
Hari ini akan menjadi hari terpenting, terkenang dan mungkin tak terlupakan untuk Laras karena hari ini adalah hari pernikahan dirinya dengan Dion.
Ya setelah paginya mereka melakukan ijab ulang dilanjutkan dengan pesta pernikahan di malam harinya.
Bagaikan mimpi indah untuk Laras karena bisa menikah dengan pria pujaan hatinya selama ini, cinta pertamanya yang sudah lama Ia pupus karena pada kenyataannya pria itu adalah suami sang Kakak Naya. namun kenyataan takdir berkata lain karena sekarang, dirinya sudah sah menjadi istri Dion Anggara serta Mama sambung Zahra tanpa adanya surat perjanjian di antara mereka.
"Mau ditebelin lagi lipstiknya?"
"Udah, cukup segini aja." kata Laras menghentikan penata rias yang akan menyapukan lipstik di bibirnya.
"Oke mbak, jadi segini aja ya. duh cantiknya." Puji penata rias yang centil padahal seorang pria.
Laras tersenyum melihati dirinya dicermin hingga Zahra memasuki ruangan dan tak kalah cantik dengan dirinya.
"Mama cantik banget." kata Zahra memandangi Laras dengan kagum.
"Anak Mama juga cantik kok." Laras mencubit pelan pipi Zahra.
"Pengantin Wanita sudah siap? mari segera ke kebawah." pihak WO sudah memasuki ruangan nya dan bersiap mengajaknya turun ke bawah.
Dengan rasa gugup yang sangat luar biasa, Laras mengandeng tangan Zahra dan berjalan keluar menuruni tangga dimana dibawah semua tamu undangan sedang menunggunya tak terkecuali Dion yang sedari tadi menatapnya dari atas hingga kini Ia sudah berada dibawah membuat Rasa gugup Laras bertambah.
Dion mengulurkan tangannya, yang langsung diterima oleh Laras, keduanya pun menaiki kursi pelaminan yang langsung mendapatkan tepuk tangan riuh dari tamu undangan.
Baik Dion maupun Laras selalu memberikan senyuman terbaik mereka, wajah bahagia jelas terpancar berbeda dengan seorang pria yang kini sedang menyesap rokoknya dalam dalam sambil memperhatikan sepasang pengantin dari balik kaca gedung.
Rama, Ya Ia salah satu tamu undangan yang memang sengaja diundang oleh Laras karena Rama adalah sahabat terbaik Laras meskipun Rama tak mengangapnya seperti itu.
Rasa sakit masih menyelimuti dihati Rama melihat wanita yang selama ini Ia tunggu dan sangat Ia cintai harus menikah dengan pria lain.
Rama menjatuhkan rokoknya dibawah lalu menginjak dengan kakinya. Dia merekatkan dasinya yang sudah kendur dan bersiap masuk ke dalam untuk memberikan ucapan selamat pada Laras.
Namun baru saja ingin memasuki tempat acara, seorang wanita yang tengah membawa segelas minuman berwarna tak sengaja menabraknya hingga kemeja biru laut yang Ia pakai terkena tumpahan minuman berwarna itu.
"Shhh, sial." desis Rama.
"Maaf, maafkan aku. aku tak sengaja. astaga bajumu kotor."
__ADS_1
Wanita yang memakai dress ketat warna silver itu mencoba membersihkan kemeja Rama dengan tangannya membuat Rama semakin kesal apalagi Rama tak sengaja menatap belahan dada milik wanita yang menyembul keluar.
"Maaf maafkan aku." wanita yang terlihat cantik itu menatap nya dengan tatapan bersalah "Aku akan membersihka-"
"Sudahlah Nona, biarkan saja." Rama hendak pergi namun wanita itu menghandang langkah Rama membuat Rama semakin kesal.
Hari ini suasana hatinya sedang buruk dan sekarang bertambah buruk karena wanita ceroboh ini.
Rama akhirnya membalikan badan, pergi meninggalkan wanita itu menuju kamar mandi terdekat. Ia memasuki kamar mandi yang hanya bisa digunakan satu orang saja namun siapa sangka wanita yang menabraknya juga mengikuti Rama memasuki kamar mandi.
