Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
70


__ADS_3

Laras kembali keruangan Zahra dengan perasaan sedikit kacau. Entah dirinya salah bicara atau bagaimana yang jelas kali ini Laras benar benar sudah membuat Dion marah besar.


Selama ini hanya Laras yang mengetahui gerak gerik aneh dari sikap Zahra setelah pertemuan terakhir dengan Radit.


Zahra terlihat sangat murung bahkan Ia sering menanyakan Radit dan Oma pada Laras.


Laras sudah bisa merasakan ikatan batin antar Zahra dan Radit benar benar menyatu. Ia juga merasa Radit sangat tulus dengan Zahra, Radit memang benar sudah menyesali semuanya.


"Papa mana Ma?" tanya Zahra pada Laras yang baru saja masuk.


"Katanya Papa kesini ya?" tanya Zahra lagi.


"Tadi Non Yaya tanya, makanya saya bilang kalau Non Laras sedang bersama Tuan Dion diluar." jelaas mbok Inah tanpa Laras bertanya.


Laras hanya tersenyum dan mengangguk pada mbok Inah.


"Papa balik ke kantor lagi sayang, soalnya-"


"Papa udah nggak sayang sama Yaya." potong Zahra dengan wajah cemberut.


"Sayang bukan gitu." Laras membelai rambut Zahra, mencoba memberi pengertian.


"Papa sibuk karena cari uang buat kita, tadi Papa mau masuk tapi takut ganggu Yaya tidur makanya Papa langsung balik ke kantor." jelas Laras yang masih tidak diterima oleh Zahra.


"Abis ini Mama telepon Papa ya biar Papa pulang cepet." kata Laras yang langsung diangguki Zahra membuat Laras sedikit lega.


Setelah Zahra tidak ngambek lagi, Laras mendial nomor Dion namun sayangnya tidak aktif membuat Laras hanya bisa menghela nafas sabar.


Laras lalu mengirimkan pesan untuk Dion,


"Nanti kalau bisa pulang cepet mas, soalnya Yaya kangen sama kamu."


Pesan itu dikirim oleh Laras, berharap Dion segera membaca dan menuruti dirinya.


Berbeda dengan Laras, Wajah Dion semakin murung dan kesal. Apalagi mendengar ucapan Laras yang seolah membela Radit.


Selama ini dirinya yang sudah merawat dan menjaga Zahra, bagaimana bisa Laras mengatakan tentang ikatan batin seperti itu. Harusnya ikatan batin Laras bersama dirinya bukan dengan Radit.


"Argghh sial!"


Didepan Reno hanya fokus menyetir sambil sesekali melihat Dion dari kaca, Ia melihat Tuan nya begitu kacau jadi lebih baik dirinya diam tak menanyakan apapun dari pada nanti dirinya malah kena imbas.


"Kembali ke kantor!"


"Baik Tuan." segera Reno memutar balikan mobilnya untuk kembali ke kantor.


Sesampainya dikantor pun Dion sama sekali tak bisa konsentrasi dengan pekerjaan. Yang ada dikepalanya hanya ucapan Laras yang menyebalkan itu yang membuatnya benar benar marah.


Hingga malam hari saat waktu pulang, Dion berjalan memasuki ruangan Zahra.

__ADS_1


Disana Ia melihat Laras nampak berbaring di sofa sementara Bik Inah dan Cici berbaring dilantai beralaskan tikar.


"Aden..." Bik inah terkejut melihat Dion berdiri didepan pintu. Bik Inah segera bangkit lalu mendekati Dion.


"Ada yang mau saya jelaskan dengan Anden." kata Bik Inah membuat alis Dion mengkerut.


Dion berjalan mundur keluar, "Masalah apa?"


"Bukan nya Non Laras nggak mau pulang tapi Non Yaya yang nggak mau ditinggal pulang."


"Non Yaya nggak mau ditungguin saya sama cici, maunya sama Non Laras terus." jelas Bik Inah membuat Dion menghembuskan nafas panjang.


"Saya hanya khwatir Laras kenapa napa Bik."


