
"Kenapa jam segini baru mandi?"
"Apa Yaya rewel?" tanya Dion kala keduanya sudah mencapai puncak surga dunia yang baru saja mereka mainkan dan kini tubuh keduanya hanya tertutup selimut saja.
Laras mengangguk, "Dari tadi siang rewel mas, katanya Mas pulang awal kok telat?"
"Maaf sayang, mendadak diajak makan malam sama klien jadi ya nggak bisa langsung pulang." jawab Dion kemudian mengecup kening Laras.
"Yaya kangen sama kamu mas, akhir akhir ini kamu terlalu sibuk sama kerjaan."
Dion mengangguk paham, "Aku tau, mungkin lusa aku bisa libur trus ngajak kalian jalan jalan."
"Istriku kan juga pengen refresing, masa harus momong anak terus." ucap Dion membuat Laras tersenyum.
"Kita ke makam mbak Naya mas, udah mau 40 hari." Laras mengingatkan membuat Dion terdiam.
Rasanya tak terasa sudah 40 hari, bahkan Dion sudah tak lagi merasakan sakit karena kehilangan Naya.
Dion mengangguk dan akhirnya menyadari sesuatu, "Kenapa kamu pasang foto aku dan Naya disana?"
"Biar kamu nggak lupa aja mas, mau gimanapun mbak Naya pernah jadi bagian masa lalu kamu." jelas Laras.
"Memang nggak cemburu?" goda Dion.
"Ck, apa sih mas." Laras memukul lengan Dion sebal "Mau gimana pun mbak Naya itu kakak aku, Mamanya Yaya anak kamu, harusnya memang aku nggak boleh cemburu." jelas Laras membuat Dion terdiam cukup lama sebelum akhirnya Dion kembali menghujami wajah Laras dengan ciuman.
"Aku juga pengen punya Anak dari kamu." ucap Dion yang lagi lagi membuat Laras tersipu.
"Makanya kita lembur trus biar Yaya cepet punya adik." kata Dion lagi.
"Yaya seneng nggak ya mas kalau nanti punya adik?" salah satu yang menjadi kekhawatiran Laras. Karena setelah memiliki adik nanti mungkin kasih sayang untuk Zahra akan terbagi nantinya.
"Harus senenglah sayang, kan malah bisa nemenin main nantinya." kata Dion membuat Laras tersenyum lega.
Tanpa disadari, kini Dion sudah berada diatas Laras lagi, "Mas mau ngapain?"
"Nambah lagi biar program adik buat Zahra bisa cepet jadi."
.....
Paginya, Dion bangun lebih awal. Namun seawal awalnya Dion bangun, Laras sudah tak ada disampingnya.
__ADS_1
Ia tersenyum, mengingat Laras memang gemar sekali bangun pagi dan membantu Bik Inah didapur untuk membuatkan sarapan.
Dion beranjak dari kamar dan langsung menuju kamar putrinya, Zahra. Disana Dion memandangi lekat lekat wajah Zahra yang sama sekali tak mirip dengannya, tentu saja tidak.
Ia kemudian berbaring disamping Zahra dengan rasa bersalah menumpuk. Akhir akhir ini memang dirinya terlalu sibuk dikantor hingga mengabaikan putri kecil peninggalan Alm Naya.
Tanpa disadari karena pelukan Dion membuat Zahra terbangun dan terlihat senang melihat keberadaan Dion.
"Papa udah pulang? Yaya nungguin Papa lama." kata Zahra sambil cemberut.
"Padahal ini udah pagi nak, saking kangen nya sama Papa sampai nggak tau kalau udah semalem nunggunya." batin Dion gemas lalu menciumi pipi Zahra.
"Papa kok diem?" protes Zahra karena tak kunjung mendapat jawaban.
"Papa udah pulang tapi habis ini Papa kerja lagi," kata Dion yang langsung membuat wajah Zahra cemberut.
"Tapi Papa janji besok lusa kalau Papa libur, Papa ajak Yaya sama Mama jalan jalan ke kebun binatang," Kata Dion lagi membuat Zahra tersenyum senang.
"Beneran Pa?"
"Iya bener dong sayang. tapi..."
"Yaya kalau dirumah nggak boleh nakal, nggak boleh rewel lagi. janji ya sama Papa?"