"Apa kau sudah gila?" teriak Rama membuat wanita itu berjalan mundur tidak mendekat.
"Ma-maaf, aku hanya ingin membantumu." kata Wanita itu kini terlihat pucat.
"Aku tak butuh bantuan mu." kata Rama "pergilah sekarang juga."
"Aku akan memanggil sekretarisku untuk mengganti pakaianmu."
"Tidak perlu ! lebih baik pergilah sekarang."
"Tapi aku haru-"
Segera Wanita itu melepaskan diri dari Rama dan...
Plakkk... satu tamparan keras mendarat di pipi Rama membuat Rama hanya bisa tersenyum sinis.
Jangan salahkan Rama, karena Rama sudah menahannya dari tadi namun wanita itu masih saja bersikeras mendekatinya dan Rasa bibir dari wanita itu membuat Rama cukup terkejut, rasanya hampir sama. Sama dengan milik Laras yang sempat Ia rasa walau hanya sebentar.
"Dasar pria brengsek, aku bersalah dan hanya ingin bertanggung jawab dan kau malah seenaknya menciumku." ujar wanita itu dengan mata berkilat.
Rama tersenyum menyerigai, Ia lalu mengunci tubuh wanita itu dengan kedua tangannya,
"Mau bertanggung jawab ya? bagaimana jika aku inginkan dirimu semalam untuk pertanggung jawaban ini?" kata Rama setengah berbisik membuat wanita itu semakin menatap tajam.
"Hanya semalam nona, dan aku akan membuatmu mengenangnya seumur hidupmu."
Wanita itu baru ingin melayangkan tamparan pada Rama namun keburu Rama memegang tangan wanita itu.
__ADS_1
"Kau bersalah Nona, sudah menumpahkan minuman di kemejaku yang mahal ini dan sekarang aku minta pertanggung jawabanmu. hanya satu malam." Rama masih menatap nakal wanita itu.
"Dasar pria brengsek! aku tak sudi!"
"Benarkah, aku pikir kau sudah biasa melakukan itu dengan pria lain." ejek Rama "Tidak ingin mencobanya denganku Nona?"
"Kau pikir aku wanita murahan?" Wanita itu terlihat sinis menatap Rama "Minggir, aku urungkan niatku untuk membersihkan pakaian pria cabul sepertimu."
Bukannya minggir, Rama malah semakin mempererat kuncian nya pada wanita itu, pelan pelan Rama mendekatkan wajahnya membuat wanita itu sangat panik.
"Kau pikir aku akan mencium mu?" kekeh Rama melepaskan kuncian nya membuat wanita itu menatap sebal ke arah Rama.
"Dasar pria cabul!" ucap Wanita itu sebelum keluar dari kamar mandi.
Sementara Rama tersenyum puas "Sepertinya dia cukup menarik."
Karena bajunya kotor, akhirnya Rama memutuskan untuk pulang saja tanpa sempat menemui Laras dan Dion. Lagipula orangtua Rama juga datang sepertinya cukup mewakili Rama.
"Dari mana sih Lo? dicariin dari tadi juga." Dion menatap ke arah Sella yang baru saja mendekat setelah Ia menunggu sejak tadi. Nampak Sella terlihat cemberut dan kesal.
"Nggak usah kepo!" ketus Sella.
"Dih kenapa nih mak lampir."
Sella menatap Dion tajam, setelah bertemu dengan pria cabul apa iya Dion juga akan membuatnya semakin kesal.
"Kenalan dulu dong." kata Dion yang sejak tadi melihat Laras dan Sella saling berpandangan.
"Cantik juga nih, emang bener ya abang gue kalau cari pinter banget." puji Sella membuat Laras tersipu malu.
"Aku Sella, adeknya Bang Dion. bukan adik kandung ya. ogah punya kakak laknat macam dia." kata Sella mengulurkan tangannya pada Laras.
Laras menerima uluran tangan Sella setengah malu karena sejujurnya Laras belum siap bertemu dengan Sella setelah kemarin sempat mencemburui Sella sampai segitunya.
"Udah ya, jangan cemburu lagi. apalagi ngambek." bisik Dion ditelinga Laras.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE VOTE DAN KOMEN...