dan masih mendapati Laras yang terlelap. Sedikit mengherankan memang karena biasanya setiap mendengar gemericik air mandi Dion, Laras selalu bangun namun kali ini berbeda, Laras masih terlelap.


Setelah selesai mengenakan piyama nya, Dion segera menyusul berbaring disamping istrinya.

__ADS_1


Ia kecup kening istrinya sebelum akhirnya Dion juga ikut terlelap.


Tengah malam, Laras terbangun dan terkejut melihat Dion sudah disampingnya. Ia melihat jam dinding sudah pukul 1 dini hari.


"Aku ketiduran lagi." gumam Laras yang bangun lalu pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil.


Selesai buang air kecil, Laras keluar dan melihat Dion ikut bangun.


"Mas pulang jam berapa semalam? aku ketiduran lagi." cengir Laras merasa bersalah.


Bukan menjawab, Dion malah merentangkan kedua tangannya membuat Laras mendekat dan menerima pelukan Dion.


"Capek banget ya?" tanya Dion.


"Engg-enggak kok."


"Apa perlu aku nyari pengasuh buat Yaya?" tanya Dion membuat Laras terkejut.


"Nggak mas, nggak perlu. aku masih sanggup." kata Laras.


Dion mengangguk paham, "Aku tahu sayang, tapi sepertinya untuk saat ini kita memang butuh seseorang untuk mengasuh Zahra." kata Dion lagi.


"Tapi aku beneran nggak apa apa mas." balas Laras dengan wajah menunduk.


"Kamu pikirin lagi aja sayang omongan aku ini. kalau kamu setuju kapanpun itu kamu bilang sama aku oke,?" kata Dion yang akhirnya diangguki oleh Laras.


"Aku kangen sama kamu." kata Dion masih memeluk erat Laras.


"Maaf kamu harus ngurus Zahra padahal lagi hamil." Dion merasa sangat bersalah.


Laras menggelengkan kepalanya tak setuju, "Yaya itu anak aku, anak kita. sudah kewajiban kita buat ngurus mas."


Dion tersenyum lalu mengecup kening Laras, "Sekarang aku tahu apa yang bisa membuat aku jatuh cinta sama kamu secepat ini." ungkap Dion yang membuat pipi Laras merona.


"Kamu pulang jam berapa tadi mas?" Laras mengulang pertanyaan yang belum dijawab oleh Dion.


"Jam 8, pulang lebih awal biar bisa kumpul sama kamu dan Yaya ee malah udah pada tidur." kata Dion dengan suara pura pura kesal membuat Laras terkekeh.

__ADS_1


"Maaf mas, aku padahal tadi belum mau tidur malah udah ketiduran." jelas Laras.


"Nggak apa apa, hari ini Yaya rewel?" tanya Dion.


Dengan ragu Laras mengangguk pelan, "Sedikit rewel mas. aku juga nggak tahu kenapa." jelas Laras.


Mengingat siang tadi, Zahra yang menangis minta jalan jalan ke taman. Sudah dituruti oleh Laras namun Zahra masih saja menangis membuat Laras kewalahan dengan sikap rewel Zahra akhir akhir ini yang sangat over tidak seperti biasanya.


"Makanya itu aku kepikiran buat nyari pengasuh biar kamu nggak kecapekan." kata Dion langsung turun ke perut Laras dan mengelus perut yang sudah terlihat buncit.


"Biar yang didalam sini juga baik baik saja sampai ketemu sama kita." kata Dion lagi lalu mencium perut Laras membuat Laras hanya tersenyum senang.


"Aku pikirin dulu lagi ya mas, aku ngerasa masih sanggup buat ngasuh Yaya."


Dion mengangguki keputusan Laras, "Pokoknya kapanpun kamu mau tinggal bilang, aku bakal langsung cari pengasuh buat Yaya." kata Dion yang langsung diangguki Laras.


Krucukk... krucukk...


Laras menatap Dion, mendengar bunyi perut Dion.


"Mas laper?"


Dion tersenyum, "Aku tadi belum makan malam."


"Ck, aku siapin dulu ya." Laras bergegas bangun namun Dion malah menahan tangan nya.


"Nggak usah, udah malem banget buat makan." kata Dion.


"Tetep aja mas harus makan dulu, nanti aku temenin." kata Laras mencoba melepaskan genggaman tangan Dion namun tak berhasil.


Dion malah menarik tangan Laras hingga Laras kembali berbaring di ranjang.


"Aku mau nya makan kamu aja," bisik Dion membuat hati Laras berdesir.


"Udah lama puasa... aku kangen."


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


jangan lupa like vote dan komen


__ADS_2