
Kini Zahra, Dion dan Laras tengah berbaring diranjang kamar Dion. Zahra tak henti hentinya mengelusi perut Laras yang masih rata sambil terheran heran, bagaimana bisa didalam perut ada adik bayi seperti apa yang Papa nya bilang.
Raut wajah Zahra yang heran terlihat lucu dan mengemaskan membuat Laras dan Dion tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa saat melihatnya.
"Yaya masih nggak percaya kalau di perut mama ada adiknya?" tanya Dion sambil mencubit pipi gemas Zahra.
Zahra mengangguk cepat, "Perut Mama kempes gini, adik bayi nya nggak muat."
Dion dan Laras tertawa bersamaan,
"Sekarang memang masih kempes sayang, tapi nanti lama lama jadi gede lho." jelas Laras dan Zahra langsung membulatkan matanya tak percaya.
"Beneran perut Mama bisa gede?"
"Iya dong, kan kayak Yaya yang dulu kecil sekarang udah gede, udah mau jadi kakak lagi." kata Dion membuat Zahra mengangguk mengerti.
"Terus kapan adik bayi nya keluar Ma?"
"Nunggu 9 bulan lagi sayang."
Zahra menghitung menggunakan jarinya, "Sembilan berarti begini ya ma?"
Dion terkekeh, "Itu lima sayang, 9 itu begini." Dion menaikan jari Yaya ditangan kiri hingga semuanya menjadi 9.
"Lama ya." Yaya terlihat kecewa.
"Yaya udah nggak sabar ya? sama Papa juga." keluh Dion. Kini giliran Laras yang menggelengkan kepalanya sambil tertawa.
"Udah nggak sabar main sama adik bayi." celoteh Zahra yang kini kembali mengelusi perut Laras.
"Besok kalau Papa kerja, Yaya sama Mama nggak boleh nakal ya? nggak boleh bikin Mama capek oke?" kata Dion yang langsung diangguki Zahra.
"Yaya nggak nakal kok pa."
"Nggak boleh rewel juga." kata Dion lagi.
"Kalau ngajak Mama ke taman buat main boleh nggak Pa?"
Dion langsung menggeleng tak setuju, "No sayang, nggak boleh dulu nanti Mama capek." balas Dion yang langsung membuat Zahra cemberut.
"Nggak apa apa mas, lagian kan deket juga." Laras ikut menimpali.
__ADS_1
"Ck, kamu lupa kalau disuruh bedrest sama dokter?"
Laras tersenyum, "Kan cuma sehari ini aja mas."
"Nggak bisa sayang, pokoknya kamu jangan kemana mana dulu sebelum janin nya bener bener kuat." jelas Dion membuat Laras kembali tersenyum.
Tersenyum bahagia melihat suaminya yang begitu perhatian dan khawatir padahal dirinya sudah tidak apa apa lagi.
"Ya udahlah, mulai besok Yaya nemenin Mama dikamar aja." kata Zahra yang akhirnya menyerah.
Dion langsung membawa Zahra ke pelukan nya dan menciumi Zahra, "Gini baru anak Papa."
Setelah cukup lama hening,
"Kok Om Radit nggak kesini ya Ma? padahal Yaya mau... eh." seketika Zahra menutup bibirnya tak melanjutkan ucapan nya.
"Kenapa nggak dilanjutin?" tanya Dion terlihat dingin sementara wajah Laras kembali khawatir.
"Kata Mama nggak boleh ngomong masalah om Radit sama Papa." jelas Zahra dengan polosnya.
Wajah Laras sudah merah padam, Ia merasa tertangkap basah mengajari Yaya yang tidak baik.
"Sekarang ngomong aja nggak apa apa." kata Dion masih terdengar dingin.
"Kalau kamu mau ngomongin om siapa itu didepan Papa nggak apa apa. Papa nggak marah." jelas Dion lagi.
"Om Radit Papa..." kata Zahra membenarkan.
"Ya itu lah pokoknya." balas Radit acuh dan nampak malas.
"Yaya suka sama om itu?" tanya Dion.
"Udahlah mas, nggak usah dibahas lagi." Laras mengingatkan.
"Kenapa?" Dion menatap Laras kesal membuat Laras akhirnya hanya menunduk.
"Yaya suka sama om itu?" tanya Dion sekali lagi pada Zahra.
"Uhm..." Zahra menatap Papa nya terlihat sangat takut.
"Kalau Papa nggak suka sama Om itu, Yaya juga nggak suka." balas Zahra dengan kepala menunduk.
__ADS_1
"Kenapa gitu?" heran Dion.
"Yaya nggak mau bikin Papa marah lagi, apalagi marah sama Mama." jawab Zahra yang seolah tahu apa permasalahan nya.
Dion tersenyum, "Sekarang Papa nggak bakal marah sama Mama lagi." kata Dion membuat Laras menatap ke arah Dion lega.
"Jadi Yaya boleh suka sama om itu?" tanya Zahra nampak sumringah namun tak mendapatkan respon dari Dion.
"Hoammm, Mama ngantuk nih, kita bobok aja yukk." ajak Laras pura pura menguap.
"Yahh, padahal Papa belum jawab." kata Zahra nampak kecewa.
Laras dan Dion pura pura memejamkan mata membuat Zahra mengerutu namun ikut memejamkan mata juga akhirnya.
Malam harinya, seusai makan malam Laras menemani Zahra hingga tertidur. setelah Zahra tidur Laras berjalan menuju kamar nya dimana Dion sudah menunggu nya disana.
"Kamu besok mulai kerja mas?" tanya Laras yang kini sudah berbaring disamping Dion yang masih asyik memainkan ponselnya.
"Hmm..."
Laras menghela nafas panjang, setelah kejadian siang tadi saat bersama Zahra, Dion jadi pendiam dan tampak acuh padanya.
Baru sedetik Laras memejamkan mata, Ia merasakan Dion bangun dan keluar kamar membuat Laras lagi lagi menghela nafas panjang.
Laras berusaha mengabaikan sikap Dion, Ia merasa mungkin Dion butuh waktu untuk memaafkan dirinya.
Laras kembali memejamkan mata, Belum sampai Ia terlelap, Laras merasakan pintu kamar terbuka dan Dion duduk disampingnya.
"Minum obat dulu." kata Dion saat Laras membuka mata dan melihat Dion membawa gelas berisi air putih serta obat yang sudah bergeletak dimeja samping ranjang.
Laras mengangguk, menuruti saja apa yang Dion perintahkan. Ia telan obat serta vitamin yang diberikan dokter.
"Tidur lagi." kata Dion selesai Laras minum obat. Dion bangkit membawa gelas lalu keluar kamar lagi.
Tanpa disadari Laras tersenyum, merasa senang dengan perhatian suaminya yang masih ada meskipun sedang marah padanya.
Laras kembali memejamkan mata, kali ini Ia merasakan Dion berbaring disampingnya, mengecup keningnya lalu membisikan suara di telinga nya "I love you."
Laras tersenyum namun tak membuka matanya,
"Mimpi yang indah." batin Laras lalu mulai terlelap.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like vote dan komen...