
Radit melajukan mobilnya dengan perasaan gembira. bibirnya tak henti hentinya mengulas senyum mengingat apa yang baru saja terjadi.
Ya sebelum pulang Laras membiarkan Radit bertemu dengan Zahra bahkan Radit sempat memangku Zahra.
"Om temen nya Mama?" tanya Zahra dengan suara cempreng. Radit bukannya menjawab malah asyik memandangi wajah mengemaskan Zahra.
"Om ditanya kok nggak jawab sih?" tanya Zahra lagi dengan ekspresi cemberut dan tangan bersedekap membuat Radit lantas tertawa.
Karena kesal akhirnya Zahra turun dari pangkuan Radit, "Om nyebelin."
"Kamu mau jalan jalan sama Om?" tanya Radit yang langsung membuat mata Zahra berbinar.
"Nggak usah diajak keluar, di sini aja." protes Laras yang duduk didepan Radit dan Zahra.
Radit mengangguk paham,
"Mama Yaya ke atas lagi aja ya."
"Lho kenapa? masih ada om itu."
"Nggak mau ah, om nya nakal." kata Zahra membuat Radit semakin terkekeh. Radit heran, padahal Ia tak melakukan apapun tapi kenapa Zahra bisa sekesal itu padanya.
Tanpa menunggu persetujuan Laras, Zahra pergi meninggalkan ruang tamu.
"Sudahkan?" tanya Laras yang langsung membuat Radit mengerti.
Sebenarnya Radit masih ingin berada di sini, masih ingin melihat Zahra namun lebih baik kali ini dirinya mengalah dan sedikit bersabar.
Radit berdiri dari duduknya, "Terimakasih telah memberikan ku kesempatan untuk bertemu dengan Zahra meskipun hanya sebentar."
Laras mengangguk namun tak menatap Radit karena sejujurnya Laras tak tega melihat wajah Radit.
Setelah Radit keluar, Laras kembali duduk dan tubuhnya terasa lemas. Tak bisa membayangkan jika sampai Dion tahu mungkin akan marah besar padanya karena Dion terlihat membenci Radit. meski bagaimanapun, Radit tetaplah Papa kandung Zahra dan sudah berniat baik untuk bertanggung jawab meskipun terlambat, mungkin nanti perlahan Dion akan bisa menerima.
__ADS_1
Sementara itu Radit menghentikan mobilnya didepan rumah Mama nya. Hari ini Radit akan jujur pada Nita sang Mama tentang keberadaan Zahra.
Meski nanti Mamanya akan kecewa namun Mama nya juga berhak tau seperti Caca yang kini sudah tau kenyataan nya.
"Tumben kesini siang begini?" Nita heran melihat putranya datang di siang bolong tanpa Ia undang. Padahal biasanya Nita meminta Radit datang saja kadang Radit tak datang.
"Ada yang mau aku omongin sama mama." kata Radit langsung duduk disofa yang ada diruang keluarga.
"Waduh, serius banget nih kayaknya. jangan jangan..."
"Jangan jangan apa?"
"Kamu mau nikah sama pacar kamu yang kemarin itu ya, caca?" tebak sang Mama membuat Radit tersenyum.
"Itu salah satunya Ma."
Nita terlihat bersorak gembira, akhirnya apa yang Ia tunggu dan harapkan datang juga.
"Mama setuju banget, kapan kita lamar Caca?" tanya Nita tak sabaran.
"Ck, jangan ditunda tunda. harusnya cepat disegerakan. Niat baik harus segera dilaksanakan." omel Nita yang langsung membuat bola mata Radit berputar malas.
"Ada hal lain lagi yang lebih penting yang harus Mama tau." kata Radit membuat Nita mengerutkan keningnya heran.
"Masalah apa?"
"Maafin Radit ya Ma sebelumnya, karena Radit tidak bisa jadi anak baik malah jadi pria brengsek dan pengecut." ungkap Radit dengan wajah sendu membuat Nita semakin penasaran.
"Ada apa?"
"Ra-radit udah punya anak dari wanita lain bukan Caca." kata Radit terdengar takut.
Seketika ponsel yang sedari tadi Nita pegang jatuh ke lantai. Ia menatap putranya dengan tatapan tak percaya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa?" tanya Nita masih tak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar.
"Kejadian nya sudah 3 tahun Ma, Radit salah. Radit brengsek sudah menjadi pengecut tidak mau bertanggung jawab." akui Radit penuh penyesalan.
"Sekarang dimana wanita dan anak itu? kamu harus meninggalkan Caca dan menikahi wanita itu." kata Nita terdengar berat.
"Dia, sudah meninggal, hanya tinggal anak itu yang sekarang berumur 3tahun. Dia cantik Ma kayak Mama."
Nita kembali terkejut hingga tanpa sadar Ia meneteskan air matanya, tak menyangka jadi selama ini Ia sudah memiliki cucu. Cucu yang sangat Ia inginkan dan idamkan sejak dulu.
"Bagaimana bisa kamu melakukan ini Radit, gagal sudah Mama selama ini mendidik kamu." kata Nita sambil terisak membuat Radit semakin pilu.
"Kenapa nggak kamu katakan semua ini sejak dulu Radit, andai Mama tau sejak dulu..."
Nita benar benar tak menyangka, bagaimana bisa Radit melakukan semua ini. Lari dari tanggung jawab bahkan sampai wanita itu meninggal. benar benar membuat hati Nita hancur.
"Maafkan Radit Ma, waktu itu Papa minta Radit fokus dengan perusahaan dan Radit takut kalau sampai Papa tau Radit menghamili wanita, Radit takut Papa tidak memberikan perusahaan pada Radit." jelas Radit pada Nita yang semakin terisak.
"Semua salah Mama, semua salah Mama!" tangis Nita membuat Radit bersungkur di kaki Mama nya.
"Maafkan Radit Ma, Radit yang salah." Radit memeluk kedua kaki Nita sambil ikut terisak.
"Mama yang salah Radit, kalau saja waktu itu Mama nggak memaksa kamu bertahan diperusahaan Papa mungkin kamu nggak akan mengalami hal seperti ini. mungkin kamu bisa bertanggung jawab pada wanita itu." kata Nita masih terisak. Waktu itu Nita memang meminta Radit mengantikan posisi sang Papa diperusahaan karena Nita takut perusahaan akan diambil alih oleh Miko anak dari wanita simpanan suaminya itu. Nita takut Radit yang anak kandung suaminya malah tak mendapatkan apapun dari suaminya yang kini sudah meninggal itu.
Radit menggeleng, "Nggak Ma, Mama nggak salah. kalau saja waktu itu Radit nggak bertahan diperusahaan Papa mungkin sekarang perusahaan Papa sudah jatuh di tangan Miko. Kita nggak mau kan Ma semua itu terjadi karena itu hak kita Ma bukan hak anak dari ****** itu!."
"Tapi karena itu kamu malah menelantarkan Wanita itu dan anakmu sendiri Radit."
"Radit janji akan perbaiki semuanya Ma, Radit tau memang semuanya sudah terlambat tapi Radit akan berusaha bertanggung jawab dengan anak itu." kata Radit penuh keyakinan.
Nita mengangguk setuju, Ia seka air matanya "Sekarang, dimana anak itu? mama ingin bertemu."
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan komen...