Ibu Pengganti Untuk Zahra

Ibu Pengganti Untuk Zahra
80


__ADS_3

Dion yang baru saja keluar dari ruang meeting sudah ditunggu Reno di ruangan nya.


"Tuan, ada kabar buruk." kata Reno dengan wajah pucat takut.


"Kabar buruk apa?"


"Rumah kemalingan Tuan dan..."


"Brengsek! kita pulang sekarang!" Dion segera bergegas keluar di ikuti oleh Reno.


"Siapa yang menghubungimu?" tanya Dion saat mereka sudah berada didalam mobil.


"Saya tidak tahu nomer siapa itu Tuan, yang jelas suara seorang pria. mungkin tetangga Tuan." kata Reno menyerahkan ponsel Dion yang tadinya di titipkan pada Reno.


Dion mengecek ponselnya, melihat nomor baru yang masuk memang Ia tak kenal nomor siapa itu.


Dion kemudian mendial nomor Laras namun hingga 3x panggilan tak ada jawaban dari Laras, akhirnya Ia menghubungi nomor Bik Inah yang malah tidak aktif.


"Bagaimana keadaan orang rumah, apa yang meneleponmu mengatakan sesuatu?" tanya Dion mulai frustasi.


"Egh, kalau itu saya kurang tahu Tuan." jawab Reno.


"Ck, sebenarnya apa yang kau tahu itu!" Dion terdengar kesal.


"Ma-maafkan saya Tuan."


Sesampainya di depan rumah, Dion melihat banyak tetangga nya yang datang. Dengan jantung yang berdegup kencang, Dion melangkahkan kaki mendekati kerumunan para tetangga yang ada dirumahnya.


"Mas Dion." Pak Rt nampak menyalami tangan Dion.


"Sebenarnya ada apa pak? dimana istri saya?" Dion celinggukan mencari keberadaan Laras atauapun Zahra yang tak terlihat.


"Maaf mas Dion, kami terlambat menolong."


"Ada apa pak?" Dion mulai khawatir.


"Dik Zahra cedera cukup parah sehingga harus dibawa kerumah sakit sekarang dan Mbak Laras ikut bersama nya, sementara Bik Inah juga harus dibawa kerumah sakit karena pingsan saat kami datang." jelas Pak Rt membuat Tangan Dion mengepal.


"Dan dimana pencuri itu?"


"Ada 4 orang, sekarang sedang kami tahan di pos satpam sebelum polisi datang."


Dengan langkah cepat, Dion meninggalkan halaman rumahnya dan langsung berlari ke pos satpam di ikuti oleh Reno.


Disana Dion langsung menghampiri para pencuri yang kini tengah di ikat oleh warga. Sebenarnya alasan Dion kemari ingin menghajar pencuri itu namun melihat wajah mereka sudah babak belur malah membuat Dion heran.

__ADS_1


"Cici?" Dion menatap ke arah pencuri wanita yang Ia kenali, sedang menunduk menyembunyikan wajahnya yang juga babak belur.


"Mas Dion kenal?" tanya seorang satpam yang ada disana.


"Mantan pembantu saya."


"Semalem dua orang ini datang, katanya mau kerja cuma pas ditanya kerja di tempat siapa nggak mau ngaku, jadi saya nggak bolehin masuk. nggak nyangka mereka masih nekat dan masuk pas subuh tadi." jelas Satpam itu.


"Saya kemarin seharian mencari dia karena telah mencuri emas milik Bik Inah." kata Dion sambil menunjuk wajah Cici.


"Dan siapa sangka dia malah menyerahkan dirinya seperti ini." sinis Dion.


"Apa masih kurang kebaikan saya buat kamu? kerjaan kamu nggak becus saya nggak nuntut kamu apapun malah saya gaji full satu bulan dan sekarang ini balasan kamu?" bentak Dion pada Cici membuat Cici menangis.


"Sekarang saya pastikan kalian akan membusuk dipenjara." kata Dion lalu pergi meninggalkan pos satpam.


"Tuan Dion, ampun Tuan. jangan penjarakan saya." teriak Cici histeris yang sama sekali tak digubris oleh Dion.


"Kita kerumah sakit sekarang!" perintah Dion saat sudah berada didalam mobil bersama Reno.


Reno hanya mengangguk patuh, rasanya Ia tak sanggup menjawab apapun lagi karena Reno merasa apa yang terjadi sekarang karena kesalahan dirinya yang tak becus mencari babysitter untuk Zahra.


