
Selesai merawat diri ke salon, Laras berniat menyusul Dion dan Zahra ke mall karena sedari tadi Dion mengirimkan pesan jika Zahra merenggek ingin ditemani oleh Laras alhasil membuat Laras membuang jauh amarahnya dan pergi menyusul Zahra dan Dion.
Sesampainya di mall Laras segera menuju ke time zone, tempat yang biasa Laras dan Zahra kunjungi. Dan benar saja disana Laras bisa melihat Dion yang tengah menemani Zahra naik kuda poni.
"Mama..."Teriak Zahra girang kala melihat Laras mendekat, sementara Dion juga segera menatap Laras yang mendekat ke arah keduanya.
"Seneng ya sayang?" tanya Laras
"Mama lama.." protes Zahra.
"Maaf deh, udah mau selesai ya?" tanya Laras yang hanya diangguki Zahra.
Sementara Dion terlihat menatap ke arah Laras yang sepertinya moodnya sudah membaik.
"Kamu tambah cantik dek abis perawatan." goda Dion.
"Jadi kalau aku nggak perawatan nggak cantik gitu?" tanya Laras ketus, baru saja modnya membaik Dion kembali menyentil membuatnya kembali buruk.
Dion hanya bisa mengela nafas saba, sepertinya Ia sudah salah bicara.
"Papa, Yaya laper." kata Zahra membuat Laras dan Dion menatap kearah Zahra bersamaan.
"Ya udah kita mampir makan dulu ya, Yaya mau makan apa?" tanya Dion.
"Emm apa ya?" Zahra terlihat sedang berpikir membuat Laras tersenyum geli melihat tingkah polos Zahra itu.
"Ayam goreng, ikan goreng apa spaghetti?" tanya Dion.
"Spaghetti, ya Yaya mau spaghetti." teriak Zahra girang.
"Ck, kenapa ditawarin mie sih mas, kan nggak sehat." cibir Laras.
Duh salah lagi kan? apa lebih baik Dion diam saja, batin Dion sedikit frustasi.
"Tuh nggak dibolehin Mama makan Spaghetti." kata Dion.
Yaya terlihat memanyunkan bibirnya, membuat Laras gemas dengan bocah 2 tahun itu.
"Iya udah dibolehin deh, sekali ini aja tapi ya." kata Laras yang langsung diangguki oleh Zahra dengan girang.
Ketiganya pun memasuki sebuah restoran yang menyediakan aneka makanan fastfood.
Zahra dan Laras segera mencari tempat duduk sementara Dion memesankan makanan untuk ketiganya.
Zahra tak henti hentinya bercerita pada Laras tentang permainan apa saja yang tadi Ia naiki bersama Dion, Laras hanya tersenyum menanggapi betapa bawelnya putri dari kakaknya itu, membuat Laras mendadak merindukan sosok Naya.
"Sabar ya sayang baru dibikinin." kata Dion setelah selesai memesan.
"Oke deh Pa.."
__ADS_1
Tak berapa lama makanan mereka pun datang, Zahra senang sekali ketika sepirinh spaghetti sudah ada didepannya sementara Laras malah mengerutkan keningnya kala Ia mendapatkan piring berisi nasi dan ayam goreng.
"Kenapa?" tanya Dion.
"Mas kok nggak disamain aja sih?" tanya Laras melihat Dion dan Zahra makan spaghetti tapi kenapa dirinya berbeda sendiri, hanya Nasi dan Ayam.
"Kamu nggak suka mie kan? makanya mas pesenin nasi sama ayam goreng?"
"Kata siapa aku nggak suka mie?" tanya Laras kembali kesal kala Dion salah menebak tentang dirinya.
"Lho, tadi kamu ngelarang Zahra makan mie, aku pikir kamu nggak suka mie." kata Dion.
"Aku ngelarang bukan karena nggak suka mas , tapi karena aku nggak mau Zahra kebiasaan makan mie soalanya mie kan nggak sehat apalagi buat anak anak." jelas Laras dengan raut wajah kesal.
Astaga salah lagi kan Dion.
"Iya deh iya maaf, ya udah ini makan punyaku aja." kata Dion dengan wajah memelas.
"Dah ah nggak usah!"
"Mama sama Papa kenapa sih dari tadi marahan terus." protes Zahra yang sedari tadi melihat pembicaraan sengit kedua orangtuanya itu.
Seketika Laras menjadi merasa bersalah karena sedari tadi dirinya sedikit pemarah pada Dion.
"Maaf, maafin Mama ya sayang, mama nggak maksud buat marah marah kok." jelas Laras "Mama lagi laper aja jadi gini deh." jelas Laras lagi.
