
Sore harinya Rama mengantar Laras dan Zahra pulang, sebenarnya Laras ingin naik taksi saja karena tak ingin merepotkan Rama namun Rama memaksa hingga akhirnya Laras menyerah dan pasrah diantar pulang oleh Rama.
Mereka sudah sampai didepan gerbang rumah Dion, Laras mengendong Zahra yang tertidur selama perjalanan.
Karena kelelahan bermain ditaman belakang rumah Rama dan asik memberi makan ikan membuat Zahra kelelelahan dan akhirnya ketiduran.
"Kamu nggak apa apa gendong Zahra sampai didalam? apa perlu aku anter masuk?" tanya Rama menawarkan diri.
"Nggak apa apa Ram, udah biasa juga! Sorry kalau nggak aku suruh mampir, soalnya aku masih nggak enak sama Mas Dion." kata Laras.
"Nggak apa apa kok, tapi besok kapan kapan aku mampir ya, pengen kenalan sama Mas Dion, kan bentar lagi dia bakal jadi kakak ipar." celetuk Rama tersenyum.
"Iya deh." Laras hanya tersenyum menananggapi Rama sebelum akhirnya dia keluar dan memasuki rumah.
Rama masih menunggu Laras memasuki rumah, hatinya sudah senang dan gembira karena sudah mendapatkan kepastian dari Laras.
Hanya tinggal menunggu hari atau bulan hingga Naya sadar dan Laras akan menjadi miliknya selamanya.
Rama menyalakan mobilnya dan melajukan mobil meninggalkan depan rumah Dion.
Naya masuk dan melihat mobil Dion sudah terparkir didepan, padahal masih sore, tapi Dion sudah pulang, tumben sekali batin Laras segera memasuki rumah.
Sampai didepan pintu, Laras melihat Dion duduk diruang tamu sambil membaca koran dan sudah berpakaian santai membuat jantung Laras berdegup, bukan karena apa apa, Laras hanya takut jika Dion marah karena mengajak Zahra main hingga sore baru pulang.
Dion yang menyadari kepulangan Laras langsung meletakan koran nya dan meminta Zahra agar Dion yang mengendongnya ke atas, Laras hanya menurut saja memberikan Zahra pada Dion.
"Kok sore banget sih dek pulangnya?" tanya Dion yang terdengar biasa tidak marah.
"Maaf Mas tadi keasikan ngeliat ikan jadi nggak liat jam kalau udah sore." jawab Laras sedikit takut.
"Oh, ya udah kamu istirahat saja biar Zahra mas yang jagain." kata Dion yang langsung diangguki oleh Laras.
Laras memasuki kamar dan segera pergi mandi, karena dirumah Rama tadi hanya Zahra yang mandi sedangkan dirinya tidak karena tidak membawa baju ganti seperti Zahra.
Selesai mandi segera Laras merebahkan tubuhnya diranjang, Ia merasa sangat lelah seharian dirumah Rama meskipun tak melakukan apapun tapi rasanya melelahkan sekali, memikirkan janjinya pada Rama, bisakah Laras menepatinya besok? mungkinkah Naya segera sadar.
Entahlah, Laras sendiri juga bingung, takut jika suatu hari mengecewakan Rama dan keluarganya yang sudah berharap banyak padanya.
....
__ADS_1
3bulan berlalu, Rama dan Laras semakin dekat, semakin sering bertemu dan berkomunikasi sedangkan hubunganya dengan Dion masih sama seperti biasa, tidak ada yang spesial Dion masih tetap sama hanya sedikit lebih ramah saja.
Saat ini Laras sedang berkencan dengan Rama. karena sudah sangat dekat Rama menyebutnya ini dengan kencan.
Mereka akan pergi menonton film yang baru, sedangkan Zahra berada dirumah karena Dion libur jadi Zahra bersama Dion.
Dion pun sudah mengetahui hubungan Laras dan Rama, namun Dion tidak terlihat mempermasalahkan, justru Ia terlihat lebih santai, mungkin karena perjanjian yang terikat diantara mereka membuat Dion membiarkan Laras memiliki kekasih, toh ini hanya sementara jadi tidak masalah jika Laras memiliki kekasih pikir Dion.
Laras dan Rama sudah sampai didepan bioskop, memasuki bioskop dengan tangan Rama yang selalu mengenggam tangan Laras, posesif sekali seperti takut jika Laras akan diambil orang.
