
Setelah semalaman dipaksa oleh Dion akhirnya pagi ini Laras kembali mencoba mengecek menggunakan tespack lagi.
Dengan jantung berloncatan dan tangan bergetar, Laras mencelupkan tespack ke dalam urin yang baru saja Ia keluarkan dan menunggu hasilnya beberapa menit.
Laras yang mengenggam hasil tespack itu akhirnya membuka tangan nya perlahan, seketika bibirnya mengukir senyum setelah melihat tespack garis 2 itu.
Karena belum terlalu yakin akhirnya Laras mencoba lagi menggunakan beberapa tespack dan hasilnya sama bergaris 2 di kelima tespack yang Ia gunakan.
Dengan penuh syukur dan wajah bahagia, Laras keluar kamar karena tak sabar ingin memberitahu Dion.
Dan baru membuka pintu kamar mandi, Laras melihat Dion sudah sibuk menggunakan kemeja kantor yang Ia siapkan, terlihat sekali Dion sangat buru buru.
"Aku berangkat dulu ya sayang, mendadak dikantor ada masalah." kata Dion langsung mengecup kening Laras dan pergi begitu saja. Memang sebelum Laras masuk ke kamar mandi, Dion lebih dulu masuk untuk mandi karena banyak pekerjaan dikantor. akhir akhir ini Dion memang sangat sibuk dikantor.
Laras hanya bisa mengenggam tespack dan mengelusi perutnya, "Kita bilang sama Papa kalau sudah pulang saja ya nak."
Laras turun ke bawah dan melihat meja makan masih utuh belum ada yang disentuh oleh Dion.
"Den Dion buru buru banget ya Non sampai nggak sarapan." kata Bik Inah yang baru saja dari dapur.
"Nggak tau lah Bik, padahal udah di siapin." kata Laras terdengar kesal. Memang Laras sangat kesal, Ia bangun pagi hanya untuk menyiapkan sarapan suaminya dan suaminya malah tak sempat mencicipi sedikit pun.
"Apa dianterin aja ke kantornya Non." tawar Bik Inah melihat Laras kesal Ia hanya ingin memberi saran agar tak terjadi pertengkaran dan kesalahpahaman diantara Dion dan Laras.
"Biarin aja lah Bik, paling juga jajan diluar." kata Laras lagi berjalan meninggalkan bik Inah membuat Bik Inah hanya bisa menghela nafas sabar. pasalnya baru sekali ini Ia melihat Non Laras sekesal ini.
Laras memasuki kamar Zahra, Ia melihat putrinya masih terlelap sambil memeluk boneka teddy bear warna pink. Laras melirik jam dinding masih pukul 05.30 membuatnya ikut berbaring disamping Zahra dan kembali tidur. Dari pada Ia merasa kesal dengan sikap Dion lebih baik Ia kembali tidur dan melupakan semuanya yang terjadi pagi ini.
Entah berapa lama Laras terpejam, saat bangun Ia melihat Zahra sudah tak ada disampingnya. Laras bangun untuk mencari Zahra namun perutnya mendadak mual membuatnya berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang hanya cairan bening.
__ADS_1
"Kamu laper ya nak, mau sarapan ya." gumam Laras melihat jam dinding yang ternyata sudah pukul 07.30, lumayan lama dirinya tidur ternyata.
Laras turun ke bawah dan tak mendapati siapapun disana, baik Zahra maupun Bik Inah tak ada disana. Laras hendak pergi mencari Zahra lebih dulu namun Ia sudah merasakan lapar yang luar biasa hingga akhirnya Laras memilih sarapan lebih dulu.
Selesai sarapan nyatanya Zahra sudah kembali bersama Bik Inah.
"Yeeeyyy Mama udah bangun." teriak zahra langsung menghambur ke pelukan Laras.
"Habis dari mana sayang?" tanya Laras
"Maaf Non, tadi selesai sarapan Non Yaya saya ajak beli bawang soalnya saya nggak tega mau bangunin Non Laras." jelas Bik Inah.
"Besok besok bangunin aja nggak apa apa bik, takutnya nanti kewalahan kalau belanja ngajak Zahra." kata Laras yang langsung diangguki Bik Inah.
Bik Inah berjalan menuju dapur sementara Zahra dan Laras berada didepan rumah menyirami tanaman bunga.
"Wah udah ada yang mekar satu mah." teriak Zahra saat menyiram tanaman bunga mawar.
Mereka asyik menyiram tanaman hingga tak sadar jika ada mobil yang berhenti didepan rumah.
"Zahraa..." panggil seorang pria yang tak lain adalah Radit datang bersama Caca yang menatap Zahra dan Laras tak percaya.
"La-laraas.. Zahra?" Caca terlihat sangat shock begitu juga dengan Laras yang menatap Caca tak percaya.
"Tante Caca..." dan siapa sangka Zahra masih mengingat jelas nama Teman Laras itu.
"Kalian udah saling kenal?" kini giliran Radit yang merasa keheranan.
"Dia temen yang aku ceritain waktu pulang dari Mall dan Zahra ini yang aku bilang mirip sama kamu. ternyata Zahra memang benar anak kamu." jelas Caca tersenyum miris.
__ADS_1
"Dunia sempit banget ya." tambah Caca lagi.
"Masuk dulu, kita ngobrol didalam." ajak Laras.
Laras masuk lebih dulu, sementara Radit langsung mengedong Zahra dan disampingnya ada Caca.
Keempat orang itu duduk diruang tamu, dan Zahra kini berada dipangkuan Radit yang sedang mengajaknya bercanda hingga membuat Zahra tertawa.
"Jadi dia calon kamu itu?" tanya Laras yang kini paham alasan Dion waktu itu melarang Laras dekat dengan Caca bahkan memblokir nomor Caca.
Caca mengangguk, "Kenapa kamu blokir nomor aku? kamu udah nggak mau temenan sama aku?" protes Caca mengingat Laras memblokir nomornya malam itu setelah mereka seharian bermain di mall.
"Bukan aku, tapi suamiku. maaaf." jelas Laras.
"Mungkin karena suamiku tahu kalau pria yang foto sama kamu itu Papa biologisnya Zahra makanya Suamiku ngelarang aku buat deket sama kamu lagi." jelas Laras lagi.
"Memang pantas suamimu semarah itu, Dia memang benar benar keterlaluan." cibir Caca sambil melirik Radit yang hanya tersenyum miris.
"Tidak, bukan itu. Mas Dion hanya takut jika sewaktu waktu kalian mengambil Zahra dari kami." jelas Laras.
"Aku tidak akan melakukan itu tanpa Ijin Dion. hanya bisa bertemu setiap hari seperti ini walaupun cuma sebentar saja sudah membuatku bahagia. Jangan khawatir aku akan melakukan hal sekeji itu." kata Radit membuat Laras mengangguk paham.
"Padahal dia pernah melakukan hal keji." cibir Caca membuat Radit tersenyum lalu mengacak rambut Caca.
Mereka bercanda hingga tanpa sadar ada seseorang memasuki rumah.
"Tumben rame...."
Semua orang terkejut dan melihat seseorang yang kini berdiri didepan pintu menatap ke arah Radit yang memangku Zahra.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
jangan lupa like vote dan komen