"Yaya aja dari tadi laper tapi nggak marah marah kok." kata Zahra polos yang membuat Laras bungkam merasa diskak matt oleh perkataan Zahra sementara Dion hanya terkekeh geli mengejek Laras.
"Tuh kan mama marahin papa lagi." adu Dion membuat Zahra menatap Laras.
"Mama, hayoo nggak boleh marah terus." kata Zahra membuat Laras terkekeh.
"Iya sayang, ya udah sini Mama suapin Zahra, kasian anak Mama udah kelaperan." Laras segera mengambil piring spaghetti Zahra lalu menyuapkan pada Zahra sementara Dion tersenyum menatap anak dan istrinya itu.
Selesai makan mereka segera pulang kerumah, Dion menggendong Zahra dan membawanya kekamar karena Zahra sudah tertidur. Sementara Laras segera memasuki kamar, Karena merasa sedikit gerah Laras bergegas mandi.
Dion memasuki kamarnya dan tak mendapati istrinya disana, namun Ia dapat mendengar suara gemericik air dikamar mandi.
Tak berapa lama Laras keluar dan sudah mengenakan setelan piyama pendek, Laras terlihat lebih segar apalagi Ia juga menggulung handuk dikepalanya membuatnya semakin terlihat menggoda dimata Dion.
Sabar, seminggu lagi batin Dion tak menghentikan tatapannya pada Laras.
"Mas nggak mandi?" tanya Laras.
"Mandi kok, kamu liat handuk mas nggak?" tanya Dion mencari handuk nya namun tak ada.
"Kayaknya dicuci sama Bik Inah deh, aku ambilin yang ada dilemari aja ya." Laras segera mengambilkan handuk bersih untuk Dion lalu segera memberikannya pada Dion yang sudah menunggu.
"Mau ikut mandi lagi nggak?" bisik Dion ditelingga Laras membuat Laras mendadak gugup.
__ADS_1
"Ih, apa sih mas, udah sana mandi." kata Laras wajahnya sudah memerah malu.
Dion hanya terkekeh lalu meninggalkan Laras memasuki kamar mandi.
Sementara Laras mengatur degup jantungnya yang merasa tak karuan karena godaan Dion.
Laras duduk didepan meja riasnya, Ia menatap dirinya didepan cermin, membandingkan dirinya dengan Rennata, apa iya dirinya seburuk itu hingga tak pantas bersanding dengan Dion? batin Laras mengingat ucapan Rennata yang sangat jelas sekali jika Rennata itu menghina dirinya.
Hingga getaran ponsel dimeja milik dion membuyarkan lamunan Laras.
Laras pun melihat siapa yang menepon suaminya malam malam begini.
Sella calling...
Seketika membuat diri Laras mendidih melihat wanita lain menelepon suaminya malam malam begini.
Astaga, haruskah Laras yang mengangkatnya lalu memarahinya karena telah menganggu suaminya.
Laras mencoba bersabar dan tenang memikirkan dirinya harus bersikap bagaimana lagi,
Ceklek... pintu kamar mandi terbuka dan Dion yang baru satu langkah keluar sudah di tatapi dengan tatapan tajam oleh Laras.
"Kenapa sih Dek?" tanya Dion heran mendapat tatapan tajam dari Laras.
"Nggak apa apa!" Laras bangkit dari duduknya lalu berbaring diranjang dan menyelimuti dirinya.
Dion hanya dibuat melonggo oleh sikap Laras yang berubah ubah sedari tadi. padahal baru saja Laras bersikap baik sekarang sudah kumat lagi.
Sikap wanita memang susah ditebak batin Dion menggelengkan kepalanya tak ingin memusingkan sikap Laras padanya.
Bersambung....
Pertama tama aku mau minta maaf banget banget banget karena cerita ini update nya lama ..
jadi gini aku mau curhat, awal aku bikin cerita ini kemarin pas aku masih nganggur dirumah, tapi baru dapet beberapa bab aku dapet panggilan kerja dan jadilah aku harus bagi waktu buat kerja sama nulis..
dan karena cerita yang aku tulis nggak cuma ini aja jadi aku lebih memprioritaskan cerita yang udah kontrak...
sekali lagi aku minta maaf jika sedikit mengecewakan...
tapi aku janji bakalan selesain cerita ini meskipun updatenya lama banget...
aku nggak maksa kok kalau kalian udah nggak mau baca lagi, dan aku juga berterimaksih bgt kalau masih ada yang mau nungguin cerita ini.
udah segitu aja curhatnya 😁
Btw kalau kalian penasaran cerita yang update tiap hari judulnya Istri kedua Tuan Alex..
kali aja ada yang minat baca😁
__ADS_1
makasih semuanya... jangan lupa tinggalkan Like vote dan komen kalian 😍😘