"Maafkan Bibi ya den nggak bisa diandalkan. memang Non Yaya nya yang rewel nggak mau sama saya."


Dion hanya mengangguk, keduanya pun memasuki ruangan inap Yaya. Dan kali ini Cici juga ikut bangun.


"Baiknya kalian berdua pulang saja, biar saya dan Laras yang menjaga Yaya." perintah Dion.


"Dan jangan lupa besok bawakan baju ganti untuk saya ya Bik." kata Dion yang langsung diangguki oleh Bik Inah.


"Baik Den..".


Bik Inah dan Cici pun segera keluar kamar inap Zahra, kini tinggalah Laras yang masih terlelap dan juga Dion yang kini duduk disamping Laras sambil memandangi wajah lelah Laras.


Tangan Dion terulur mengelus pipi Laras hingga membuat Laras terbangun. Laras menatap Dion sebentar lalu kembali tidur tanpa mengatakan apapun.


"Kamu juga kesel ya sama aku." gumam Dion.


"Papa..." Suara serak Zahra terdengar membuat Dion bangkit dan berjalan mendekati Zahra.


"Hay sayang," Dion mencium pipi Zahra. Dilihatnya wajah pucat Zahra sedang menatap nya sendu.


"Kok bangun?"


"Yaya haus."


Segera Dion mengambil air dalam gelas yang ada dimeja lalu membantu Yaya untuk minum.


"Mau makan?" tawar Dion yang langsung di gelengi Zahra.


"Papa baru pulang?" tanya Zahra melihat Dion masih menggunakan kemeja kantornya.


Dion mengangguk, "Maaf ya sayang, Papa nggak bisa nemenin Yaya hari ini."


Zahra hanya terdiam.


"Yaya mau apa biar papa beliin."

__ADS_1


Zahra menggeleng pelan,


"Apa Yaya masih nggak boleh ketemu sama om.."


"Om siapa?" wajah Dion mulai terlihat kesal.


"Om ra-"


"Please Yaya jangan buat Papa marah!" Dion langsung memotong ucapan Zahra membuat Zahra langsung saja takut apalagi nada Dion terdengar keras.


"Papa nggak mau ya Yaya masih mikirn om itu, di sini udah ada Papa jadi Yaya nggak perlu nyari siapapun!"


"Ta-tapi Papa sibuk kerja terus." ungkap Zahra dengan nada takut dan hampir menangis.


"Papa kerja juga buat ka-"


"Cukup mas!" bentak Laras dari belakang.


Laras bangun lalu mendekati Dion dan Zahra.


"Kalau memang nggak boleh, kamu nggak bisa marahin Zahra sampai kayak gitu." Laras tak terima.


"Biar dia paham dan nggak nyariin orang itu terus!" Dion nggak mau kalah.


"Baiknya mas keluar aja, biar aku yang tungguin Zahra." kata Laras tak ingin memperpanjang perdebatan apalagi melihat wajah Zahra takut.


Dengan kasar, Dion bangkit lalu berjalan keluar.


"Lihat saja kalau kamu berani bawa orang itu kesini!" kata Dion sebelum akhirnya benar benar keluar.


Zahra menangis,


"Maafin Yaya ya ma... Mama jadi bertengkar sama Papa." kata Zahra sambil terisak.


Laras pun duduk dan mengelus kepala Zahra, "Semuanya baik baik saja. kamu yang tenang ya. nanti kalau kamu sembuh kita ketemu sama om."


Zahra langsung menggeleng, "Nggak usah ketemu om lagi, Yaya nggak mau Mama bertengkar sama Papa."


Laras hanya diam, Ia kesal sangat kesal dengan Dion bisa bisanya mengatakan itu didepan Zahra yang sedang sakit hingga membuat Zahra ketakutan seperti ini.


"Pokoknya Yaya harus cepet sembuh ya, biar kita bisa cepat pulang." kata Laras lagi yang langsung diangguki Zahra.


"Udah nggak boleh nangis, sekarang tidur lagi ya."


Laras mengelus kepala Zahra hingga terlelap lagi.


BERSAMBUNG...


jangan lupa like vote dan komenn

__ADS_1


__ADS_2