"Kamu beli tiket biar aku yang beli popcorn sama minum disana." kata Laras menunjuk sebuah kedai kecil yang menyediakan aneka cemilan dan minuman untuk menonton film.
"Enggak, kita beli tiket dulu abis itu baru kesana bareng aku." kata Rama langsung menarik tangan Laras.
"Ya ampun kamu itu posesif banget deh." geli Laras, bukan merasa sebal justru Laras merasa senang karena setelah hubungan mereka kearah yang lebih serius Rama sering menunjukan semau exspresinya, marah, senang , kecewa berbeda sekali saat Mereka masih bersahabat, apapun yang di inginkan Laras, Rama hanya pasrah dan mengiyakan saja. Tapi tetap saja Laras lebih menyukai Rama yang sekarang karena lebih sering menujukan sikap romantisnya itu. Laras benar benar sudah terbuai dengan pesona Rama yang tidak Ia sadari selama ini.
Selesai membeli tiket, mereka masih menunggu satu jam sebelum film dimulai.
"Aku mau ketoilet sebentar." kata Laras merasa harus buang air kecil.
"Oke aku anter."
"Kenapa memang?" Rama terlihat santai.
Laras mendegus sebal dan memukul lengan Rama "Kenapa apanya? kamu nggak malu apa ikut masuk ketoilet cewek?" tanya Laras kesal.
''Kamu itu yang pikiran nya kotor." Rama menoyor dahi Laras "Jelas aku tunggu didepan lah, masa iya aku masuk, tapi kalau kamu pengen aku temenin didalem ya nggak apa apa sih." kata Rama tersenyum tengil membuat Laras melotot tak percaya.
"Dasar cabul." kesal Laras berjalan mendahului Rama.
"HAHAHA, tungguin aku yank." Rama berlari mengejar Laras.
"Sini tasnya aku bawain." kata Rama saat Laras akan masuk.
"Kamu nggak malu bawain tas aku?" tanya Laras.
"Enggaklah, ngapain malu." jawab Rama mengambil tas dari bahu Laras "Dah sana sebelum kamu ngompol disini." kata Rama membuat Laras kembali memukul lengan Rama sebelum akhirnya memasuki kamar mandi.
Selesai buang air kecil, Rama dan Laras kembali kedepan, sambil menunggu mereka berjalan jalan sekitar bioskop hingga ada sebuah lorong yang gelap dan sepi.
__ADS_1
"Ngapain sih kesini, balik aja yukk." kata Laras yang memang sangat penakut.
"Ya udahlah, lagian bentar lagi juga filmnya mau dimulai." kata Rama.
Keduanya hendak berbalik namun tak sengaja mendengar suara wanita merintih.
"Ram, denger nggak sih?" tanya Laras sudah takut duluan.
"Iya, suaranya dari sana." balas Laras menunjuk sebuah ruangan kosong yang tak terpakai.
"Balik aja lah Ram, takut." kata Laras saat Rama hendak mendekat kearah suara.
"Tenang, kan ada aku." kata Rama.
"Ih, gimana kalau itu hantu."
"Nggak usah parno deh yank, nggak bakal ada hantu." kata Rama mengenggam tangan Laras dan berjalan kearah suara.
Mereka berdua mengintip bersamaan dan betapa terkejutnya Laras dan Rama kala mereka berdua menonton blue film secara live.
Suara rintihan itu bukan suara hantu melainkan suara wanita yang merasa keenakan karena kegarangan kekasihnya yang mengagahinya diatasnya.
Dengan raut tegang, Rama menarik tangan Laras untuk pergi dari sana.
"Kayak nggak ada hotel aja." gerutu Rama.
"Kamu ngomong apa sih?" tanya Laras yang tak mendengar gerutuan Rama.
"Nggak ngomong," balas Rama.
"Kenapa kesel? jadi malu ya habis nonton blue film secara live." goda Laras.
Segera Rama menarik Laras dan membawanya kelorong yang gelap lalu mengukung tubuh Laras dengan kedua tangan Rama.
"Bukan malu tapi pengen." bisik Rama membuat Laras meriding.
Rama hendak mendekatkan bibirnya ke bibir Laras, Laras pun seperti siap memberikan ciuman pertamanya namun saat sudah menempel tinggal ******* mereka dikejutkan oleh suara ponsel membuat Rama kesal.
"Apa? mbak Naya sadar?"
__ADS_1
TBC.