
Laras membuka matanya, mendengar ada suara ketukan pintu kamar membuatnya terbangun dari tidurnya. Tak tahan merasakan sakit kepala membuat Laras tak sadar ketiduran.
Laras berjalan pelan untuk membuka pintu, sesekali meringgis karena merasakan kepalanya masih nyeri.
"Non, non Laras." Bik Inah terlihat sangat panik.
"Kenapa Bik?" heran Laras.
"Non Yaya ... Non Yaya...."
"Zahra kenapa Bik?"
"Ditabrak motor Non dan sekarang lagi ada di klinik."
Seketika Laras terjatuh ke lantai membuat Bik Inah bertambah panik.
"Kok bisa?" tanya Laras berharap ini hanyalah mimpi.
"Tadi Non Zahra keluar sama Cici mau jalan ke taman dan barusan tetangga bilang kalau Non Zahra ditabrak motor trus sekarang dibawa ke klinik sama orang pakai mobilnya."
"Ayo kita kesana Bik." ajak Laras bangun dibantu oleh Bik Inah.
"Hati hati Non." bik Inah memapah tubuh Laras.
Setelah mengambil ponsel dan dompetnya, Laras segera memesan taksi.
Beruntung salah satu tetangga nya tahu diklinik mana Zahra dibawa hingga Laras tak harus bersusah payah mencari keberadaan Zahra.
Sesampainya di klinik, Laras terkejut ternyata yang membawa Zahra adalah Radit dan Caca yang kini sedang menunggu di depan UGD ada juga Cici wajahnya terlihat pucat.
"Gimana keadaan Zahra?" tanya Laras dengan wajah khawatir.
"Harus di gips karena ada bagian yang retak ditangan nya." jawab Radit yang seketika membuat Laras kembali terjatuh dilantai.
"Non Laras..."
"Laras,.." Caca membantu Laras bangun dan mendudukan di kursi.
"Semua baik baik saja, nggak usah terlalu dipikir. kamu lagi hamil." kata Caca.
"Baiknya kamu pecat babysitter nggak guna itu." Tangan Radit menunjuk ke arah Cici.
"Please Bee, sekarang bukan waktunya bahas itu." Caca mengingatkan membuat Radit segera diam.
"Bik, tolong nggak usah bilang sama mas Dion dulu." pinta Laras pada Bik Inah.
"Duh gimana Non, maafin bibik udah terlanjur bilang tadi saking paniknya dan sekarang Den Dion baru mau kesini." balas Bik Inah dengan raut wajah penuh bersalah.
Baru saja dibicarakan, Dion terlihat dari jauh sedang berjalan cepat ke arah mereka. Dan sesampainya...
__ADS_1
Bugh...
Bugh..
Dion langsung memukuli pipi Radit 2x, ketiga kalinya saat sudah melayangkan tinju tangan nya ditahan oleh Laras.
"Udah mas, kamu salah paham." kata Laras mengingatkan.
Dion menatap Laras kesal "Salah paham lagi salah paham lagi heh?"
Laras hanya menghela nafas panjang, melihat raut wajah Dion yang emosi sepertinya lebih baik dia diam saja dulu.
Caca nampak membantu Radit untuk bangun karena tubuhnya yang jatuh akibat pukulan Dion yang sangat keras.
"Lo harusnya marah sama Babysitter Lo itu, beruntung gue dateng cepet buat nolongin Zahra." jelas Radit sambil memeganggi pipinya yang terasa nyeri karena memar.
Dion menatap Radit tak suka, seolah tak mau mendengar penjelasan dari Radit.
"Kami tadi memang ingin datang kerumah karena sudah sangat merindukan Zahra, dan sampai didekat taman dari mobil kami melihat Zahra berlari sendirian ke arah taman. kami baru mau mendekati tapi sayang keduluan motor yang ugal ugalan yang menabrak Zahra." Caca menjelaskan.
"Dan kalau kamu mau nyalahin orang, yang pantas kamu salahin itu dia." Caca menunjuk ke arah Cici yang menunduk takut.
"Karena Dia kerja nggak becus dan hanya mainan ponsel tanpa mengawasi gerak lincah Zahra sampai Zahra tertabrak."
