Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
20


__ADS_3

Zahra tengah asik menyebar butiran kecil kecil didalam kolam ikan buatan yang ada dibelakang rumahnya.


"Sedikit aja sayang, nggak usah banyak gitu." kata Dion melihat Zahra yang menyebarkan terlalu banyak.


"Nanti kasian, ikan nya jadi nggak kenyang." baals Zahra polos.


Dion tersenyum geli "Kenyang kok, kalau Yaya nyebarin nya banyak banyak nanti airnya jadi kotor terus ikannya pada mati semua." jelas Dion.


"Nggak mau, Yaya nggak mau kalau ikannya mati." kata Zahra panik.


"Jadi udahan aja yang nyebar makanan ikannya." kata Dion meminta plastik berisi makanan ikan yang sedari tadi dibawa Zahra.


"Iya udah deh Pa." dengan berat Zahra memberikan plastik itu pada Dion.


"Oh, iya papa mau tanya, Yaya mau nggak punya mama kayak Ante Ayas?" tanya Dion yang entah apa yang merasukinya hingga tiba tiba menanyakan itu pada Zahra.


"Mau lah, lagian mama jahat sama Yaya udah nggak pernah pulang kesini lagi buat ketemu Yaya."


Deg... jantung Dion tiba tiba merasakan nyeri kala Zahra mengatakan itu semua.


"Sayang, Mama sayang banget kok sama Yaya, tapi Mama harus pergi ketempat lain dan Mama udah nggak bisa kesini lagi." Entah bagaimana Dion harus menjelaskan pada Zahra, dia sendiri juga binggung.


"Tapi Mama sayang banget kok sama Yaya, jadi Yaya nggak boleh sedih ya." pinta Dion.


"Kalau mama sayang kenapa nggak pulang?" tanya Zahra dengan polosnya, mata bocah itu bahkan sudah memerah ingin menangis.


"Bukannya Mama nggak mau pulang, tapi Mama memang sudah tidak bisa pulang lagi, nanti kalau Yaya udah besar pasti tau kenapa Mama pergi." kata Dion lagi.


Zahra hanya diam saja tak merespon ucapan Dion membuat Dion sedikit panik.


"Yaya jangan benci mama ya." kata Dion yang masih membuat Zahra diam.


"Ya udah gini aja, gimana kalau mulai sekarang Yaya panggil Ante Ayas Mama?" tanya Dion.

__ADS_1


Zahra mendongak menatap Dion "Jadi ante Ayas mamanya Yaya?"


"Iya sayang, mulai sekarang Yaya panggil Ante Ayas Mama aja ya?"


"Horee.. Yaya punya mama lagi." Zahra terlihat girang membuat Dion menarik nafas lega, Dion percaya jika Laras tak akan mempermasalahkanya jika Yaya memanggil Laras Mama toh sewaktu dimeja makan kemarin Zahra juga sudah ingin memanggil Laras Mama dan Laras menyetujuinya.


....


Setelah seharian menemani Zahra main, kini Dion bergegas kekamarnya untuk mandi karena hari sudah mulai sore.


Dion memasuki kamar bertepatan dengan Laras yang keluar dari kamar mandi hanya mengenakan jubah mandi serta rambut basah yang digerai, Laras terlihat cantik hingga Dion tak berkedip menatap Laras.


"Mas." Laras terlihat kaget melihat Dion masuk kekamar padahal dirinya hanya mengenakan jubah mandi.


"Kamu kok udah mandi, memangnya udah sembuh?" tanya Dion masih menatap Laras intens membuat Laras kikkuk.


"Udah kok mas, aku udah enakan, lagian gerah juga kalau nggak mandi." kata Laras berjalan mendekati almarinya untuk mengambil baju ganti sambil menghilangkan kegugupannya.


"Lho kok masuk kamar mandi lagi?" tanya Dion melihat Laras membawa baju gantinya memasuki kamar mandi.


Dion hanya mengangguk, saat Laras sudah tak terlihat Ia tersenyum geli.


"Padahal ganti baju disini aja nggak apa apa, aku malah seneng banget pake masuk kamar mandi lagi." gumam Dion tersenyum geli.


