Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
35


__ADS_3

Dion bangun dari tidurnya, mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Ia melirik ke arah jam dinding, sudah pukul 7 pagi.


Dion kesiangan, namun juga tak kunjung bangun karena Ia masih cuti hari ini. mengingat pertempuran semalam yang membuat Dion sedikit kelelahan.


Dion kembali memejamkan mata namun Ia masih bisa mendengar suara decakan Laras istrinya yang baru keluar dari kamar mandi dan melihatnya masih tidur.


Dion kembali bangun namun sudah pukul 9 pagi, Ia lihat dimeja sudah ada secangkir kopi yang mungkin sudah tidak hangat lagi.


Dion tersenyum menatap cangkir kopi buatan istrinya itu. Sejak mereka menikah- ralat sejak mereka tidur sekamar Laras tak pernah absen untuk membuatkan dirinya kopi dipagi hari.


Karena Laras bangun lebih awal darinya dan selalu menyiapkan semua keperluan dirinya yang akan bekerja.


Mungkin itulah yang membuat Dion dengan cepat bisa menaruh hati pada Laras. Selain cantik dan bisa merebut hati Zahra, Laras juga pandai melayaninya.


Tak disangka sifat Laras berbeda jauh dengan Naya yang mungkin lebih manja.


Jika Naya dulu lebih sering meminta tolong bik Inah untuk melayani kebutuhan nya namun Dion juga tidak mempermasalahkan itu semua.


Dan satu lagi yang membuat Dion tersenyum ketika mengingat dirinya orang pertama yang menjamah tubuh Laras. Ya Laras masih perawan. Tak terduga memang karena selama ini Dion menganggap Laras sudah tak perawan lagi seperti Naya istrinya terdahulu.


Meski begitu, jangan salahkan Dion jika menganggap Laras sudah tidak perawan karena chat dari Rama teman Laras sedikit aneh untuknya, seperti telah melakukan sesuatu yang salah.


Jadi sebenarnya apa yang mereka lakukan?


"Mas, malah bengong sih?" tanya Laras yang ternyata sudah masuk kamar tanpa Dion sadari.


"Mas nggak ngantor lagi?"


Dion menggeleng, "Cuti aku masih 3 hari,"


Laraa hanya berohh ria "Mandi sana mas."


"Mandiin maunya."


Laras memutar bola matanya malas "Malah nggak jadi mandi ntar."


Dion terkekeh, memang itu yang Dion inginkan.

__ADS_1


"Yaya minta jalan jalan ke taman, Mas buruan mandi. udah aku siapin sarapan juga dibawah." kata Laras.


"Mandiin dulu tapi." kata Dion membuat Laras melotot.


"Nggak usah aneh aneh mas, masih pagi ini." omel Laras.


"Malah asik dong, yukk cobain."


"Mas..."


Dion terkekeh, "Iya iya, duh bawel banget deh istriku ini."


Laraa menunduk malu, Dion mengucapkan kata istriku membuat jantungnya berdebar cepat.


Setelah mandi dan sarapan, Dion Laras dan Zahra berjalan keluar menuju taman terdekat dikomplek perumahan.


Meski sudah hampir jam 10, namun taman itu malah ramai. banyak anak anak bermain disana.


''Wah pengantin baru jalan jalan nih." ucap salah satu ibu ibu yang sedang berkumpul ditaman menjaga anak mereka yang sedang bermain.


"Mas Dion menang banyak ya, habis dapet mbaknya trus dapet adiknya."


Dion hanya tersenyum, sementara Laras mulai bersikap biasa. Laras memang sudah cukup mengenal orang orang komplek ini. terkadang mereka terlihat baik diluar namun ucapannya sepedas mulut netizen.


"Enakan yang mana nih mas Dion? mbaknya apa adiknya?" tanya Ibu ibu itu lagi membuat Laras sedikit kesal karena membandingkan dirinya dengan Naya.


Lagi lagi seperti itu batin Laras.


"Permisi, kami kesana dulu." kata Dion sopan.


Dion lantas mengandeng tangan Laras untuk menjauh dari sana. Ia bisa melihat dengan jelas wajah Laras yang berubah kesal karena pertanyaan frontal ibu ibu tadi.


"Orang orang sini memang kadang ngeselin deh mas." omel Laras setengah berbisik tak ingin didengar orang.


"Aku dibanding bandingin sama mbak Naya terus."


"Hsstt, udah nggak usah dipikirin. kalau kamu kesel mendingan ajak Yaya main ke tempat lain." kata Dion merangkul bahu Laras mencoba memberi ketenangan disana.

__ADS_1


"Mana bisa sih mas? lihat deh Yaya aja keliatan seneng banget main di sini. suka nggak tega kalau Yaya ngajak trus aku tolak." kata Laras menatap Zahra yang sedang bermain dengan teman temannya, terlihat sangat senang dan bahagia.


Dion mengangguk setuju, melihat putri kecilnya yang bermain begitu bahagia seolah tanpa beban.


"Berarti mulai sekarang nggak perlu dengerin omongan orang lain, yang ngejalanin kan kita. kamu nggak perlu minder atau merasa kesal lagi kalau dibandingin sama Naya lagi." kata Dion yang hanya diangguki oleh Laras.


Malam harinya, setelah pergulatan panas, Laras masih belum bisa tidur. Ia membola balikan badannya, mencari kenyamanan agar bisa segera tidur. Tanpa disadari semua gerakan nya membuat Dion yang baru saja terpejam menjadi terganggu dan bangun lagi.


"Kenapa? mau nambah lagi?" tanya Dion membuat Laras menatap ke arah Dion kesal. Bisa bisanya Dion mengajak lagi setelah minta tambah 3kali padanya.


Dion tertawa dengan mata masih mengantuk membuat Laras sedikit merass bersalah karena membuat Dion bangun.


"Mas tidur lagi aja." ucap Laras.


Dion menyamping hingga kini mereka berhadapan, saling memadang satu sama lain.


Namun buru buru Laras menunduk karena malu membuat Dion terkekeh.


"Ada yang mau kamu tanyain?" tanya Dion melihat keraguan diwajah Laras. seolah ingin bertanya namun takut.


Laras hanya menggeleng pelan,


"Tanya aja nggak apa apa. aku nggak akan marah apapun yang mau kamu tanyain."


"Bener mas nggak akan marah?"


"Iya sayang, nggak akan marah."


Medengar kata sayang membuat Laras semakin yakin ingin bertanya,


"Tanya apa?" Dion terlihat tak sabar.


"Emm, menurut mas enakan mana aku apa mbak Naya?"


Bersambung...


jangan lupa like vote dan komen....

__ADS_1


__ADS_2