Zahra mengangguk setuju, "Oke deh Pa, Yaya nggak nakal kok."
Dion tersenyum dan memeluk putri kecilnya, tak berapa lama pintu terbuka, Laras tersenyum ke arah keduanya.
"Tak cariin ternyata pada disini." ucap Laras berjalan mendekat dan duduk dipinggir ranjang.
"Ma, Papa bilang besok mau ajak jalan jalan ke kebun binatang." kata Zahra terlihat sangat antusias namun Laras tak menanggapi dengan senang, Ia justru terlihat ragu.
"Mama kok mukanya gitu sih, nggak seneng ya kalau jalan jalan ke kebun binatang?"
Langsung saja Laras tersenyum pada Zahra, "Seneng dong sayang. Mama seneng kok."
"Yeeyy jadi kita semua jalan jalan." Zahra bersorak gembira membuat Laras dan Dion tersenyum melihatnya.
Setelah selesai memandikan Zahra, Laras menyusul Dion ke kamar. Melihat Dion sedang mengancingkan kemeja, buru buru Laras mendekat dan membantu Dion mengancingkan baju serta memakaikan dasi.
"Makasih sayang." ucap Dion tak lupa mengecup pipi Laras.
__ADS_1
Selesai mengancingkan baju, Laras melihat rambut Dion masih basah, segera Laras mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambut Dion dan tentu Dion tak bisa menolak perlakuan manis dari istrinya itu.
"Apa mas yakin besok lusa bisa libur? bisa ngajak Zahra jalan jalan?" tanya Laras sambil mengeringkan rambut Dion.
"Yakin dong sayang, kenapa? kamu nggak suka jalan jalan ke kebun binatang?"
"Bukan nggak suka mas, cuma takut aja kalau tiba tiba mas ada kerjaan mendadak kayak semalem trus akhirnya batalin acara sama Yaya. cuma takut Yaya kecewa aja mas." jelas Laras yang langsung membuat Dion paham kekhawatiran Laras.
"Harusnya Mas nggak usah bilang dulu tadi, biar besok bisa jadi surprise buat Yaya." imbuh Laras lagi.
"Iya juga sih, la mau gimana lagi, udah terlanjur bilang juga sayang." ucap Dion yang kini sudah berdiri karena Laras sudah mengeringkan rambutnya dan sekaligus merapikan rambutnya.
"Ganteng banget kan kalau yang nyisir istrinya.'' gumam Dion didepan cermin membuat Laras tertawa tak percaya dengan kepercayaan diri Dion yang terlampau tinggi.
Ya meskipun memang Dion sangat tampan.
"Besok lagi nggak usah bilang dulu ya mas kalau belum pasti." kata Laras sebelum keduanya keluar kamar.
"Iya iya sayang, besok aku usahain free meeting biar acara jalan jalan nggak gagal." ucap Dion mengecup kening istrinya.
"Udah mas udah, Yaya udah nungguin dibawah."
Dion langsung saja terkekeh, saat Ia akan mencium bibir Laras namun Laras menolak. Yah memang Laras seharusnya menolak jika tidak Dion pasti tak akan berhenti hanya di ciuman saja.
"Papa sama Mama lama." ucap Zahra kala Dion dan laras bergabung dimeja makan.
"Anak Papa sekarang kok bawel sih." Dion gemas lalu mencubit pipi Zahra.
"Papa nggak boleh nyubit pipi ih." Zahra terlihat tak suka.
Bukannya berhenti, Dion justru menganti cubitan dengan ciuman pipi membuat Zahra terlihat tambah kesal.
"Mas... udah, jangan gangguin Yaya lah." ucap Laras melihat Zahra kesal dengan Dion. takut membuat Zahra rewel berkepanjangan nantinya.
"Ck, tuh Papa dimarahin sama bodyguardnya Yaya." Adu Dion membuat Zahra langsung menjulurkan lidahnya mengejek Dion.
Dion yang gemas akhirnya menghujami pipi Zahra dengan ciuman membuat Zahra semakin menjerit sementara Laras tersenyum melihat pemandangan indah dipagi hari ini.
Bersambung...
jangan lupa like vote dan komen....
__ADS_1