Dion memang tidak memungkiri, jika kadang ia nafsu saat melihat Laras, apalagi saat mereka tidur seranjang, karena Dion pria dewasa yang normal, tentu saja Ia akan nafsu apalagi Laras termasuk wanita cantik yang memiliki tubuh ideal, namun Dion juga tak akan memaksa Laras jika memang Laras masih belum siap melakukan dengannya, Dion hanya perlu bersabar saja. Ia menikahi Laras karena wasiat dan Dion juga tak mempunyai pikiran untuk melepaskan Laras jadi mungkin suatu hari nanti Ia pasti akan merasakan bercinta dengan Laras jadi Dion akan menunggu itu meskipun sebenarnya dia sendiri juga sudah tak tahan karena tidak pernah melakukan **** selama Naya kecelakaan dan Dion bukanlah tipe pria yang mudah melakukan **** denga wanita mana saja termasuk wanita bayaran di club malam, dia sangat anti.


"Mas mau mandi juga?" tanya Laras yang kini sudah berganti dengan piyama membuyarkan lamunan Dion.


"Hmm, ya." balas Dion segera memasuki kamar mandi.


Laras heran, baru saja tadi pagi Dion bersikap baik, sekarang sudah dingin lagi.


Laras mengacuhkan Dion, menyisir rambutnya dan segera keluar kamar untuk menemui Zahra.

__ADS_1


Sementara itu Dion dikamar mandi terlihat menuntaskan birahinya dengan sabun, tak tahan sudah karena melihat rambut basah Laras dan bibir tipis ranum milik Laras yang membuatnya membayangkan yang *** ***.


Ohhh... desah Dion yang sudah menuntaskan birahinya, segera Dion mandi karena tak ingin Laras curiga gara gara Ia terlalu lama dikamar mandi.


Selesai mandi Dion terkejut karena Ia masuk tanpa membawa handuk ataupun pakaian ganti, gara gara ingin segera menuntaskan birahinya membuat Ia melupakan hal penting seperti ini.


"Bagaimana ini?" Dion terlihat binggung.


"Apa aku manggil Laras buat ngambilin ya?"


Dion tersenyum "Sepertinya ide yang bagus."


"Laras... Larass...." Dion berteriak dari dalam kamar mandi namun tak mendapatan sahutan dari Laras.


"Apa Laras udah keluar Ya?" batin Dion lagi, akhirnya Dion membuka pintunya untuk mengintip apakah Laras masih ada dikamar atau sudah keluar.


"Yess sudah keluar." batin Dion girang, segera Dion membuka pintu kamarnya untuk keluar dalam keadaan telanjang, baru satu langkah Ia melewati pintu kamar mandi.


Ceklek... Dion terdiam kaku melihat Laras memasuki kamar dan terkejut melihat ke arahnya.


"Astaga mas," teriak Laras langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan berlari keluar tak jadi memasuki kamar.


"Ohh sialll." gerutu Dion malu setengah mati, bisa bisanya Laras datang disaat seperti ini.


Sementara itu Laras berlari menuju belakang rumah, rasanya malu sekali telah memergoki Dion yang keluar kamar mandi tanpa busana seperti tadi.


Laras yang tadinya sudah berada dikamar Zahra namun Ia lupa membawa ponselnya , kembali kekamar karena ingin mengambil ponselnya namun malah Ia melihat Dion yang tak berpakaian, rasanya Laras malu sendiri.


"Lagian Mas Dion aneh banget sih, keluar kamar nggak pake baju, gimana kalau bukan aku yang masuk?" gerutu Laras dengan kesal.


"Tapi milik mas Dion gede juga, udah mengkeret gitu aja gede apalagi kalau bangun." gumam Laras yang sempat melihat milik Dion sebelum menutup wajahnya.


"Otak sialan, bisa bisanya mikirin hal kotor kayak gini." Laras memukul kepalanya lalu kembali memasuki rumah.

__ADS_1


Entah Laras harus bersikap bagaimana jika bertemu dengan Dion nanti.


TBC.


__ADS_2