"Tuan, maafkan saya." kata Reno dengan suara pelan namun bisa didengar oleh Dion.


"Maaf kenapa?"


Dion menghela nafas panjang, "salahku juga, harusnya aku turuti saja ucapan Laras yang tak perlu memakai jasa babysitter. Aku hanya tak ingin Laras kelelahan namun semua malah seperti ini."


"Ya Allah Zahra, kenapa semua ini harus terjadi sama kamu." keluh Dion dengan suara serak seperti ingin menangis.


Sesampainya dirumah sakit, Dion berlari ke arah IGD dan seperti apa yang sudah ada dalam pikiran Dion jika Radit berada disana dan Radit lah yang menyelamatkan Dion.


Entah ini hanya kebetulan atau memang karena ikatan batin antara anak dan Papa namun Dion benar benar harus berterimakasih oada Radit karena selalu ada disaat Zahra membutuhkan pertolongan.


"Gimana keadaan Zahra?" tanya Dion saat dirinya sudah berada didepan Radit.


Baru ingin dijawab oleh Radit, pintu IGD terbuka dan seorang dokter keluar dari sana.


"Orangtua Zahra?"


Segera Radit dan Dion berlari mendekati dokter itu,


"Saya Papa nya." ucap keduanya membuat dokter itu bingung dan heran.


"Jadi, mana Papa yang asli?"

__ADS_1


"Saya." jawab keduanya lagi.


"Astaga, jangan bercanda " kesal Dokter itu.


"Saya Papa nya." kata Radit dan kali ini Dion hanya diam mengalah.


"Pasien mengalami gegar otak yang cukup serius karena benturan keras di kepalanya dan mungkin bisa menyebabkan memori ingatan pasien sebagian hilang." jelas Dokter itu yang langsung membuat Dion dan Radit lemas seketika.


"Dan pasien juga kehilangan banyak darah, butuh transfusi darah dari Papa kandung nya yang mungkin golongan darahnya sama."


"Saya dok, ambil-ambil darah saya sebanyak banyaknya untuk putri saya." kata Radit dengan suara serak tak kuasa menahan tangisnya.


"Baik, mari ikut saya biar dibantu oleh suster." kata Dokter itu yang langsung diangguki Radit.


"Baiknya Lo lihat keadaan istri Lo yang ada diruangan samping. dia kayaknya shock berat." kata Radit sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam lagi.


Dion berjalan ke ruang samping, mendengar ucapan dokter tentang Zahra membuatnya sangat lemas dan seolah tak sanggup berjalan lagi.


Apalagi sekarang, Dion melihat Laras yang berbaring diranjang dengan kedua tangan yang diperban serta ada infus yang menempel dipergelangan tangan nya.


"Pasien mengalami shock berat dan harus istirahat karena jika keadaan seperti ini akan berakibat buruk pada janin yang sedang dikandung." kata Dokter yang memeriksa Laras.


Dion berjalan mendekati ranjang Laras, Ia lihat Laras sedang berbaring dengan mata terbuka dengan tatapan kosong mengawang ke atas.


Seketika tangis Dion pecah melihat keadaan Laras, bahkan Laras yang hanya diam saja saat dirinya datang.


"Maaf, maafkan aku sayang... harusnya tadi aku dirumah, harusnya tadi aku ikuti kata hati aku buat nggak pergi ke kantor mungkin semuanya nggak akan seperti ini." kata Dion sambil menangis, mengenggam tangan Laras dan menciumi tangan Laras.


Laras yang akhirnya sadar jika ada Dion disampingnya pun menatap ke arah Dion yang menangis lalu dirinya pun ikut menangis.


"Aku disana, lihat perampok itu dengan kejamnya membanting tubuh Yaya ke lantai."


"Tapi-tapi aku nggak bisa nolongin Yaya...


"Aku lihat semuanya dan aku nggak bisa nolongin Yaya mas...


"Aku ibu yang jahat kan mas?"


Dion segera bangkit dan langsung memeluk erat tubuh Laras yang kini terisak sangat keras.


"Aku jahat mas, ibu yang jahat..."


Ucapan Laras tentu saja membuat Dion sangat terpukul.


"Kita kuat, kita pasti bisa melewati semua ini." bisik Dion ditelinga Laras.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


jangan lupa like vote dan komen...


__ADS_2