Dion langsung saja menatap ke arah Cici yang ketakutan, "Apa benar itu!"
"Ti-tidak Tuan, bukan begitu tad-"
"Apa benar itu Cici, jawab!" tanya Dion sekali lagi dengan suara yang lebih keras.
Cici mengangguk pelan lalu menangis sesenggukan.
Cici langsung berlutut di kaki Dion sambil menangis, "Maafkan saya Tuan, maafkan saya. saya janji akan bekerja lebih baik lagi."
"Tolong jangan pecat saya." pinta Cici dengan suara serak karena menangis.
Dion sama sekali tak mengubris, Ia benar benar merasa frustasi kali ini.
"Kepala ku pusing, setelah kamu berangkat aku memang istirahat dikamar dan nggak tahu kalau Zahra keluar karena mereka nggak pamit sama aku."
"Maafin aku mas. ini salah aku juga." kata Laras dengan wajah pucat.
Pintu UGD terbuka,
"Sudah selesai, sekarang pasien akan dipindahkan ke ruang rawat." jelas Dokter dan langsung diangguki Radit.
"Tangan nya harus di gips karena sedikit retak." jelas Radit pada Dion.
Dion sama sekali tak mengubris Cici yang masih berlutut dan juga Radit yang sedang berbicara, Ia malah mengandeng tangan Laras dan mengajaknya masuk.
__ADS_1
Dion memasuki ruang UGD, Ia melihat tangan kiri Zahra yang harus di gips dan juga kedua kaki Zahra yang lecet.
"Papa, Mama..." sapa Zahra yang kini sedang memegang lolipop besar ditangan kanan nya. Tak ada tangis Zahra, yang ada hanyalah senyuman seolah tak terjadi apapun.
"Kata Dokter kalau Yaya nggak nangis dikasih lolipop gede ini." Zahra memamerkan lolipop yang Ia pegang.
Dion mengelus pipi Zahra lalu menciumnya,
"Maafin Mama ya sayang, Mama nggak tau kalau kamu ke taman sampai kayak gini." kata Laras mulai menangis melihat kondisi Zahra.
"Yaya udah nggak apa apa kok Ma, kan udah di obatin sama dokter.
"Tapi Dokter bilang Yaya nggak boleh gerakin tangan yang ini dulu." Zahra memperlihatkan tangan nya yang di gips.
"Iya sayang, nanti kalau Yaya mau apapun biar Mama bantu ya." kata Laras yang langsung diangguki Zahra.
"Cici galak ya sama Yaya?" tanya Dion tiba tiba.
Zahra menggeleng pelan, "Enggak galak Pa, tapi nyebelin. kalau diajak main nggak mau malah lihat hape telus."
Dion mengepalkan tanganya, berarti memang benar apa yang dikatakan caca jika Zahra seperti ini karena keteledoran Cici.
Dua orang suster masuk untuk memindahkan Zahra keruang inap. Setelah dipindahkan semua orang berkumpul disana membuat Zahra bertambah ceria karena banyak orang.
"Kamu ikut saya keluar." kata Dion menunjuk Cici.
Dengan takut Cici mengikuti Dion keluar yang juga di ikuti oleh Laras.
Dan di luar ruang inap Zahra sudah ada Reno yang menunggu mereka.
"Kamu saya suruh cari orang buat jagain Zahra, apa yang kamu lihat pertama kali?" tanya Dion pada Reno.
"Say-saya."
"Karena dia cantik dan masih muda. benar kan ren?" tanya Dion sekali lagi membuat Dion hanya menunduk.
"Harusnya yang kamu cari itu cara kerjanya bukan hanya fisiknya saja.
"Pelajaran buat kamu Reno, saya nggak mau ini terulang lagi." kata Dion pada Reno.
"Baik Tuan maafkan saya." kata Reno menunduk.
Reno sebenarnya tak tahu apa yang terjadi, Ia hanya Tahu Zahra Nona kecilnya ditabrak motor.
"Dan untuk kamu Cici,
"Maaf saya nggak bisa melanjutkan kamu bekerja menjaga Zahra. tapi tenang saja saya tetap mengaji kamu satu bulan penuh." Kata Dion yang membuat tubuh Cici lemas seketika hingga terjatuh dilantai.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen